Utang Berkarat di Bawah Lampu Neon
Layar retak di dinding bengkel Sektor-7 berkedip merah, memancarkan cahaya yang membuat bayangan tumpukan suku cadang terlihat seperti monster. Angka di sana—23:59:58—terus meluruh. Kael mengabaikan perih di jemarinya yang berlumuran oli sintetik. Ia memutar kunci pas pada katup pendingin mesin yang berkarat, mengabaikan panas yang menyengat dari inti tenaga Frame 09 miliknya.
Jika mesin ini tidak menyala dan lulus uji kelayakan pagi ini, utang keluarga yang diwariskan ayahnya akan resmi menjadi alasan baginya untuk dibuang dari akademi. Kael menarik panel rahasia di balik rangka kaki mech. Di sana, terselip buku catatan bersampul kulit kusam dan sebuah chip data dengan enkripsi militer kuno. Sesuai catatan itu, ada teknik pintasan untuk memompa tekanan inti tenaga tanpa meledakkan tangki pendingin—metode terlarang yang dianggap bunuh diri oleh standar akademi.
Bau ozon dan oli bekas menyengat tajam. Kael fokus pada kabel tembaga yang menghubungkan artefak kuno itu ke sistem pendingin.
“Kael, hentikan,” suara serak Jace membelah keheningan. Pria tua itu meludah ke lantai, matanya yang lelah menatap sirkuit pendingin yang mulai berasap. “Komponen itu bukan untuk mesin rongsokan. Itu teknologi era Perang Konsolidasi. Kalau inti tenaganya tidak meledak, sistem akademi akan melacak enkripsinya dalam hitungan menit.”
Kael tidak menjawab. Ia menekan komponen tersebut hingga terkunci. Percikan listrik biru menyambar-nyambar di sepanjang sasis. Kabel-kabel di dalam mech membara, memancarkan bau plastik terbakar. Mesin pendingin itu meraung, bergetar hebat seolah menolak integrasi paksa tersebut. Namun, saat getaran mereda, dengungan mesin berubah—lebih dalam, lebih stabil, dan penuh tenaga. Alarm utang berbunyi lebih keras, menuntut pembayaran instan yang tidak mungkin ia penuhi tanpa kemenangan di arena.
Kael membawa Frame 09 ke Stadion Audit Sektor-7. Lampu neon stadion berkedip ritmis, melemparkan bayangan biru pucat ke lempeng baja yang kusam. Di depannya, Pengawas Akademi mengetuk papan klip digital dengan tidak sabar. Di belakang Kael, antrean pilot-pilot elit mulai berbisik, menatap unit mech Kael dengan tatapan merendahkan.
“Unit 404, Kael,” Pengawas itu mendengus. “Sistem pendinginmu berbunyi seperti mesin penggiling kopi. Kau yakin ini tidak akan meledak?”
Kael merasakan getaran halus dari inti tenaga di balik dadanya—modifikasi ilegal yang ia pasang semalam. Jantungnya berpacu seirama dengan detak mesin yang kini terasa lebih presisi. “Sistem pendingin sudah dikalibrasi ulang, Pak. Efisiensi termal naik dua puluh persen di atas standar minimum.”
“Dua puluh persen?” Pengawas itu tertawa kecil. “Data di layar menunjukkan kau hampir tidak memenuhi syarat. Jika dalam satu putaran tes stabilitas kau gagal, utangmu akan diserahkan ke kolektor distrik.”
Kael mengangguk, bersiap masuk ke arena. Tiba-tiba, sesosok bayangan melangkah maju dari kerumunan elit. Elara. Ia mendekat, matanya menatap tajam pada modifikasi di sambungan bahu mech Kael—sebuah detail yang tidak seharusnya ada pada mech kelas bawah.