Novel

Chapter 11: Ancaman dari Balik Layar

Aris mendeteksi serangan siber internal yang melumpuhkan sistem Sagara Group. Ia menyadari bahwa Bram hanyalah pion, dan dalang sebenarnya adalah mentornya sendiri yang menggunakan entitas 'Aurum Capital' untuk menguras aset perusahaan. Aris mengamankan bukti fisik dari Ledger 42 di kantor pelabuhan dan menerima peringatan langsung dari sang mentor, yang menegaskan bahwa perang yang ia hadapi kini telah meluas ke level yang lebih berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ancaman dari Balik Layar

Layar monitor di ruang pimpinan Sagara Group mendadak padam. Bukan karena pemadaman listrik, melainkan kill-switch yang disuntikkan secara presisi ke dalam inti sistem. Aris tidak memukul meja. Ia hanya menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca hitam yang kini mati. Di sampingnya, Sita ternganga, jemarinya membeku di atas papan ketik.

"Sistem dilumpuhkan dari dalam, Aris. Seseorang menggunakan kredensial tingkat tinggi—kredensial yang hanya dimiliki oleh pemilik saham utama," suara Sita bergetar, nyaris tak terdengar di tengah keheningan ruang rapat yang mencekam. "Data Sagara-12 sedang disedot keluar. Mereka tidak hanya meretas, mereka menghapus jejak audit kita secara permanen."

Aris tidak menjawab. Ia tahu ini bukan ulah Bram. Bram hanyalah pion yang rakus; ia tidak memiliki kecerdasan teknis untuk menembus firewall yang telah Aris perkuat sejak sore tadi. Ini adalah serangan bedah yang dilakukan oleh seseorang yang memahami setiap seluk-beluk arsitektur sistem Sagara Group. Tanpa ragu, Aris melangkah menuju panel kontrol fisik di balik dinding kayu ek dan menarik tuas pemutus daya darurat. Suara dengung mesin pendingin server di lantai bawah perlahan meredup, menyisakan kesunyian yang menekan.

"Apa yang kamu lakukan? Kita kehilangan akses ke data mosi tidak percaya besok pagi!" seru Sita.

"Kita tidak butuh server jika mereka sudah menginfeksinya," jawab Aris tenang. "Kita butuh bukti fisik. Kita ke pelabuhan sekarang."

Bau apak dari kertas yang dimakan usia menyambut mereka begitu tiba di ruang arsip pelabuhan. Di luar, lampu dermaga selatan berkedip redup, menciptakan bayangan panjang yang seolah menelan sisa-sisa kejayaan Sagara. Aris langsung menuju rak besi berkarat, menarik keluar Ledger 42. Tangannya membalik halaman-halaman tebal itu dengan presisi seorang dokter bedah.

"Ini dia," bisik Aris. Matanya terpaku pada deretan angka yang ditulis dengan tinta hitam pekat. Di sana, tertulis jelas bahwa hak kelola dermaga utara telah dialihkan sebagai jaminan pinjaman kepada entitas bernama Aurum Capital. Aris tertegun. Ia mengenali nama itu—bukan sebagai perusahaan asing, melainkan entitas yang dulu sering disebut oleh sang mentor dalam diskusi makan malam mereka tentang 'strategi diversifikasi'.

"Bukan Bram," gumam Aris. Suara itu terasa dingin, membeku di tenggorokannya. Mentornya. Arsitek di balik semua ini.

Saat Aris memotret halaman kunci ledger dengan ponsel, suara langkah kaki terdengar mendekat di koridor gelap. Ia segera menarik Sita keluar melalui pintu samping sebelum sosok bayangan muncul di ujung lorong. Di dalam kabin mobil yang senyap di pinggir dermaga, ponsel Aris bergetar. Sebuah nomor pribadi yang sudah terkubur selama lima tahun tiba-tiba aktif. Aris menekan tombol terima.

Wajah pria yang dulu ia panggil 'Mentor' muncul di layar, sedang menyesap teh dengan tenang. "Aris, kau bermain terlalu jauh," suara pria itu terdengar rendah, nyaris seperti bisikan seorang ayah yang menegur anaknya. "Bram hanyalah pion kecil. Jika kau terus menggali proyek Sagara-12, kau tidak akan menemukan harta karun, melainkan kuburanmu sendiri."

Aris memutar ponselnya, menunjukkan layar laptop yang menampilkan salinan ledger nomor 42. "Saya tidak sedang mencari harta, Pak. Dan saya rasa data ini cukup untuk membatalkan semua kontrak kerjasama yang Anda jalin dengan Sagara Group atas nama proyek fiktif tersebut."

Mentornya tertawa pelan, sebuah suara yang penuh dengan penghinaan terukur. "Kau pikir kepemilikan kursi direksi memberimu perlindungan? Sagara Group hanyalah cangkang yang sedang menunggu untuk diruntuhkan. Kau masih terlalu hijau, Aris."

Panggilan terputus. Aris meletakkan ponselnya di kursi penumpang. Ia kembali ke ruang pimpinan yang sepi, duduk di kursi direksi sambil menatap pelabuhan malam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa mentornya adalah arsitek utama di balik semua kekacauan ini. Aris menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota di jendela. Besok pagi, saat matahari terbit, ia tidak hanya akan berhadapan dengan sisa-sisa loyalis Bram, tetapi ia akan memulai perang kelas yang sesungguhnya melawan orang yang telah mengajarinya segala hal tentang kekuasaan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced