Novel

Chapter 8: Bram Terpojok

Aris memancing Bram ke sebuah pertemuan jebakan di mana Bram secara tidak sadar mengakui keterlibatannya dalam penggelapan dana dan penyelundupan senjata. Aris menolak suap terakhir Bram dengan dingin, mengunci posisi Bram sebelum mosi tidak percaya di rapat dewan direksi besok pagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bram Terpojok

Lampu-lampu kargo di Pelabuhan Utara berkedip seperti detak jantung yang sekarat. Dari lantai empat puluh restoran yang menghadap langsung ke dermaga, Aris melihat Bram melangkah masuk. Paman itu tidak lagi mengenakan setelan jas yang rapi; dasinya miring, dan napasnya memburu—tanda-tanda keruntuhan yang tak bisa lagi disembunyikan di balik wibawa palsu.

Bram menarik kursi dengan kasar, matanya menyapu ruangan sebelum tertuju pada Aris. "Hentikan audit itu, Aris. Sekarang juga," desisnya tanpa basa-basi. "Kau tahu apa yang terjadi jika auditor menyentuh rekening cangkang Sagara-12. Itu bukan sekadar lubang finansial, itu adalah kuburan bagi kita semua."

Aris menyesap kopi hitamnya, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. "Sagara-12 bukan sekadar lubang, Paman. Itu adalah bukti pengkhianatan. Auditor tidak bisa disuap dengan janji dividen masa depan, dan saya tidak berniat menghentikan mereka."

Bram mencondongkan tubuh, suaranya bergetar antara ancaman dan keputusasaan. "Aku bisa memberimu segalanya. Saham, properti, akses penuh ke jalur distribusi yang selama ini kau incar. Sebutkan angkanya. Berapa banyak untuk menghapus namaku dari manifes penyelundupan itu?"

Di balik partisi kaca, Aris tahu Sita sedang merekam setiap kata. Ini bukan sekadar percakapan; ini adalah pengakuan yang akan mengunci nasib Bram di depan dewan direksi besok pagi. Bram menggeser amplop cokelat tebal ke tengah meja, lalu menyodorkan cek kosong.

"Tanda tangani pembatalan audit ini. Ada akses ke rekening luar negeri di dalamnya. Cukup untuk membuatmu pensiun dengan nyaman di luar negeri. Lupakan Sagara-12, lupakan gudang pelabuhan itu," ujar Bram, jemarinya gemetar hebat.

Aris tidak menyentuh amplop itu. Ia menatap Bram dengan tatapan sedingin es, membiarkan paman itu menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan hanyalah paku tambahan di peti matinya sendiri. "Pensiun? Anda pikir saya berjuang sejauh ini hanya untuk melarikan diri dengan uang receh hasil penggelapan pajak? Anda bukan sedang menawarkan suap, Bram. Anda sedang memberikan pengakuan tertulis atas kejahatan terorganisir."

Wajah Bram memerah padam. "Kau akan menyesal! Jika aku jatuh, perusahaan ini akan ikut terseret. Semua orang akan kehilangan dividen. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain puing-puing!"

Aris bangkit berdiri, meninggalkan Bram yang terengah-engah. Di parkiran, Sita sudah menunggu dengan flash drive perak. "Data sudah disinkronkan dengan Ledger 42. Bram memindahkan dana operasional ke rekening cangkang untuk menutupi selisih pajak delapan puluh miliar. Ditambah bukti manifes senjata, dia tidak punya ruang untuk bermanuver lagi."

Aris menerima flash drive itu. Ia tidak butuh teriakan atau konfrontasi fisik di ruang rapat besok. Ia hanya butuh keheningan yang menyiksa saat bukti-bukti ini diproyeksikan di layar utama di depan para pemegang saham.

Saat Aris melangkah masuk ke ruang kerja Bram di mansion keluarga beberapa jam kemudian, pintu kayu jati itu berderit seperti vonis. Bram berdiri di dekat jendela, memegang gelas wiski yang tak tersentuh. Saat melihat Aris, wajahnya pucat pasi.

"Masih mencoba menghitung aset yang tersisa, Paman?" tanya Aris dingin. "Dividen adalah masalah kecil bagi seseorang yang telah menjual jalur logistik kita kepada kartel. Audit forensik yang kau coba hentikan itu sudah mencapai inti dari setiap rekening cangkang yang kau buat."

Bram meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja marmer. "Berapa? Sebutkan angkanya. Aku punya akses ke dana darurat. Ambil itu, tutup mulutmu, dan kita bisa mengatur ulang posisi dewan besok pagi sesuai keinginanmu."

Aris tersenyum tipis—bukan senyum kemenangan, melainkan senyum kasihan. Ia menatap Bram tepat di matanya, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan. Bram menawarkan suap dalam jumlah besar, namun Aris hanya membalas dengan senyum dingin, membiarkan paman itu tenggelam dalam ketakutannya sendiri sebelum rekaman pengakuan itu mengguncang seluruh fondasi perusahaan besok pagi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced