Novel

Chapter 5: Chapter 5

Bab 5: Di ruang direksi lantai 20 yang menghadap pelabuhan Tanjung Priok, Rachmat mencoba memeras Maya Sari dengan ancaman masa lalunya agar menarik dukungan audit. Andika membalikkan situasi dengan memutar rekaman ancaman Rachmat, membuat tekanan beralih ke musuhnya. Rachmat melibatkan keluarga Wijaya besar via speakerphone, tapi Andika mengingatkan klausul pasal tujuh dan mengeluarkan dokumen bukti aliran dana 150 miliar. Maya memperkuat dengan ringkasan auditnya, membuat voting pemotongan dana 40 persen terancam gagal dan status Andika naik di mata dewan. Di koridor kaca, Rachmat mencoba ancaman terakhir terhadap Maya, tapi Andika muncul lagi dengan rekaman yang lebih lengkap, membalikkan leverage pribadi dan menyiapkan rapat darurat malam yang akan mengungkap sumber modal sebenarnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Sinar sore yang menyusup melalui dinding kaca ruang direksi lantai 20 Gedung Wijaya Coastal Development masih memantulkan keramaian pelabuhan Tanjung Priok di bawah sana. Tapi di dalam ruangan ber-AC itu, udara terasa lebih berat daripada asap kapal barang yang mengepul di luar. Rachmat Wijaya berdiri di ujung meja, suaranya rendah tapi menusuk saat ia menatap Maya Sari yang duduk kaku di kursinya.

"Maya, jangan bodoh," katanya pelan, hampir seperti bisikan rahasia. "Aku tahu kesalahan kecilmu tahun lalu. Satu panggilan saja, audit yang kau tolak tadi bisa berubah jadi neraka buat kariermu. Tarik dukunganmu sekarang, atau besok pagi kamu yang akan kehilangan segalanya, bukan Andika."

Beberapa anggota dewan menoleh, wajah mereka campur antara ingin tahu dan takut terseret. Maya menelan ludah, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga memutih. Ia mengangkat dagu, suaranya tetap tegas meski sedikit bergetar. "Ancamanmu tidak akan mengubah fakta, Rachmat. Kebenaran audit tetap ada."

Andika Pratama berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat di dada, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia tidak bergerak cepat. Hanya mengeluarkan ponsel dari saku jas hitamnya, menekan tombol play tanpa kata. Suara Rachmat sendiri memenuhi ruangan—nada kasar, ancaman yang sama persis, kata demi kata yang baru saja diucapkannya kepada Maya.

Wajah Rachmat memucat seketika. Darah seolah surut dari pipinya. Suara rekaman itu terus berputar, jelas dan tak terbantahkan. Beberapa direktur saling pandang, bisik-bisik mulai terdengar. Tekanan yang tadinya menindih Maya kini berbalik menekan dada Rachmat sendiri.

"Ini... ini rekaman palsu," gumam Rachmat, tapi suaranya pecah.

Andika mematikan rekaman itu dengan satu ketukan jari. "Bukan palsu. Dan ini baru bagian pendeknya."

Ruangan hening sejenak. Maya mengembuskan napas pelan, tatapannya bertemu mata Andika sekilas—kode yang sama seperti sebelumnya, dukungan diam-diam yang kini terasa lebih kuat. Voting pemotongan dana empat puluh persen yang diusulkan Rachmat terancam batal. Beberapa tangan yang tadinya siap terangkat kini ragu.

Rachmat tidak menyerah. Ia meraih telepon konferensi di tengah meja dan menekan nomor cepat. Speakerphone menyala. Suara dua orang dari keluarga Wijaya besar terdengar—paman dan seorang investor luar yang namanya saja sudah membuat ruangan tegang.

"Ini Rachmat. Andika lagi main api. Dia klaim modal awal seratus lima puluh miliar, tapi dia cuma beban. Kita potong saja dananya empat puluh persen, atau proyek ini akan hancur di tangannya," katanya cepat, suaranya berusaha kembali percaya diri.

Suara di seberang speaker terdengar dingin. "Andika? Yang selalu kita anggap penyandang dana gagal itu?"

