Perang Likuiditas
Ruang rapat lantai 42 mendadak senyap, menyisakan suara dengung pendingin ruangan yang terdengar seperti ancaman. Aris berdiri di depan layar proyektor, jemarinya mengetuk meja mahoni dengan ritme yang stabil—sebuah kontras tajam dengan wajah pucat Bram di ujung meja.
"Proyek Sagara-12 bukan sekadar inisiatif logistik," suara Aris membelah ketegangan. "Ini adalah saluran pembuangan. Delapan puluh miliar rupiah mengalir ke rekening cangkang yang dikendalikan oleh entitas yang sama dengan pemegang saham mayoritas vendor pelabuhan kita."
Aris menekan tombol enter. Grafik aliran dana yang rumit muncul di layar, menghubungkan kode proyek fiktif dengan transaksi yang diverifikasi oleh buku besar nomor 42.
Bram tertawa, meski matanya tidak ikut tersenyum. "Aris, kau membawa sampah sejarah ke meja direksi? Ledger itu sudah tidak relevan selama satu dekade."
"Ledger itu adalah satu-satunya catatan yang tidak bisa dimanipulasi oleh sistem digital yang kau bangun," balas Aris dingin. Ia melirik Sita. Sang auditor, yang selama ini menjadi tameng Bram, kini berdiri tegak. Sita menekan tombol otorisasi pada tabletnya, mengaktifkan protokol audit forensik yang telah mereka siapkan.
Detik berikutnya, layar besar di ruang rapat berubah. Saldo rekening operasional perusahaan yang dikelola Bram—yang seharusnya berisi dana untuk operasional pelabuhan bulan ini—berkedip merah. Angka-angka di sana merosot tajam, berputar liar sebelum berhenti di angka nol mutlak.
Suara kursi bergeser terdengar riuh. Para anggota dewan mulai berbisik, kepanikan menyebar secepat api di gudang kering. Bram bangkit, tangannya gemetar saat meraih ponsel. "Aris, kau gila! Kau membekukan likuiditas operasional di tengah negosiasi klien besar!"
"Saya tidak membekukannya, Paman. Saya hanya membiarkan sistem mendeteksi anomali yang kau buat sendiri," jawab Aris tenang. Ia menatap Bram, memastikan setiap orang di ruangan itu melihat kehancuran wibawa sang paman. "Sita, silakan jelaskan konsekuensi hukum dari anomali ini kepada dewan."
Sita melangkah maju, memaparkan bukti flash drive yang berisi log transaksi asli. Bram terdiam, wajahnya kehilangan warna. Ia bukan lagi penguasa ruang rapat; ia hanyalah seorang pencuri yang tertangkap basah di depan para pemegang saham.
Satu jam kemudian, Aris meninggalkan gedung pusat. Ia tidak merayakan kemenangan di sana. Ia tahu, Bram hanyalah pion. Aris bergerak menuju Pelabuhan Utara, tempat di mana bau solar dan besi berkarat menyambutnya. Di gudang yang tersembunyi dari manifest resmi, Aris menyelinap melewati penjaga yang mulai kehilangan arah karena bos mereka telah jatuh.
Di sudut terjauh, di balik tumpukan peti kemas yang berdebu, ia menemukan sebuah brankas besi tua. Dengan senter kecil, ia menyorot dokumen-dokumen di dalamnya. Itu bukan sekadar catatan penggelapan dana. Itu adalah daftar manifest penyelundupan yang melibatkan kartel luar negeri—kartel yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ambisi Bram. Aris menyadari, perang yang ia menangkan di ruang rapat hanyalah pembuka dari konspirasi yang jauh lebih besar.