Aliansi di Balik Bayang-bayang
Aroma kopi pahit dan debu pelabuhan melekat di udara kafe dermaga, kontras dengan wangi parfum mahal yang biasanya membungkus kehidupan Aris. Di sudut ruangan, Sita duduk dengan punggung tegak, jemarinya terus meremas tepian tas kerja kulitnya. Matanya yang lelah menghindari tatapan Aris, terpaku pada kapal kargo yang sedang bersandar di kejauhan.
"Bram tahu aku bertemu denganmu," bisik Sita, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin derek pelabuhan. "Dia sudah membatalkan aksesku ke server utama audit sejak satu jam lalu. Jika dia tahu aku membocorkan data ini, karierku bukan hanya tamat, tapi mungkin aku akan berakhir di pengadilan dengan tuduhan pemalsuan dokumen."
Aris mencondongkan tubuh, meletakkan salinan Ledger 42 di atas meja yang bernoda kopi. Kertas itu kuning, tua, dan penuh dengan catatan tangan yang membuktikan penggelapan pajak ekspor selama lima tahun terakhir. "Karier yang kamu takutkan itu sebenarnya sudah mati sejak kamu menandatangani laporan fiktif tahun lalu, Sita. Bram menggunakanmu sebagai tameng. Begitu audit ini selesai dan dia menemukan kambing hitam baru, kamu adalah orang pertama yang dia korbankan."
Sita menatap ledger itu. Tangannya gemetar saat menyentuh kertas kasar tersebut. "Aku hanya ingin membersihkan namaku. Keluargaku... mereka tidak tahu apa yang kulakukan di perusahaan ini."
"Maka inilah jalan keluarnya," potong Aris dengan nada dingin namun pasti. Ia mengeluarkan sebuah flash drive perak dari saku jasnya. "Ini bukan sekadar data. Ini adalah kunci pembuka brankas digital yang menghubungkan Bram dengan rekening cangkang di luar negeri. Berikan aku akses ke log transaksi asli, dan aku akan memastikan namamu bersih dari audit ini."
Sita terdiam lama, menimbang antara integritas yang tersisa dan kehancuran yang tak terelakkan. Akhirnya, ia menarik napas panjang dan menyerahkan dokumen rahasia serta drive tersebut kepada Aris, melanggar sumpah integritasnya demi kebenaran. Aris menyimpan bukti itu, menyadari bahwa aliansi strategis mereka baru saja disegel.
Kembali ke ruang rapat lantai 28, suasana terasa seperti udara yang disedot habis. Bram berdiri di ujung meja kayu mahoni, tangannya yang sedikit gemetar tersembunyi di balik saku setelan jas bespoke-nya. Di hadapannya, Aris tidak bersuara, hanya meletakkan flash drive perak tersebut di atas meja, tepat di samping tumpukan laporan keuangan yang telah Sita verifikasi.
"Katakan sekali lagi, Paman," suara Aris memecah keheningan. "Apakah proyek Sagara-12 adalah investasi logistik, atau sekadar lubang hitam untuk mengalirkan delapan puluh miliar rupiah pajak ekspor ke rekening luar negeri yang kau kelola sendiri?"
Bram tertawa sumbang, berusaha mempertahankan wibawa di depan anggota dewan yang mulai saling berbisik. "Aris, kau masih anak kecil yang senang bermain dengan angka tanpa memahami konteks. Data itu hanyalah anomali sistem."
Aris menoleh ke arah Sita, yang duduk tegak dengan wajah pucat namun teguh. "Sita, silakan tunjukkan apa yang ditemukan di dalam drive ini." Tanpa ragu, Sita menyambungkan drive tersebut ke proyektor utama. Dalam hitungan detik, layar raksasa di dinding ruang rapat menampilkan log transaksi yang belum pernah dipublikasikan.
Ruang rapat berubah menjadi medan perang. Saat audit real-time dilakukan di layar besar, Aris memerintahkan sistem untuk menarik data dari proyek Sagara-12. Angka-angka mulai bergeser, menunjukkan lubang finansial yang menganga. Bram mencoba memutus koneksi server, namun Aris telah mengunci akses administratif menggunakan kode yang ia ambil dari kantor pelabuhan.
Keheningan mencekam menyelimuti ruang rapat. Layar monitor utama menampilkan saldo rekening operasional yang tiba-tiba nol, membuktikan bahwa Bram telah menguras dana tersebut. Bram berdiri mematung, wajahnya kehilangan warna saat dewan direksi menuntut penjelasan atas hilangnya dana tersebut. Aris berdiri, menatap paman yang kini kehilangan kendali atas narasinya sendiri, sementara dewan direksi mulai menuntut audit forensik penuh.