Novel

Chapter 3: Retak di Dinding Kekuasaan

Aris berhasil memaparkan bukti korupsi Bram melalui Ledger 42 dan kode Sagara-12 di depan dewan direksi, memaksa penundaan pengusirannya dan memicu investigasi. Sita, sang auditor, akhirnya menyerahkan bukti tambahan (flash drive) kepada Aris, menandai aliansi strategis mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retak di Dinding Kekuasaan

Ruang rapat lantai 45 mendadak sesak oleh keheningan yang mencekik. Aris berdiri tegak, membiarkan layar proyektor di belakangnya menampilkan perbandingan data yang tak terbantahkan: selisih delapan puluh miliar rupiah antara laporan pajak ekspor resmi dan catatan operasional di Ledger 42.

Bram, yang biasanya menguasai ruangan dengan intonasi suara yang tenang dan berwibawa, kini tampak kehilangan pijakan. Jemarinya yang terbalut jam tangan Patek Philippe mencengkeram tepi meja mahoni hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sagara-12 bukan proyek pengembangan dermaga utara, Paman," suara Aris membelah ruangan, dingin dan tanpa emosi. "Itu adalah saluran pembuangan dana. Jika kita membedah logistik ekspor dua dekade terakhir, lubang ini bukan lagi sekadar kesalahan administrasi. Ini adalah penggelapan sistematis."

Bram mencoba tertawa, namun suaranya kering. "Aris, kau hanya anak yang sedang berhalusinasi dengan tumpukan kertas tua. Data itu sudah dimanipulasi untuk menjebakku. Keamanan, bawa dia keluar!"

Tidak ada yang bergerak. Anggota dewan direksi lainnya—para pria dan wanita yang biasanya tunduk pada perintah Bram—kini terpaku pada angka-angka merah yang berkedip di layar. Aris melangkah maju, meletakkan tabletnya tepat di depan Sita, auditor independen yang selama ini menjadi tameng administratif bagi Bram.

"Sita," panggil Aris. "Layarnya sudah menyala. Silakan bandingkan entri pajak ekspor di sistem digital pusat dengan salinan fisik dari Ledger 42 yang ada di tangan Anda. Anda dibayar untuk mencari kebenaran, bukan untuk mengamankan posisi Paman Bram."

Sita ragu. Tangannya gemetar saat ia menekan tuts keyboard, membandingkan entri demi entri. Di belakangnya, Bram bangkit berdiri, kursi mahalnya berderit nyaring melawan lantai marmer. "Ini lelucon!" raung Bram, kepanikan yang ia coba samarkan dengan kemarahan kini terlihat jelas. "Dewan, jangan dengarkan sampah ini. Dia hanya berusaha menunda pengusirannya sendiri dengan data curian!"

Aris tidak menoleh. Fokusnya terkunci pada wajah Sita yang perlahan memucat. "Jika itu sampah, Paman, mengapa tangan Anda gemetar? Kode Sagara-12 bukan sekadar catatan logistik. Itu adalah saluran pengalihan dana yang menghubungkan rekening cangkang di luar negeri dengan aset pelabuhan kita. Saya punya bukti aliran dana tersebut."

Sita menatap layar dengan mata lebar. Angka-angka di monitor tidak sesuai dengan laporan resmi yang ia susun sebelumnya. Aris melihat retakan pada topeng wibawa Bram; keringat dingin mulai membasahi pelipis pria itu. Bram bukan lagi arsitek yang tenang; ia hanyalah pion yang kehilangan pijakan. Dewan direksi mulai berbisik, saling melempar pandang penuh kecurigaan. Aris telah berhasil membalikkan posisi tawar; pengusirannya kini tertunda, digantikan oleh investigasi yang akan menghancurkan kredibilitas Bram.

Setelah rapat ditunda karena kekacauan yang tak terelakkan, Sita mencegat Aris di lorong eksekutif yang dingin. Lampu neon berkedip di atas mereka, menyorot ketegangan di antara keduanya.

"Kamu menghancurkan segalanya, Aris," bisik Sita, suaranya serak. "Jika data ini sampai ke tangan pemegang saham luar, seluruh struktur kredit perusahaan akan dibekukan. Kamu tahu konsekuensinya."

"Bram tidak akan membiarkanmu selamat, Sita," balas Aris dingin. "Begitu dia menyadari audit ini tidak bisa lagi dibeli, kamu adalah orang pertama yang dia jadikan tumbal. Dia akan menuduhmu lalai, atau lebih buruk lagi, bersekongkol denganku."

Sita terdiam, wajahnya pucat pasi menyadari realitas posisinya. Aris menatapnya tajam, menuntut keberanian yang selama ini terkubur dalam prosedur audit. Akhirnya, Sita menarik napas panjang, merogoh tasnya, dan menyerahkan sebuah flash drive berisi log transaksi asli yang selama ini ia sembunyikan sebagai asuransi diri. Aris menggenggam benda kecil itu, menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced