Novel

Chapter 9: Eksposisi di Ruang Direksi

Aris berhasil menggulingkan Bram dalam rapat dewan direksi melalui bukti rekaman pengakuan dan manifes penyelundupan senjata. Bram diusir secara permanen, namun Aris menerima ancaman anonim yang menandakan konspirasi yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Eksposisi di Ruang Direksi

Udara di lantai 45 Sagara Group terasa tipis, bukan karena ketinggian, melainkan karena tekanan yang menumpuk di balik pintu kaca ruang direksi. Pukul 08.55. Aris berdiri di sana, memegang map kulit berisi manifes senjata yang menghubungkan Bram dengan kartel internasional. Ini bukan sekadar dokumen; ini adalah surat kematian bagi karier pamannya.

Saat Aris melangkah masuk, keheningan menyergap. Pak Tanu, yang biasanya menjadi pendukung setia Bram, tampak menghindari tatapan mata. Tangannya gemetar saat memegang berkas di meja. Aris duduk di kursi yang selama ini dilarang untuknya. Ia tidak menunggu izin.

Bram masuk dua menit kemudian, napasnya memburu. Ia mencoba mempertahankan topeng wibawanya. "Aris, kau sudah melewati batas. Keluar sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar seperti sampah," desis Bram, suaranya tertahan di tenggorokan.

Aris hanya menatap jam tangan mahalnya, lalu menunjuk ke arah layar proyektor. "Paman, reputasi adalah komoditas yang mahal. Sayangnya, milikmu sudah bangkrut sejak proyek Sagara-12 mulai beroperasi di dermaga utara. Delapan puluh miliar rupiah yang hilang itu bukan sekadar salah hitung. Itu adalah pengkhianatan."

Bram tertawa sumbang, namun tawanya mati saat ia melihat Pak Tanu menggeser surat kuasa suara ke arah Aris. "Dewan tidak akan percaya pada omong kosong ini!" teriak Bram.

Aris memberi isyarat kepada Sita. Tanpa ragu, Sita menekan tombol play pada perangkat perekam di tengah meja. Suara Bram memenuhi ruangan—pengakuan eksplisit tentang penggelapan dana dan skema penyelundupan senjata. Wajah Bram memucat, berubah menjadi abu-abu. Dewan direksi yang tadinya ragu mulai berbisik, lalu berteriak menuntut penjelasan.

"Mosi tidak percaya diterima," suara ketua dewan memecah kegaduhan. Satpam gedung, yang kini telah melihat bukti nyata di layar, mendekati Bram. Pria yang dulu menjadi penguasa absolut itu kini diseret keluar dari kursi pimpinan, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang mencekam.

Aris menarik napas panjang, merasakan kursi kepemimpinan yang kini ia duduki. Namun, di tengah riuh rendah dewan yang mulai membahas restrukturisasi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan anonim muncul di layar: 'Kamu baru saja membuka pintu yang tidak bisa kamu tutup kembali.'

Aris menatap layar itu dengan tatapan tajam. Kemenangan ini hanyalah awal dari perang yang jauh lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced