Chapter 4
Tiga menit sebelum penutupan pasar sekte, sertifikat akses Raka Aditya terasa seperti kertas basah di telapak tangannya. Di atas kepala, layar harga pasar sekte berkedip merah. Komponen pendingin yang kemarin masih bisa ia tebus dengan sisa kredit, kini melonjak 2,1 kali lipat. Di samping daftar harga, muncul catatan kecil yang menghina: Markup khusus untuk kadet berstatus anomali.
Sari Wulan menatap Raka dari balik kaca kios yang berbau oli panas. Ia tidak menyapa. Ia hanya melirik tampilan di pergelangan tangan Raka, lalu ke layar harga di atas lorong.
"Baru datang?" tanya Sari dingin.
"Komponen pendingin, sel daya tipe empat, dan konektor sinkronisasi," Raka memotong, suaranya serak namun tegas. "Sekarang."
Sari mengetuk baris harga yang merah menyala itu. "Log tempurmu asli, Raka. Sensor ruang uji, timestamp, kecocokan frame. Semuanya sah."
"Kalau sah, kenapa harganya naik dua kali lipat?"
Sari mengangkat bahu. "Karena sekarang orang tahu kamu bukan lagi cadangan murah. Seorang kadet peringkat bawah mencatat 0,18 detik di depan publik? Kamu bukan lagi barang rongsokan, kamu adalah target pasar."
Di sudut lorong, dua kadet berjaket akademi sengaja menunda langkah, pura-pura meneliti baut sambil melirik ke arah Raka. Mereka menunggu Raka menyerah. Raka tidak punya waktu untuk marah. Ia membuka panel data tempur mentahnya—satu-satunya aset yang ia miliki—dan menyodorkannya ke pemindai kios. "Ini data pola gerakan yang tidak diajarkan di akademi. Ambil sebagai penutup selisih harga, atau aku pergi ke kios lain."
Sari tertegun melihat baris kode yang mengalir di layar. Ia menatap Raka dengan tatapan baru—bukan lagi sebagai pengemis suku cadang, melainkan sebagai ancaman finansial yang nyata.
Namun, notifikasi di pergelangan tangan Raka bergetar keras. Pintu ruang administrasi Proving Ground terbuka. Instruktur Halim berdiri di sana, bahunya tegak seperti tiang besi. Di sampingnya, Jendra Kharis tersenyum tipis, seragamnya rapi tanpa noda, kontras dengan Raka yang masih berlumuran oli.
"0,18 detik," Halim memulai, suaranya memenuhi lorong yang mendadak sunyi. "Angka yang bikin sponsor mencium bau uang dan bikin fasilitas ini terlihat lambat. Jendra mengajukan uji pembanding. Sekarang."
Jendra melangkah maju, menekan ruang gerak Raka. "Bukan tak percaya, Raka. Hanya ingin memastikan keberuntunganmu tidak merusak standar akademi."
Raka menatap Jendra, lalu melirik durasi aksesnya yang tersisa. Ia menyadari kemenangan 0,18 detik tadi hanyalah umpan untuk menariknya ke dalam jebakan prosedur. Jika ia menolak, ia dikeluarkan. Jika ia menerima, ia harus bertanding dengan frame yang nyaris hancur.
"Saya terima," jawab Raka tenang. "Tapi dengan satu syarat: uji lintasan kedua sebagai validasi teknis sebelum duel resmi."
Halim mengangguk singkat, mencatat syarat tersebut. "Dua puluh menit dari sekarang. Jangan terlambat."
Saat Raka melangkah kembali ke lintasan uji, ia merasakan getaran logam yang tidak stabil di kokpitnya. Di luar, sensor ruang uji mulai berputar. Raka tidak lagi memikirkan peringkat; ia memikirkan pola gerak yang ia temukan di sela-sela data tempurnya—sebuah pemotongan sudut yang mustahil bagi kadet biasa. Saat ia meluncur, sensor merekam akselerasinya. Layar publik di atas arena mendadak berkedip, menampilkan angka waktu yang jauh melampaui ekspektasi, merekam gerakannya sebagai anomali berbahaya yang mulai menarik perhatian sistem pusat Proving Ground.