Pilihan yang Tak Terelakkan
Suara klik elektronik yang mengunci pintu apartemen terdengar seperti vonis mati. Arini menarik napas tajam, jemarinya yang gemetar mencengkeram gagang koper yang baru saja ia isi dengan pakaian seadanya. Di luar sana, di balik kaca tebal yang menghadap cakrawala Jakarta, ancaman pihak ketiga yang telah membeli utang-utangnya mungkin sedang mengintai. Namun, di dalam sini, bahaya yang lebih nyata berdiri tepat di ambang pintu.
Adrian bersandar pada kusen, tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak terlihat marah; justru ketenangannya jauh lebih menakutkan. Matanya yang tajam menelusuri koper Arini, lalu berpindah ke wajah wanita i
Preview ends here. Subscribe to continue.