Chapter 8
Indikator daya di sisi kiri visor Raka berkedip merah—11,8 persen. Di dalam kokpit yang berbau hangus, servo kiri frame-nya mengeluarkan derit logam yang menyayat, nyaris macet total. Di lintasan elite Proving Ground, setiap belokan adalah ancaman maut. Di tribun kaca, Jendra Kharis berdiri tegak, memantau dari balik bayang-bayang otoritasnya.
"Masih hidup?" suara Jendra memecah kanal komunikasi, dingin dan merendahkan. "Kalau efisiensi 94,6 persen itu cuma topeng, sebaiknya kau jatuh sekarang. Jangan cemari panggung ini dengan data curangmu."
Raka tidak membalas. Ia mengunci pandangan pada lintasan yang baru saja dipersempit oleh sabotase Jendra—sebuah rintangan mekanis yang sengaja diletakkan di tikungan tajam. Servo kiri frame-nya bergetar hebat, menolak menahan beban. Raka tahu pilihannya sempit: ia harus mengaktifkan log tempur tersembunyi—anomali yang ia simpan sebagai kartu as—untuk mengompensasi kegagalan mekanis tersebut. Ia menarik tuas, membiarkan data ilegal itu mengalir ke sistem kendali. Seketika, respons frame-nya menjadi presisi, memangkas waktu belokan hingga menyentuh batas mustahil. Namun, di sudut visual, Naya Arsel yang berdiri sebagai pengamat independen tidak berkedip. Ia sedang menghitung setiap milidetik gerakan Raka.
Detik berikutnya, sistem pusat menjerit. Lampu merah menyala di seluruh arena. "Deteksi data ilegal terdeteksi," suara mekanis sistem menghentikan sesi secara paksa. Di ruang kendali, Instruktur Halim mematikan umpan lintasan. Jendra Kharis tidak membuang waktu, ia segera menuding Raka di depan panel penguji. "Itu bukan kemampuan pilot, itu manipulasi sistem. Saya menuntut sanksi administratif segera!"
Raka, yang masih terjebak dalam kokpit, tidak menyangkal. Ia menatap tajam ke arah panel penguji. "Itu bukan kecurangan, itu adaptasi mesin yang tidak bisa dipahami sistem standar kalian," tantangnya. Ketegangan memuncak hingga panel memberikan ultimatum: Raka harus melakukan uji ulang dalam 30 menit tanpa data anomali tersebut, atau aksesnya ke Proving Ground dicabut permanen.
Waktu terasa seperti pasir yang bocor. Raka bergegas menuju kios salvase Sari Wulan. Bau oli panas dan logam berkarat menyambutnya. Sari menatap Raka dengan mata dingin yang hanya menghitung profit. "Komponen pendingin darurat, seri H-9," pinta Raka. Sari tersenyum tipis, mengetuk daftar harga. "Barang bagus sudah habis, Raka. Yang tersisa cuma sampah." Raka tidak punya pilihan; ia menyerahkan sebagian akses log tempur berharganya sebagai bayaran. Sari akhirnya setuju, namun ia memberi peringatan tajam, "Jika kau gagal di uji ulang, data ini tak ada gunanya bagiku."
Kembali ke arena, Raka berdiri di depan publik dengan daya cadangan yang tersisa 11,4 persen. Jendra dan Naya menonton dengan ekspektasi tinggi. Saat uji ulang dimulai, Raka mengabaikan peringatan sistem. Ia menggunakan insting murninya, menggerakkan frame dengan manuver berisiko tinggi yang memaksa logam tua itu bekerja melampaui batas. Ia mencatatkan rekor waktu baru yang sah, memukau penonton di tribun. Namun, saat Raka berhenti, Jendra Kharis melangkah maju, menunjuk layar data. "Aku melihat pola itu lagi!" teriaknya. "Dia tidak bersih!"
Panel penguji terdiam, menatap Raka dengan tatapan yang mengancam. Mereka menuntut satu hal: pembuktian ulang yang mutlak—bersih, sah, dan disaksikan seluruh akademi. Jika Raka gagal sekali lagi, seluruh pintu menuju puncak akan tertutup baginya selamanya.