Novel

Chapter 9: Pilihan di Persimpangan Jalan

Kael mengonfirmasi keterlibatan Jace dalam peristiwa masa lalu dan memutuskan untuk menyimpan bukti sabotase sebagai senjata pamungkas di duel final. Elara mencoba memohon agar bukti tersebut dihapus karena posisinya yang terancam, namun Kael tetap teguh. Kael memodifikasi Frame 09 dengan risiko ledakan termal, menyiapkan panggung untuk konfrontasi terakhir melawan Vane.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pilihan di Persimpangan Jalan

Bau ozon dan logam terbakar menyengat tajam di bengkel bawah tanah Jace. Kael meletakkan chip data itu di atas meja kerja, tepat di samping buku catatan ayahnya yang bersampul kulit retak. Chip itu bukan sekadar plastik dan sirkuit; itu adalah bukti bahwa Sektor-7 tidak hancur karena kecelakaan, melainkan diputus dayanya secara sengaja oleh Akademi demi efisiensi peringkat.

"Ini bukan kesalahan teknis, Jace," suara Kael dingin, nyaris tak terdengar di balik dengung kipas pendingin Frame 09. "Mereka membunuh ayahku untuk menjaga statistik mereka tetap bersih."

Jace berhenti menyambung kabel aktuator. Pria tua itu menatap chip tersebut dengan tatapan yang menyimpan beban puluhan tahun. "Aku tahu. Aku ada di sana saat itu terjadi. Vane memaksaku bungkam dengan ancaman pencabutan lisensi. Aku pengecut yang memilih bertahan hidup daripada mencari kebenaran."

Kael tertegun. Pengkhianatan ini bukan sekadar kebijakan, melainkan luka lama yang sengaja dibiarkan membusuk. "Kau membiarkannya?"

"Aku menunggu seseorang yang cukup nekat untuk tidak peduli pada konsekuensinya," sahut Jace, menunjuk layar monitor yang menampilkan enkripsi data tersebut. "Jika kau mengunggah ini sekarang, Vane akan menghapus jejakmu sebelum data itu terbaca publik. Kau butuh panggung yang lebih besar—duel final—untuk memastikan seluruh akademi melihat kebenaran ini secara langsung."

Kael menyimpan kembali chip itu ke saku seragamnya. Ia memilih untuk menjadikannya senjata pamungkas, bukan peluru yang bisa diredam sebelum mencapai target. Namun, ketenangan itu buyar saat ia melintasi koridor menuju hanggar. Elara mencegatnya, wajahnya pucat pasi.

"Hapus data itu, Kael," bisik Elara, tangannya gemetar meraih lengan seragam Kael. "Jika Vane tahu aku menggunakan aktuator curian untuk mempertahankan peringkatku, keluargaku akan dicoret. Kamu memakai sisa-sisa kehancuran keluargamu sebagai pijakan, tapi Vane... dia sudah memasang perangkat pelacak di Frame 09. Dia ingin kamu hancur di arena."

Kael menghempaskan tangan Elara. "Aku tidak mencari peringkat, Elara. Aku mencari keadilan."

Kael kembali ke hanggar dengan kesadaran baru: duel nanti adalah jebakan maut. Ia segera memasang modul enkripsi militer kuno—peninggalan ayahnya—ke dalam sistem Frame 09.

"Jika kau memasang itu sekarang, sistem pendingin tidak akan kuat menahan lonjakan arusnya," peringatan Jace terdengar dari balik bayang-bayang.

"Sistem pendingin tidak perlu bertahan selamanya, Jace. Ia hanya perlu bertahan cukup lama untuk satu manuver terakhir," balas Kael. Ia mengubah sistem darurat itu menjadi bom waktu termal. Jika ia tidak presisi, Frame 09 akan meledak dan menghancurkannya sendiri.

Di ambang gerbang Arena Utama, Instruktur Vane berdiri dengan senyum tipis yang mematikan. "Jika kau kalah di arena ini, aku pastikan pengadilan militer akan menyeretmu atas tuduhan sabotase ilegal."

Kael menatap tuas kontrol Frame 09. Ia kini membawa dua beban: bukti yang bisa meruntuhkan Akademi, dan bom waktu yang bisa membunuhnya. Ia harus memilih: mengungkap kebenaran sekarang dan kehilangan mech-nya, atau menunggu duel final dimulai dan mengambil risiko ledakan terkendali yang bisa mengubah segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced