Novel

Chapter 2: Tanda Tangan yang Terlambat

Aris menggunakan bukti dari Ledger 42 dan kode proyek 'Sagara-12' untuk menghentikan pengusirannya di dewan direksi, memaksa auditor Sita untuk mulai mempertanyakan integritas laporan keuangan Bram.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tanda Tangan yang Terlambat

Pena emas di tangan Bram tertahan satu milimeter di atas surat pengusiran. Ruang rapat lantai 42 yang semula riuh dengan bisik-bisik penghinaan mendadak senyap. Aris berdiri tegak, membiarkan keheningan itu membusuk di antara mereka.

"Sagara-12," bisik Aris. Suaranya rendah, namun cukup tajam untuk memotong ego Bram yang melambung.

Bram membeku. Wajahnya yang semula angkuh memucat, kontras dengan dasi sutra merahnya. Kode itu bukan sekadar angka; itu adalah kunci brankas digital yang menyimpan catatan aliran dana fiktif dari dermaga utara selama satu dekade. Aris membiarkan ketakutan itu merayap di mata pamannya sebelum ia menarik kursi dan duduk tanpa diminta.

"Paman yakin ingin menandatangani ini sekarang?" Aris menatap lurus. "Jika tinta itu menyentuh kertas, saya akan memastikan seluruh dokumen audit Sagara-12 tidak lagi tersimpan di folder pribadi saya, melainkan di meja auditor eksternal yang sudah menunggu di lobi."

Dewan direksi mulai gelisah. Kursi-kursi berderit. Mereka tidak tahu apa itu Sagara-12, tetapi mereka cukup cerdas untuk membaca bahasa tubuh Bram yang kehilangan wibawa.

"Kau berhalusinasi!" Bram menggebrak meja, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan. "Itu proyek gagal. Tidak ada hubungannya dengan audit hari ini."

Aris tidak bergeming. Ia mengeluarkan buku besar bersampul kulit kusam dari balik jasnya—Ledger nomor 42. Baunya yang tajam, campuran debu pelabuhan dan tinta tua, tercium saat ia menghempaskannya ke atas meja marmer, tepat di depan Sita, auditor independen yang dibawa Bram.

"Sita, periksa halaman 214. Bandingkan dengan laporan rekening cangkang yang Anda pegang," perintah Aris.

Bram segera berdiri, mencoba menutupi pandangan Sita. "Sita, jangan dengarkan dia. Itu data ilegal yang dia curi!"

Sita, yang selama ini bekerja di bawah bayang-bayang Bram, menatap tumpukan bukti itu dengan ragu. Namun, integritas profesionalnya terusik saat ia melihat catatan pajak ekspor yang tidak pernah dilaporkan. Selisihnya mencapai delapan puluh miliar rupiah. Aris telah memantau arus kas pelabuhan selama berbulan-bulan, mencatat setiap sen yang digelapkan melalui proyek fiktif tersebut.

"Paman, jika Anda memutus akses aset saya, saya akan menganggapnya sebagai upaya penghilangan barang bukti," Aris menatap tajam ke arah Bram yang kini terjepit secara material. "Dewan berhak tahu ke mana dana operasional dermaga sebenarnya mengalir."

Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Dewan direksi mulai menuntut penjelasan. Bram mencoba memberi isyarat kepada asistennya untuk memblokir akses digital Aris, namun semuanya terlambat.

Sita membuka layar monitornya, membandingkan angka-angka di ledger dengan laporan keuangan resmi. Jemarinya menari dengan cepat di atas keyboard. Saat angka-angka itu mulai berbaris di layar, Sita menatap Aris dengan mata lebar. Angka di layar tidak sesuai dengan laporan resmi. Kebenaran itu terpampang nyata, membuat posisi Bram terjepit di depan seluruh dewan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced