Chapter 11
Papan peringatan merah menyala di pintu bengkel Sari Wulan, memantulkan cahaya neon yang berkedip: AKUISISI KORPORASI DIBEKUKAN SEMENTARA — 19 JAM 12 MENIT TERSISA. Raka Aditya berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Di dalam, bau oli panas dan sisa pendingin sintetis menyengat, kontras dengan dinginnya panel pengumuman hukum yang baru saja terpasang.
Frame-nya teronggok di rel servis, panel samping terbuka lebar, menampakkan kabel-kabel yang mulai rapuh. Angka di monitor dinding menyala hijau pucat: 10,8%. Sisa daya itu adalah vonis mati jika ia gagal di sesi berikutnya.
"Kalau kau datang untuk mengemis waktu, pulang saja," suara Sari Wulan memecah keheningan. Ia tidak menoleh dari meja verifikasi, jemarinya lincah menari di atas konsol data.
"Surat akuisisi itu sudah masuk ke jaringan pasar sekte?" tanya Raka, suaranya parau.
Sari memutar kursi, menatap Raka dengan mata yang kini menilai nasib, bukan lagi sekadar angka. "Sudah. Ke kantor akuisisi, ke hakim darurat Proving Ground, bahkan ke telinga para sponsor yang mulai lapar. Frame-mu bukan lagi rongsokan, Raka. Data anomali 96,1% itu adalah mata uang yang lebih berharga daripada nyawa pilotnya."
Sari menggeser sebuah kotak tipis bersegel perak ke arah Raka. "Modul stabilisasi arus prototipe. Satu unit. Ini akan menahan lonjakan arus dari inti cadanganmu saat beban puncak. Tapi harganya... kau tahu itu."
Raka menatap modul tersebut. Menerima bantuan ini berarti menyerahkan akses log permanen miliknya kepada Sari. Ia akan kehilangan otonomi atas rahasia kekuatannya, namun tanpa modul itu, frame-nya akan hancur dalam sepuluh menit di arena. Raka mengangguk pelan, menandatangani transfer data digital di layar. Saat modul itu terpasang, ia merasa bukan hanya frame-nya yang terikat, tetapi juga masa depannya.
Keluar dari bengkel, lorong utama akademi sudah riuh. Papan status di dinding memajang namanya: Raka Aditya — Rank Cadangan, efisiensi 96,1%, sisa daya 10,8%.
"Cadangan murah lewat." Suara Jendra Kharis memotong kerumunan. Jendra berdiri tegak dengan seragam elitnya, diapit dua pengikut. "Kau masih dipelihara akademi? 96,1% bukan prestasi. Itu hanya bukti bahwa kau berani mencuri data. Ingat, Raka, di Proving Ground nanti, tidak ada bengkel salvase yang bisa menyelamatkanmu."
Raka menatap lurus ke mata Jendra. "Jika 96,1% adalah pencurian, maka posisi elitmu hanyalah pajangan yang menunggu untuk dipatahkan." Tanpa menunggu balasan, Raka melangkah pergi, meninggalkan Jendra yang tertegun.
Sepuluh menit sebelum slot terakhir ditutup, Raka berdiri di arena Proving Ground. Instruktur Halim menatapnya dari tribun dengan wajah kaku. Naya Arsel, rivalnya, sudah siap di jalur sebelah, menatapnya dengan tantangan dingin.
"Kalau kau mundur sekarang, aku catat sebagai penarikan teknis," gertak Halim.
Raka menarik tuas sinkronisasi. Modul Sari Wulan berdengung, menyalurkan energi stabil ke seluruh kerangka frame-nya. Ia memacu frame-nya ke depan, menembus batas daya yang tersisa. Saat ia bermanuver di tikungan tajam, efisiensi sistemnya melonjak ke 97,3%. Di tribun, utusan korporasi asing yang tadinya duduk santai, kini berdiri tegak.
Kemenangan itu terasa mutlak, namun saat papan peringkat berubah dan namanya meroket naik, Raka menyadari satu hal: ia baru saja membuka pintu yang jauh lebih besar. Faksi-faksi korporasi yang selama ini mengintai kini mulai bergerak, dan mereka tidak akan berhenti sampai frame-nya—dan rahasia di dalamnya—berada dalam genggaman mereka.