Andika tersenyum tipis lagi. Ia melangkah mendekat ke meja, suaranya tenang tapi tajam. "Pasal tujuh Kontrak Rahasia 2022 sudah aktif sejak aku ungkap tadi. Semua alokasi dana terikat pada penyandang modal awal. Pemotongan itu akan melanggar kontrak dan memicu klausul penalti. Kalian mau audit eksternal membongkar semuanya?"

Speakerphone mendadak sunyi. Suara paman Wijaya yang tadinya angkuh kini terdengar ragu. "Kita... kita bahas ini di rapat darurat malam ini. Jangan ambil keputusan apa pun dulu."

Telepon dimatikan. Rachmat berdiri sendirian di tengah ruangan, kendali yang ia pegang tadi kini retak. Maya menatap Andika dengan sorot mata yang berbeda—bukan sekadar sekutu, tapi pengakuan atas kendali yang ia tunjukkan.

Dewan mulai gelisah. Bisik-bisik tentang dana seratus lima puluh miliar dan hak veto semakin keras. Andika tidak banyak bicara. Ia hanya menarik dokumen kedua dari saku jasnya, meletakkannya di meja kaca dengan gerakan lambat yang disengaja.

"Ini bukti aliran dana asli," katanya pelan. "Bukan dari keluarga Wijaya, tapi dari rekening pribadiku melalui PT Nusantara Capital."

Maya berdiri, suaranya jelas dan profesional. "Saya sudah verifikasi audit internal ini. Angka-angkanya cocok. Jika pemotongan empat puluh persen tetap dipaksakan, proyek redevelopment pesisir ini berisiko kolaps dan memicu tuntutan hukum yang lebih besar."

Beberapa direktur mengangguk pelan. Ejekan yang biasa mereka lontarkan ke arah Andika kini lenyap, berganti tatapan perhitungan baru. Rachmat mencoba menyela lagi, "Ini pemalsuan!" tapi suaranya tenggelam dalam gumaman yang kini condong ke arah Andika.

Suasana ruangan berubah. Tekanan yang tadinya menindih Andika kini bergeser. Statusnya di mata dewan naik—bukan lagi beban, tapi kekuatan yang harus diperhitungkan. Tapi Rachmat tidak diam. Saat rapat sore hampir ditutup dan voting pemotongan dana terancam gagal total, ia melangkah keluar ruangan lebih dulu.

Di koridor kaca yang mengarah ke lift, Rachmat menyudut Maya yang berjalan di belakang. Cahaya sore memantul di dinding transparan, membuat bayangan mereka terlihat panjang dan tajam.

"Kau masih bisa selamat," bisik Rachmat, suaranya rendah dan berbahaya. "Di rapat malam nanti, balik melawan Andika. Aku punya bukti rahasia pribadimu yang bisa menghancurkanmu. Jangan paksa aku menggunakannya."

Maya berhenti, wajahnya tetap dingin. "Kau semakin putus asa, Rachmat. Ancamanmu hanya menunjukkan kau sudah kehilangan kendali."

Rachmat melangkah lebih dekat, napasnya panas. "Kau akan jatuh bersamanya kalau tidak—"

Langkah pelan terdengar dari balik sudut koridor. Andika muncul, ponsel di tangannya masih menyala. Ia memutar bagian rekaman yang lebih panjang—ancaman Rachmat yang utuh, kata demi kata, nada suara yang penuh keputusasaan.

Rachmat membeku. Wajahnya pucat total. Maya tersenyum kecil, bahu yang tadinya tegang kini rileks.

Andika mematikan rekaman itu. Suaranya tetap tenang, tapi ada kekuatan baru di baliknya. "Rapat darurat malam ini akan mengungkap lebih banyak lagi. Termasuk sumber modal sebenarnya. Dan kali ini, tidak ada yang bisa disembunyikan."

Rachmat tidak menjawab. Ia hanya menatap Andika dengan mata yang dipenuhi amarah dan ketakutan bercampur. Maya melirik Andika sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang mengandung harapan sekaligus kekhawatiran akan apa yang akan terbuka nanti.

Koridor kaca itu terasa lebih sempit. Di luar, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang di pelabuhan Tanjung Priok. Malam ini, meja kekuasaan akan digoyang lagi—lebih keras, lebih dalam, dan kali ini tidak ada jalan mundur.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced