Goresan di Peringkat Terbawah
Sensor termal di Stadion Uji Coba Sektor-7 menjerit, memecah kesunyian hangar yang dingin. Di dalam kokpit Frame 09, Kael merasakan punggungnya basah oleh keringat dingin. Sistem pendingin yang ia modifikasi dengan chip enkripsi militer peninggalan ayahnya bekerja terlalu efisien—terlalu sempurna untuk ukuran mech rongsokan kelas bawah. Angka fluktuasi panas di layar monitornya tampak tidak masuk akal, menciptakan pola gelombang yang bisa memicu alarm deteksi otomatis akademi setiap saat.
"Kael, segera stabilkan output inti atau aku akan menghentikan simulasi ini sekarang juga!" suara Penguji Akademi menggema melalui interkom, tajam dan penuh curiga. Pria itu berdiri di anjungan observasi, menatap layar diagnostik dengan mata yang menyipit.
Kael tidak punya waktu. Jika audit ini gagal, utang keluarga akan disita dalam hitungan jam. Dengan gerakan cepat, ia menarik tuas katup hidrolik secara manual. Ia sengaja memicu kebocoran kecil pada selang tekanan sekunder. Cairan pendingin biru menyembur di dalam kompartemen mesin, menciptakan kabut uap yang menutupi lonjakan suhu yang tidak wajar tersebut. Sensor akademi seketika merespons, menurunkan pembacaan efisiensi ke tingkat 'normal' yang diharapkan untuk mech kelas bawah.
"Maaf, Pak! Ada kebocoran pada pipa hidrolik tua. Tekanan mesin sempat melonjak karena sumbatan udara," seru Kael, suaranya diatur agar terdengar panik namun terkontrol. Ia berhasil lolos, namun harga dari kemenangan itu segera menagih.
Bau ozon dan oli terbakar masih melekat di pakaian Kael saat ia menyeret kakinya masuk ke bengkel bawah tanah Jace. Di balik punggungnya, pintu logam berderit menutup, memutus kebisingan Stadion Sektor-7. Kael segera merangkak di bawah Frame 09. Sendi bahu mech itu mengeluarkan suara mendecit—logam yang bergesekan dengan logam. Saat ia membuka panel akses, ia melihatnya: retakan mikro yang menjalar dari aktuator utama. Modifikasi ilegal yang ia pasang untuk meningkatkan efisiensi pendinginan ternyata memberikan tekanan berlebih pada rangka kuno itu.
"Terlalu panas, Kael," suara serak Jace memecah keheningan bengkel. Pria tua itu berdiri di bayang-bayang. "Kau memacu inti tenaga itu melampaui batas desain aslinya. Jika kau tidak mengganti logam pemulih di bahu itu, rangka ini akan patah saat kau melakukan manuver tajam berikutnya."
Kael mengabaikan rasa perih di tangannya. "Aku harus bertanding di babak kualifikasi sore ini. Tanpa peringkat yang lebih tinggi, utang keluarga akan disita besok pagi."
Jace menyorotkan lampu ke arah komponen enkripsi militer yang terpasang di sistem pendingin. "Kau tahu apa yang kau gunakan, bukan? Ini bukan sekadar barang loak. Ini bagian dari Protokol Hantu yang dulu digunakan ayahmu. Jika mereka tahu ini ada di mech-mu, mereka tidak akan menyita mech itu—mereka akan menghapusmu dari daftar pilot."
Kael menambal logam itu dengan sisa tabungan terakhirnya, namun ia sadar, ia tidak lagi sendirian di labirin akademi ini. Kembali ke lobi utama, layar hologram memancarkan cahaya biru dingin, menampilkan namanya di posisi buncit dengan catatan utang yang terus berkedip merah. Baru saja ia keluar dari kokpit simulator, sebuah bayangan jangkung memotong langkahnya. Elara berdiri di sana, seragam elitnya tampak kontras dengan mech rongsokan Kael.
"Masih berani muncul, Kael? Simulasi tadi adalah penghinaan bagi pilot berlisensi," desis Elara, suaranya tenang namun tajam seperti silet.
Kael menyeka keringat di dahinya, seringai tipis terukir di bibirnya. "Setidaknya aku masih bisa berdiri, Elara. Tidak semua orang terlahir dengan sponsor yang membiayai setiap baut di mech mereka."
Elara melangkah maju, memangkas jarak hingga aroma parfum mahal menusuk indra Kael. Tatapan wanita itu turun, terkunci pada sendi bahu mech Kael yang bergetar aneh. "Dewan disiplin akan tertarik melihat modifikasi ilegal ini. Kamu tidak akan bisa bersembunyi selamanya."
Elara membungkuk, matanya menyipit, menatap lekat-lekat pada sirkuit modifikasi Kael yang tidak seharusnya ada di mech kelas bawah. Kael tidak mundur. Ia justru menyandarkan punggung pada rangka dingin mech-nya, melipat tangan di dada dengan seringai tipis yang memicu gurat kemarahan di dahi Elara.
Lampu stadion Sektor-7 berkedip, memantulkan cahaya putih dingin pada bodi logam Frame 09. Di kejauhan, Elara mengetukkan jarinya ke layar, mengirimkan sebuah paket data yang memotong transmisi publik stadion. Ping. Sebuah notifikasi merah menyala di dasbor Kael: 'Public Ranking Challenge – Target: Kael. Accept/Decline.'
Suasana stadion mendadak senyap. Tantangan duel dari pilot elit terhadap pilot peringkat rendah adalah bentuk penghinaan publik yang legal. Jika Kael menolak, sistem akademi akan menganggapnya tidak layak mempertahankan posisinya, dan mech-nya akan disita saat itu juga. Kael menatap tantangan itu, lalu menatap Elara yang menunggunya dengan angkuh. Ia menekan tombol 'Terima'. Papan peringkat diperbarui, dan Kael kini resmi menjadi penantang dalam duel yang akan menentukan nasibnya.