Chapter 5
Sisa waktu di layar visor Raka berkedip merah: 19 menit 12 detik. Itu bukan waktu istirahat; itu sisa napas sebelum uji pembanding resmi melawan Jendra Kharis dimulai. Indikator daya frame miliknya merosot ke angka 14 persen. Satu peringatan sistem terus berdenyut di sudut pandang: Cadangan tidak stabil.
Di ruang siaga Proving Ground, bau ozon dan oli panas menyengat. Seorang teknisi lapangan, yang disewa Raka dengan sisa kredit terakhirnya, membuka panel samping frame dengan obeng magnetik.
“Kalau turun dua persen lagi, servo kiri mengunci saat belok,” ujar teknisi itu tanpa menoleh. “Pendingin barter dari Sari hanya menahan suhu di jalur lurus. Di beban putar, dia akan meledak.”
Raka tidak membantah. Ia merasakan getaran aneh di kaki kiri frame-nya—seperti sendi yang dipaksa berjalan dengan balutan terlalu ketat. Komponen itu dibeli dengan harga yang menyakitkan: data tempur mentah yang ia serahkan kepada Sari Wulan. Di pasar sekte, harga suku cadang melonjak 2,1 kali lipat begitu performa Raka bocor. Ia tidak hanya membayar dengan kredit, tapi dengan masa depan.
Instruktur Halim berdiri di belakang garis aman, tablet logam di tangan. Wajahnya datar, tidak memberi ruang bagi keraguan.
“Masalahmu sederhana, Raka,” suara Halim memotong kebisingan mesin. “Kalau frame ini gagal sebelum uji pembanding, kamu masuk daftar risiko mati. Kalau kamu berhenti, Jendra menang tanpa perlu berkeringat. Pilih.”
Raka menatap panel diagnostik. Ia tidak punya cukup daya untuk memperbaiki seluruh sistem. Ia menunjuk tiga titik distribusi daya pada frame.
“Putus cabang sekunder di servo kiri. Pindahkan beban ke jalur utama,” perintah Raka.
Teknisi itu tertegun. “Itu tidak standar. Kamu akan kehilangan stabilitas di jalur lurus.”
“Lakukan.”
Obeng berputar. Panel tertutup. Angka daya stabil di 17 persen. Respons servo kiri di layar diagnostik melonjak dari 0,24 detik menjadi 0,17 detik. Tujuh per seratus detik. Di Proving Ground, itu adalah perbedaan antara belokan yang mulus dan frame yang terseret keluar rel.
Halim mengangkat alis, mengetuk tabletnya. “Masih jelek. Tapi layak dipakai.”
*
Gerbang uji lintasan kedua terbuka. Sensor publik aktif. Jendra Kharis sudah menunggu di area pengawas, seragamnya rapi tanpa noda, lencana elitnya memantulkan cahaya lampu stadion.
“Masih sempat berdiri tegak?” ejek Jendra melalui pengeras suara. “Frame murah, data curian. Aku penasaran berapa lama anak bawah bisa berpura-pura layak di lintasan elite.”
Raka tidak membalas. Ia menaiki platform. Peta lintasan muncul di visor: tiga tikungan rapat, satu sektor lurus, dan kurva balik yang mematikan.
“Mulai,” perintah Halim.
Frame Raka melesat. Ia tidak memaksa kecepatan; ia memaksa irama. Pada tikungan pertama, Raka menahan beban di kaki kanan, lalu memindahkannya ke servo kiri pada titik paling ringan—sebuah teknik yang tidak ada di kurikulum akademi.
0,18 detik. Lalu 0,17 detik.
Sensor publik menyalakan catatan kuning. Monitor di ruang atas menampilkan perubahan itu sebagai anomali. Jendra, yang membuntuti di belakang, berhenti menyeringai. Ia menatap layar dengan mata menyempit.
Pada tikungan ketiga, Raka melakukan manuver yang melanggar hukum mekanika standar: ia menggeser pusat tekanan lebih awal, memanfaatkan celah antara getaran rel dan napas servo. Hasilnya bukan ledakan tenaga, melainkan penghematan waktu yang presisi.
Pola gerak tidak cocok dengan kurikulum akademi. Validasi tambahan diperlukan.
Alarm anomali di ruang monitor naik setengah tingkat. Halim menatap tabletnya dengan tatapan tajam. Raka bukan lagi sekadar peserta darurat; ia adalah variabel yang mengganggu perhitungan sistem.
Saat Raka berhenti di akhir lintasan, pintu slot elite yang biasanya tertutup rapat bagi kadet bawah tiba-tiba bergeser terbuka. Halim menoleh ke arah Naya Arsel yang berdiri di ujung ruangan, menatap Raka dengan dingin.
“Cukup,” kata Halim. “Slot elite terbuka. Naya Arsel akan menjadi tolok ukurmu di uji pembanding.”
Naya melangkah maju, tatapannya mengunci Raka. “Kalau ini slot elite yang dibuka karena dia, aku ingin lihat apakah hasilnya bisa bertahan di depan orang yang benar-benar layak.”
Satu kemenangan kecil telah membuka pintu, namun di baliknya, tantangan yang lebih besar telah menunggu.