Novel

Chapter 7: Siasat Rapat Umum Pemegang Saham

Aris mengamankan dukungan Pak Tanu melalui ancaman manifes senjata, sementara Bram mencoba menyuap Aris yang kini memegang kendali penuh atas narasi audit forensik.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Siasat Rapat Umum Pemegang Saham

Lampu neon dermaga berkedip, memantulkan cahaya dingin di atas meja marmer lounge VIP. Pak Tanu, pemegang saham minoritas yang biasanya angkuh, kini menatap cangkir kopinya seolah itu adalah bom waktu. Jemarinya yang gemetar membuat sendok perak berdenting sumbang—sebuah tanda kelemahan yang tak luput dari pengamatan Aris.

Aris tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia menggeser amplop cokelat berisi manifes pengiriman senjata yang ditandatangani Bram bulan lalu. Dokumen itu bukan sekadar bukti administratif; itu adalah surat kematian bagi siapa pun yang terlibat dalam proyek Sagara-12.

“Investasimu di dermaga utara bukan lagi tentang dividen, Pak Tanu,” suara Aris tenang, nyaris berbisik. “Ini tentang siapa yang akan diseret kartel saat mereka menyadari pengiriman mereka hilang. Jika kau tetap mendukung Bram di rapat besok, namamu akan tercatat sebagai penyandang dana utama dalam manifes ini.”

Tanu membuka amplop itu. Wajahnya memucat saat matanya menangkap stempel resmi yang seharusnya terkubur di gudang pelabuhan. Ia menelan ludah, napasnya memburu. Tanpa sepatah kata pun, ia menandatangani surat kuasa suara yang disodorkan Aris. Aris menarik kertas itu kembali, menyimpannya dengan presisi seorang ahli bedah. Peta kekuatan dewan baru saja bergeser.

*

Kantor Bram berbau cerutu mahal yang kini terasa menyesakkan. Aris berdiri di depan meja mahoni, menyaksikan pamannya yang biasanya tenang kini sibuk menyodorkan amplop tebal berisi suap. Tangan Bram gemetar hebat.

“Ambil ini, Aris. Pergi ke luar negeri. Lupakan Ledger 42,” desis Bram, suaranya parau. “Kita bisa mengakhiri ini sebelum audit forensik menghancurkan kita berdua.”

Aris tidak menyentuh uang itu. Ia melangkah ke jendela, menatap tim auditor Sita yang sedang bekerja di bawah lampu pelabuhan. “Uang tidak bisa membeli waktu, Paman. Audit forensik sudah berjalan. Rekening operasionalmu bukan lagi sekadar dibekukan; ia sedang dibedah oleh orang yang paling teliti di industri ini.”

Bram tertawa getir, mencoba menutupi kepanikannya dengan arogansi. “Sita? Dia hanya auditor bayaran. Aku bisa membelinya jauh lebih mahal.”

Aris berbalik, senyum tipisnya tidak mencapai mata. “Sita tidak dibayar untuk membungkam kebenaran. Dia dibayar untuk memulihkan kehormatan yang kau curi. Dan dia tidak butuh uangmu lagi.”

Bram terdiam. Ia menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan kini menjadi bahan bakar bagi audit yang akan menjatuhkannya. Aris telah menutup semua pintu keluar.

*

Di koridor lantai lima belas, suasana berubah. Aris berjalan melewati kerumunan pemegang saham minoritas yang kini tidak lagi menghindar. Mereka terpaku pada berita pembekuan aset Bram di ponsel masing-masing. Pak Tanu melangkah maju, menatap Aris bukan lagi sebagai pewaris yang gagal, melainkan sebagai satu-satunya akses menuju stabilitas.

“Aris, jika mosi ini gagal besok pagi, kami semua akan kehilangan segalanya saat kartel menagih utang yang disembunyikan Bram,” bisik Tanu dengan urgensi yang nyata.

Aris berhenti, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Ia mengeluarkan salinan manifes yang telah ia siapkan. “Besok pagi, kita tidak hanya akan menggulingkan Bram. Kita akan membersihkan perusahaan ini dari akar-akarnya.”

Bisik-bisik harapan mulai terdengar di sepanjang koridor. Aris menatap pintu ruang rapat, merasakan momentum yang ia bangun sendiri. Besok, permainannya akan berakhir, dan takhta itu akan kembali ke tangan yang sah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced