Chapter 7
Indikator daya di sudut visor Raka berkedip merah: 11,7%. Angka itu bukan sekadar statistik; itu adalah vonis mati bagi frame rongsokan yang ia kendarai. Di luar kaca observasi, Proving Ground tampak seperti rahang besi yang siap menghancurkan apa pun yang gagal memenuhi standar efisiensi. Nama Raka kini terpampang di layar publik dengan label 'Kandidat Anomali'—sebuah status yang menarik perhatian para teknisi dan kadet senior layaknya darah di tengah kolam hiu.
Jendra Kharis berdiri di dekat pagar pembatas, seragamnya terlalu bersih, kontras dengan bau oli panas dan debu logam yang menyengat. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki mereka yang tidak pernah khawatir tentang biaya perbaikan.
"Masih mau masuk dengan sisa napas segitu, Raka?" ejek Jendra, suaranya sengaja dikeraskan agar tribun mendengar. "Kalau frame-mu rontok di menit pertama, aku pastikan tim pembersih tidak perlu repot-repot mengangkut bangkai rongsokanmu."
Naya Arsel, yang berdiri di samping panel operator, tidak ikut menertawakan. Matanya yang tajam tertuju pada sendi servo kiri Raka yang retak—hasil dari modifikasi nekat semalam. "Jangan mati di lintasan, Raka," bisiknya dingin saat Raka melangkah masuk ke pintu arena. "Aku butuh lawan yang sepadan, bukan rongsokan yang meledak sendiri."
Pintu hidrolik menutup dengan dentuman berat. Suara Instruktur Halim menggema melalui interkom, dingin dan pragmatis. "Mulai sekarang, satu kesalahan kecil bukan sekadar nilai minus, itu kerusakan aset. Uji pembanding elite dimulai."
Arena itu luas dan sunyi. Raka merasakan getaran servo kirinya yang tersendat. Ia tidak punya ruang untuk kesalahan. Ia mengaktifkan log tempur tersembunyi—data anomali yang ia curi dari sistem internal—dan membiarkan pola gerakan yang tak diajarkan akademi mengalir ke sistem kendali. Saat Naya melesat di sisi lain lintasan, Raka tidak mengejarnya dengan kecepatan mentah. Ia memotong sudut, membaca irama distribusi beban Naya, dan melakukan manuver yang memicu lonjakan efisiensi hingga 91,8%.
Sorak-sorai penonton pecah di luar, tapi bagi Raka, dunia hanya berisi bunyi klik kasar dari servo kirinya yang mulai mengunci. Suara Sari Wulan terngiang di kepalanya; setiap milidetik yang ia gunakan adalah kredit yang harus ia bayar.
Di putaran penentu, Jendra Kharis menekan tombol override dari balkon penguji. "Beban kesetaraan elite dinaikkan. Tambahkan tiga unit pengganggu lintasan," perintahnya. Pagar magnet terbuka, dan tiga frame latihan didorong ke jalur Raka dalam simulasi tabrakan paksa.
Alarm keselamatan menjerit. Efisiensi Raka menyentuh 94,6%—angka yang menjamin masa depannya. Namun, di depan matanya, seorang kadet dengan helm kusam kehilangan kendali, booster-nya tersendat tepat di jalur tabrakan. Raka memiliki waktu kurang dari satu detik: ia bisa mempertahankan kecepatannya dan memecahkan rekor yang akan membungkam Jendra, atau ia bisa memutar arah secara paksa dan menyelamatkan kadet itu, namun menghancurkan frame-nya sendiri.
Saat ia menarik tuas kendali, servo kirinya menjerit, menolak beban tambahan dan mulai macet. Raka mengertakkan gigi, merasakan panas logam yang membakar di balik panel. Tepat saat ia membuat keputusan untuk menghindar, sebuah notifikasi sistem muncul di visor-nya: Data ilegal terdeteksi. Jendra baru saja menangkap pola gerakan Raka dan menuduhnya menggunakan sistem terlarang di depan panel penguji.