Reuni di Tengah Badai
Suara dentuman di pintu apartemen Arini bukan lagi ketukan tamu; itu adalah ritme ancaman yang nyata. Arini mematung di ruang tengah, napasnya tertahan di tenggorokan. Di atas meja kayu, dokumen kontrak pertunangan palsu mereka tergeletak—sebuah lelucon hukum yang kini terasa seperti sampah tak berarti setelah pengakuan yang baru saja terucap. Adrian berdiri di dekat jendela, bayangannya memanjang di lantai apartemen yang sempit. Matanya, yang biasanya dingin dan penuh kalkulasi korporasi, kini berkilat tajam dengan intensitas yang tidak bisa Arini definisikan.
"Mereka sampai lebih cepat dari perkiraan,
Preview ends here. Subscribe to continue.