Novel

Chapter 10: Chapter 10

Raka berhasil mempertahankan frame-nya melalui uji verifikasi yang brutal dengan efisiensi 96,1%, namun kemenangan ini justru memicu klaim akuisisi korporasi yang lebih agresif. Raka kini terikat pada tenggat waktu 24 jam sebelum frame-nya disita, sementara sebuah tawaran bantuan rahasia muncul dengan syarat yang mengancam integritas pendakiannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Bau ozon dan sisa oli panas masih menyengat di hangar saat layar status di atas kokpit Raka Aditya berkedip stabil di angka 95,2%. Itu adalah angka yang seharusnya menjadi tiket emas bagi kadet mana pun, namun alih-alih tepuk tangan, Raka justru disambut oleh tiga staf korporasi berseragam abu-abu gelap. Mereka melangkah masuk dengan dokumen sita-aset di tangan, mengabaikan protokol keamanan hangar.

Raka masih berpegangan pada rangka pintu kokpit, napasnya tersengal, ketika Instruktur Halim memotong jalan mereka. “Jangan sentuh frame itu,” suara Halim berat, menahan perwakilan korporasi yang hendak menempelkan segel sita pada bahu unit tersebut.

“Atas dasar pengembalian nilai aset dan klaim sponsor pra-akuisisi, unit ini masuk daftar penahanan sementara,” ujar pria berkacamata dengan pin emas di kerahnya, suaranya datar dan tak terbantahkan. “Pilot boleh mundur, tapi barang ini harus segera diamankan untuk audit.”

Raka menatap angka 95,2% yang terpampang di layar. Itu bukan sekadar statistik; itu adalah hasil dari modifikasi log tempur yang ia pertaruhkan dengan seluruh sisa aksesnya. “Frame ini tercatat aktif di registri akademi untuk uji darurat,” sela Raka, suaranya serak namun tegas. “Kalian tidak bisa mengambilnya sebelum sesi verifikasi lapangan selesai.”

Perwakilan itu tersenyum tipis, sebuah seringai yang meremehkan. “Kami tidak menolak verifikasi. Kami membawanya. Ada indikasi modifikasi tidak sah pada sistem kendali, dan korporasi berhak melakukan 'pengamanan aset' untuk menjaga integritas kompetisi.”

Halim menatap Raka, memberikan isyarat mata yang tajam. “Kau punya waktu 60 menit untuk membuktikan kelaikan operasional frame ini di depan Dewan Sponsor. Jika efisiensi turun di bawah 90%, atau jika sistem mendeteksi kegagalan sinkronisasi, frame ini disita detik itu juga. Paham?”

Raka mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus mencari suku cadang tambahan untuk menstabilkan daya yang tersisa 11,4% sebelum sesi itu dimulai.

*

Di balik kios salvase yang sempit, Sari Wulan tidak membuang waktu. Ia menatap panel pergelangan tangan Raka yang menampilkan indikator daya kritis. “11,4%? Kau datang ke sini dengan sisa nyawa di mesin, Raka. Itu bukan komoditas, itu sampah yang menunggu dibuang.”

“Aku butuh modul stabilisasi arus,” desak Raka, mengabaikan nada dingin Sari. “Aku punya data log tempur yang bisa kau gunakan untuk riset atau dijual ke pasar sekte. Akses read-only untukmu, selamanya.”

Sari terdiam, jemarinya mengetuk meja kaca. Ia tahu data itu adalah kunci bagi siapa pun yang ingin memahami sinkronisasi 0,18 detik milik Raka. “Satu modul stabilisasi untuk akses log permanen, ditambah bagi hasil dari setiap poin efisiensi yang kau cetak nanti.”

“Sepakat,” jawab Raka cepat.

Sari menarik laci di bawah meja, mengeluarkan komponen berdebu namun masih berfungsi. “Ambil ini. Tapi dengar, Jendra Kharis sudah menyuap pengawas untuk mempercepat jadwal uji. Dia ingin kau tampil di depan dewan saat daya mesinmu masih sekarat. Dia ingin kau hancur secara publik.”

*

Arena Proving Ground sudah dipenuhi sorotan lampu yang menyilaukan. Jendra Kharis berdiri di samping frame seri-A miliknya, tampak sempurna dan tak tersentuh. Saat Raka melangkah masuk, Jendra tertawa kecil lewat kanal publik. “Pencuri data. Kau pikir dengan trik kotor itu kau bisa duduk di kursi elit? Proving Ground bukan tempat untuk sampah yang mencoba naik dengan jalan pintas.”

Raka tidak membalas. Ia fokus pada getaran halus di kokpitnya. Modul dari Sari terpasang, namun daya cadangannya kini berkedip merah—10,8%. Saat instruksi mulai diberikan, Raka mematikan sistem pendingin sekunder untuk memusatkan sisa energi pada sinkronisasi inti.

Instruktur Halim memberi aba-aba. Jendra melesat, frame-nya bergerak dengan presisi pabrikan yang mulus. Raka tidak mengejar kecepatan; ia menunggu celah. Saat Jendra melakukan manuver drift yang agresif untuk menutup jalur, Raka justru melakukan overclock singkat pada modul sinkronisasinya. Ia menembus tikungan dengan sudut yang mustahil, melampaui posisi Jendra dalam sekejap.

Sorak-sorai penonton pecah, namun Raka tidak bisa merayakannya. Begitu ia melintasi garis finis, sistem Proving Ground memberikan pengumuman yang dingin: “Efisiensi tercatat: 96,1%. Status frame: Dalam pengawasan ketat Dewan Sponsor. Akuisisi aset akan diproses dalam 24 jam.”

Kemenangan itu terasa kosong. Ia berhasil, namun ia justru semakin terikat pada rantai korporasi yang ingin merampas satu-satunya keunggulannya. Sebelum ia sempat keluar dari kokpit, sebuah pesan muncul di layarnya—undangan pertemuan rahasia dari seseorang yang selama ini hanya menganggapnya sebagai beban murah. Bantuan itu datang, namun ia tahu, syaratnya akan memecah jalur naiknya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced