Novel

Chapter 1: The Public Slight

Bab 1 membuka langsung di dalam ruang direksi pesisir berlapis kaca dengan penghinaan konkret: Andika dianggap beban mati, dicemooh karena gagal menyuntikkan dana pribadi, dan dihadapkan pada voting pengusiran resmi. Rachmat memimpin serangan, Maya memberikan sinyal tersembunyi melalui laporan audit. Andika menahan diri dengan tenang, menanam petunjuk kompetensi melalui dokumen rahasia di sakunya tanpa mengungkapnya. Bab diakhiri dengan tawa ruangan yang mulai bercampur gugup, menyiapkan eskalasi dana dan klausul tersembunyi di bab berikutnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Ruang direksi lantai dua puluh gedung Wijaya Coastal Development terasa seperti kotak kaca raksasa yang mengapung di atas laut. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan ombak pelabuhan Tanjung Priok yang tenang di bawah sinar sore, tapi di dalam, udara dingin AC bercampur bau kopi mahal dan keringat tegang. Andika Pratama duduk di kursi paling ujung meja panjang, posisi yang sudah jelas menandakan statusnya: orang yang hanya diizinkan hadir, bukan yang diundang.

“Andika,” suara Rachmat Wijaya memecah keheningan, tajam dan santai sekaligus. “Kita sudah bosan menunggu kontribusi nyata darimu. Proyek ini butuh dana segar, bukan beban mati.”

Beberapa kepala mengangguk. Pak Hadi, kerabat jauh dari pihak ibu Rachmat, menyeringai kecil. “Benar. Keluarga kami sudah menyuntikkan miliaran. Kamu? Hanya nama di daftar hadir.”

Tawa pendek pecah di ujung meja. Suara itu menusuk tepat di tulang dada Andika, bukan karena keras, tapi karena semua orang di ruangan ini tahu: tawa itu berarti dia sudah kehilangan muka di depan keluarga dan mitra. Proyek redevelopment pesisir senilai ratusan miliar itu adalah warisan yang seharusnya dia jaga sebagai menantu sekaligus direktur teknis. Sekarang, kursinya terasa seperti bangku pesakitan.

Andika tetap diam sejenak, tangan kanannya tergeletak tenang di atas meja kayu mahoni. Ia tidak menunduk. “Saya mengerti kekhawatiran Bapak-bapak. Tapi keputusan besar sebaiknya berdasarkan catatan bank, bukan rumor keluarga.” Suaranya datar, terkendali, tanpa nada memohon.

Rachmat tersenyum miring, bersandar di kursi eksekutifnya. “Catatan bank? Baiklah. Maya, bacakan saja laporan terbaru.”

Maya Sari, sekretaris dewan yang duduk dua kursi dari Andika, membuka map kulit hitam. Jarinya sedikit gemetar saat membalik halaman, tapi suaranya tetap profesional. “Modal aktif proyek turun dua puluh tujuh persen dalam tiga bulan terakhir. Kontribusi pribadi Bapak Andika… tidak tercatat masuk sejak kuartal lalu.”

Ia melirik Andika sekilas—mata yang menyimpan sesuatu lebih dari sekadar angka. Rachmat langsung menyambar. “Lihat? Bahkan Maya yang netral pun mengakui. Kamu sudah tidak punya modal lagi, Andika. Keluarga Wijaya yang menyelamatkan proyek ini berkali-kali. Kamu hanya menghambat.”

Pak Hadi menimpali, suaranya penuh kepuasan. “Minggu lalu di rapat keluarga besar, kamu janji akan menyuntikkan dua puluh miliar dari aset pribadimu. Mana buktinya? Atau kamu sudah menghabiskannya untuk… apa, ya? Mobil baru?”

Gelak tawa yang lebih keras kali ini. Andika merasakan panas naik ke lehernya, tapi ia menahannya. Setiap tawa itu bukan sekadar suara—itu berarti mitra luar mulai ragu, kontraktor akan menunda pekerjaan, dan nama baiknya di kalangan pengusaha pantai akan tercoreng sebagai “menantu yang bangkrut”. Praktis, hari ini adalah awal dari pengusiran resmi dari meja kekuasaan keluarga.

Rachmat bangkit, berjalan pelan mengitari meja, sepatu kulitnya berderit pelan di marmer. “Kita tidak bisa terus membiarkan proyek ini terancam gara-gara satu orang yang tidak mampu berkontribusi. Hari ini kita akan voting untuk mengusir Andika Pratama dari dewan dan mengalihkan hak suaranya ke saya sebagai ketua sementara.”

Maya menutup map-nya dengan pelan. Matanya kembali ke Andika, kali ini lebih lama. Ada pesan di sana: jangan diam saja.

Andika menarik napas dalam, lalu berdiri perlahan. Tubuhnya tegap, jas abu-abu gelapnya rapi tanpa kerut. Ia tidak membalas dengan kata-kata kasar. “Sebelum voting ditutup dan tanda tangan dikunci,” katanya pelan tapi jelas, “ada satu hal yang mungkin Bapak-bapak lupakan.”

Rachmat tertawa sinis. “Apa? Janji kosong lagi?”

Andika tidak menjawab langsung. Tangan kirinya menyentuh saku dalam jasnya, merasakan lipatan kertas tipis yang sudah ia bawa selama berbulan-bulan. Kontrak rahasia tahun 2022, yang mencantumkan bahwa dana awal proyek—seratus lima puluh miliar—berasal dari rekening pribadinya melalui perusahaan cangkang di Singapura. Bukti transfer, nomor rekening, dan tanda tangan saksi yang belum pernah disebut. Dokumen itu belum ia keluarkan. Belum saatnya.

Di luar jendela kaca, ombak kecil menggulung pelan, seolah menunggu. Di dalam, tawa mulai mereda, digantikan keheningan penasaran yang tidak nyaman.

Rachmat menyipitkan mata. “Kamu masih berani berdiri di sini seolah punya kartu? Lucu sekali.” Ia mengetuk meja dengan buku jari. “Baik. Mari kita mulai pemungutan suara. Siapa yang setuju Andika dikeluarkan dari dewan hari ini?”

Tangan-tangan mulai terangkat. Satu, dua, tiga. Maya tidak mengangkat tangannya. Matanya masih tertuju pada Andika.

Andika tetap berdiri tegak, tatapannya lurus ke Rachmat. Jarinya masih di saku, menyentuh dokumen itu seperti menyentuh pelatuk yang belum ditarik. Suara tawa kecil kembali merebak dari ujung meja, tapi kali ini ada nada gugup di dalamnya—seolah ruangan mulai merasakan bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi.

Saat suara tawa memenuhi ruang direksi berlapis kaca, Andika menatap Rachmat dengan tenang sambil menyentuh dokumen di saku jasnya—sebuah petunjuk kecil yang belum siapa pun tahu.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced