Novel

Chapter 12: Tahta yang Sesungguhnya

Aris berhasil menggulingkan mentornya, Pak Surya, dalam rapat dewan direksi dengan menggunakan bukti fisik dari Ledger 42 yang mengungkap skandal penggelapan dana melalui Aurum Capital. Setelah mengamankan posisi direksi dan memulihkan sistem perusahaan, Aris menyadari bahwa musuh sebenarnya telah melarikan diri ke luar sistem dan bersiap untuk serangan yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tahta yang Sesungguhnya

Bau apak kertas tua dan garam laut yang pekat memenuhi kantor pelabuhan. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip tidak stabil, Aris menekan jemarinya pada sampul kulit Ledger 42. Catatan transaksi manual ini bukan sekadar arsip; ini adalah bukti berdenyut yang mampu meruntuhkan reputasi mentornya, Pak Surya. Di layar laptop di depannya, deretan angka sistem Sagara Group berkedip merah—serangan siber terstruktur sedang menghapus jejak digital Aurum Capital secara paksa.

"Sita, kunci enkripsinya sekarang," perintah Aris, suaranya dingin, memotong kebisingan kipas angin yang berputar lemah. "Jika mereka berhasil memformat server utama sebelum rapat dewan dimulai, bukti fisik ini akan dianggap spekulasi sampah."

Sita melemparkan flash drive ke atas meja, napasnya memburu. "Sistem keamanan kita dikompromi dari dalam, Aris. Seseorang dengan otoritas pemilik saham telah memberikan akses root kepada penyusup. Ini bukan serangan luar. Ini adalah pembersihan internal yang dilakukan mentor atas nama 'efisiensi'."

Aris tidak menoleh. Matanya terpaku pada perbandingan antara angka pengiriman dermaga utara di Ledger 42 dan laporan keuangan digital yang kini mulai melenyap. Ketimpangan delapan puluh miliar rupiah bukan sekadar kesalahan akuntansi; itu adalah lubang hitam yang digunakan Pak Surya untuk menyedot likuiditas Sagara Group ke entitas cangkang. Aris tidak lagi bermain bertahan. Ia mematikan koneksi internet, memutus akses peretas, dan memutuskan untuk memicu audit eksternal paksa menggunakan bukti fisik ini. Perang digital sudah kalah, namun perang di ruang rapat baru saja dimulai.

Pintu mahoni ruang rapat Sagara Group terbuka lebar pagi itu. Pak Surya duduk dengan jemari bertaut, topeng kebajikan yang selama dua puluh tahun menutupi busuknya konspirasi Sagara-12 masih terpasang sempurna. "Aris, kau terlambat," ucapnya datar. "Dewan sedang mempertimbangkan mosi tidak percaya. Ketidakstabilan sistem yang kau pimpin telah merugikan pemegang saham secara masif."

Di sekeliling meja, wajah-wajah direktur tampak tegang. Pak Tanu, yang biasanya menjadi pendukung setia mentornya, menghindari kontak mata. Aris berjalan santai menuju kursi utama, meletakkan salinan fisik Ledger 42 di atas meja marmer. "Ketidakstabilan? Atau mungkin ini adalah konsekuensi dari proyek Aurum Capital yang kau jalankan di balik layar?"

Pak Surya terkekeh, tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Aris, kau masih anak kecil yang bermain dengan catatan kusam. Ledger itu tidak memiliki legalitas di pengadilan korporasi modern."

"Mungkin tidak di pengadilan," balas Aris sambil menekan layar tablet yang terhubung ke proyektor. "Tapi di depan auditor independen, selisih delapan puluh miliar pajak ekspor dermaga utara yang mengalir ke rekening cangkang Aurum Capital adalah bukti pengkhianatan." Layar di ruang rapat menyala, menampilkan data transaksi yang tidak bisa dibantah. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan saat para direktur menyadari mereka selama ini didanai oleh entitas ilegal.

Pak Tanu segera menggeser folder dokumennya. "Saya telah memverifikasi audit ini dengan data internal pelabuhan," suaranya berat, memberikan legitimasi yang menghancurkan. "Tanda tangan di sini adalah otorisasi Anda, Surya. Tidak ada ruang untuk membantah."

Pak Surya mencoba bangkit, tangannya gemetar meraih ponsel. "Ini konspirasi! Aris memanipulasi data ini!"

"Keamanan sudah berada di luar pintu, Pak Surya," potong Aris dingin. Ia tidak berteriak; ia hanya menunjukkan tabletnya yang menampilkan akses sistem keamanan yang kini terkunci sepenuhnya di bawah kendali pribadinya. "Server Sagara Group telah saya migrasikan ke server independen. Akses Anda telah dicabut." Keamanan gedung menyeret Pak Surya keluar, posisinya sebagai mentor runtuh total di depan mata para pemegang saham.

Setelah kekacauan mereda, lampu kristal di ruang direksi meredup, menyisakan cahaya biru pucat dari monitor. Aris berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit, menatap pelabuhan yang kini tampak seperti papan catur raksasa. Kursi direksi yang kini didudukinya terasa dingin, namun pas. Sita melangkah masuk, wajahnya tegang oleh antisipasi. "Sistem sudah bersih, Aris. Tapi, Aurum Capital baru saja memindahkan sisa likuiditas mereka ke rekening luar negeri. Mereka tidak lari karena takut; mereka sedang membersihkan jejak terakhir sebelum mentor menyerang dari luar sistem."

Aris tidak menoleh. Ia menatap dermaga utara yang kini berada dalam genggamannya. Ia bukan lagi pewaris yang dibuang, melainkan predator yang telah menguasai medan tempur. Perang kelas yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia siap untuk babak berikutnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced