Sisa-Sisa Kekuasaan
Ruang rapat lantai 42 Sagara Group tidak lagi berbau arogansi Bram; kini, udara di sana terasa dingin dan steril. Aris duduk di kursi pimpinan, menatap tablet yang menampilkan dasbor akses sistem pusat. Satu per satu, akun-akun yang terafiliasi dengan jaringan Bram di-deaktivasi secara permanen.
"Pak Aris, ini tindakan sepihak yang melanggar prosedur operasional," ujar seorang manajer keuangan senior, suaranya tertahan oleh rasa takut yang nyata. "Anda tidak bisa memutus akses server secara real-time tanpa audit menyeluruh dari dewan."
Aris tidak menoleh. Ia memindahkan folder berkode 'Sagara-12' ke drive pribadi yang terenkripsi. "Prosedur yang kalian agungkan adalah jaring pengaman untuk korupsi Bram selama lima tahun terakhir. Jika kalian merasa terganggu, itu karena kalian tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi."
Sita berdiri di sampingnya, menyerahkan map berisi daftar staf kunci yang terlibat dalam aliran dana fiktif dermaga utara. Begitu nama-nama itu dibacakan, mereka yang hadir terdiam. Aris memutus akses digital mereka tepat saat mereka mencoba menghapus jejak. Kendali atas keuangan perusahaan kini sepenuhnya berada di tangannya.
Sore harinya, di ruang arsip yang berdebu, Sita menyodorkan dokumen dengan pita merah usang—ledger tua yang bahkan lebih tua dari pernikahan ayahnya. "Ini salinan otorisasi Proyek Sagara-12. Bram memang menggelapkan dana, tapi polanya terlalu rapi. Dia tidak cukup cerdas untuk membangun sistem enkripsi berlapis ini."
Aris menatap deretan angka di layar. Proyek Sagara-12 adalah lubang hitam yang menyedot delapan puluh miliar rupiah setiap kuartal. Ia membedah logistik dan aliran kas yang tersembunyi. Semakin dalam ia menggali, semakin jelas bahwa Bram hanyalah pion yang diletakkan di posisi strategis untuk menutupi jejak yang lebih besar.
"Lihat tanda tangan di otoritas pembukaan akun ini," Aris berbisik, jarinya menunjuk pada dokumen otorisasi. "Ini tanda tangan mendiang mentor kita."
Sita terdiam, wajahnya memucat. Kebenaran itu menghantam mereka; sosok yang mengajari Aris cara bertahan hidup di dunia bisnis ternyata adalah arsitek dari konspirasi yang ia coba hancurkan.
Saat Aris merenung di kantornya yang menghadap pelabuhan, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan anonim muncul di layar kayu solidnya: “Kamu baru saja membuka pintu yang tidak bisa kamu tutup kembali.”
Aris tidak berkedip. Ia mengetik balasan singkat dengan jemari yang tenang: “Lalu siapa yang berdiri di balik pintu itu?”
Detik berikutnya, sistem keamanan gedung di seluruh lantai direksi berbunyi nyaring. Lampu darurat berwarna merah berkedip serentak, menandakan akses ilegal yang terdeteksi dari server utama—sebuah serangan balik yang bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam sistem yang ia kira sudah ia bersihkan. Aris menatap lampu-lampu pelabuhan di kejauhan, menyadari bahwa ia baru saja memicu perang yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar perebutan kursi pimpinan.