Novel

Chapter 6: Malam di Kantor Pelabuhan

Aris dan Sita menyusup ke gudang pelabuhan dan menemukan bukti bahwa Bram menggunakan infrastruktur perusahaan untuk penyelundupan senjata kartel. Aris kemudian menggunakan bukti tersebut untuk menekan pemegang saham minoritas, Pak Tanu, agar mendukung mosi tidak percaya terhadap Bram.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Malam di Kantor Pelabuhan

Udara di Gudang Pelabuhan Utara bukan sekadar dingin; ia berbau logam berkarat, sisa oli, dan pembusukan yang disengaja. Aris mematikan senter ponselnya, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka. Di sampingnya, napas Sita terdengar pendek dan tidak teratur.

"Jika Bram tahu kita di sini, dia tidak akan sekadar membekukan akses kreditmu, Aris," bisik Sita. Jemarinya yang memegang pemindai data portabel gemetar hebat. "Dia akan memastikan kita tidak keluar dari dermaga ini dalam keadaan sadar."

Aris tidak menoleh. Fokusnya terkunci pada brankas baja tua di sudut gudang—peninggalan kakeknya yang luput dari audit selama dua dekade. Ia memasukkan kombinasi angka yang ia hafal dari catatan margin di Ledger 42. Klik. Mekanisme penguncinya berderit, memuntahkan tumpukan manifes kapal yang seharusnya sudah menjadi abu bertahun-tahun lalu.

Aris menyalakan kembali senternya. Cahaya putih yang tajam menyapu dokumen-dokumen itu. Kop surat perusahaan keluarga bersanding dengan stempel kartel luar negeri yang tidak dikenal di pasar domestik.

"Bram tidak hanya menggelapkan dana Sagara-12 sebesar delapan puluh miliar," ujar Aris. Suaranya datar, dingin, dan tanpa emosi—sebuah kontras yang menakutkan dengan situasi mereka. "Dia menggadaikan jalur logistik pelabuhan ini untuk penyelundupan senjata. Dia bukan lagi sekadar pencuri, Sita. Dia pengkhianat yang menjual infrastruktur kita kepada kartel."

Sita mendekat, matanya membelalak saat melihat tanda tangan digital Bram pada manifes pengiriman ilegal tersebut. "Jika ini bocor, perusahaan akan hancur. Ribuan karyawan tidak bersalah akan kehilangan mata pencaharian."

"Perusahaan ini sudah busuk dari dalam. Penghancuran adalah satu-satunya cara untuk melakukan sterilisasi," jawab Aris. Ia memotret setiap lembar manifes dengan presisi seorang ahli bedah.

Suara langkah sepatu bot bergema di atas pelat besi di luar gudang. Tiga pria berseragam keamanan—anjing penjaga bayaran Bram—mulai menyisir blok kontainer. Aris tidak membuang waktu. Ia menarik tuas alarm kebakaran sistem logistik. Sirine melengking memecah keheningan malam, menciptakan kekacauan yang mereka butuhkan. Di tengah kepulan asap buatan yang mulai memenuhi ruangan, Aris dan Sita meloloskan diri melalui celah ventilasi, tepat saat pintu kantor arsip didobrak dengan paksa.

Keesokan paginya, lobi kantor pusat terasa seperti medan perang yang sunyi. Aris berdiri di dekat pilar marmer, mengamati Pak Tanu, pemegang saham minoritas yang paling berpengaruh. Aris menghampirinya, menyodorkan tablet berisi ringkasan bukti penyelundupan yang baru saja ia verifikasi.

"Rekening Bram sudah nol, Pak Tanu. Dia adalah mayat finansial yang sedang berjalan," bisik Aris, suaranya cukup rendah untuk tidak terdengar orang lain, namun cukup tajam untuk menusuk. "Dukung mosi tidak percaya besok pagi, atau Anda akan terseret ke dasar laut bersamanya saat kartel menagih janji mereka."

Pak Tanu menatap layar itu, tangannya gemetar. Di koridor, para pemegang saham lain mulai berbisik. Mata mereka beralih dari Aris ke ruang direksi, siap untuk memutus rantai kekuasaan Bram selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced