Novel

Chapter 3: The Price of Advancement

Raka berhasil mencatatkan waktu sinkronisasi 0,18 detik di depan publik, mengamankan sertifikat akses sementara. Namun, kesuksesan ini menarik perhatian rivalnya, Jendra Kharis, yang segera menantangnya dalam uji pembanding. Di saat yang sama, pasar sekte menaikkan harga suku cadang secara drastis karena kebocoran data performanya, memaksa Raka menghadapi tantangan yang lebih berat dengan sumber daya yang semakin menipis.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Price of Advancement

Indikator daya di sisi kanan kokpit berkedip merah: 11%. Peluit start belum berbunyi, namun panas mesin sudah merembet lewat kursi pilot seperti telapak besi yang ditempelkan ke punggung Raka. Di atas kepala, tribun darurat riuh oleh suara sepatu teknisi, tawa kadet kelas atas, dan denting kios data yang memindai papan skor. Mereka tidak datang untuk memberi selamat; mereka datang untuk menilai apakah investasi murah ini layak dipelihara atau dibuang.

Di menara kontrol, suara Instruktur Halim memotong kebisingan. “Dua belas detik di beban penuh, Raka. Lewat dari itu, frame-mu kupotong dari daftar uji. Aku tidak peduli pada mimpimu; aku peduli fasilitas ini tidak terbakar sebelum senja.”

Raka menatap panel status di pergelangan kokpit. Uji Darurat Proving Ground: Risiko Tinggi. Kreditnya nol. Hak aksesnya habis. Satu-satunya yang tersisa adalah frame cacat, modul sinkronisasi seri-Tiga yang retak, dan data tempur mentah yang ia simpan di memori kerja—jejak pertempuran yang belum pernah dilihat orang lain.

Ia menekan tombol aktivasi. Frame di luar kanopi berderit, lalu menyala. Cahaya status di sepanjang tulang rangka naik bertahap, biru pucat di sendi, putih bersih di jalur inti. Raka merasakan hentakan sinkronisasi menyambar tulang belakangnya, keras tapi terukur. Sesuatu yang selama ini dibekukan akhirnya diberi ruang untuk bergerak.

Di lintasan uji, tiga drone target melesat dari rel peluncur. Layar arena menampilkan angka standar kadet: 0,31 detik.

Raka memiringkan bahu frame. Ia tidak mengejar drone; ia memotong lintasan geraknya. Tembakan pendek, satu kilat, dan drone pertama pecah. Bilah data di visor melonjak: 0,19 detik.

Belum cukup.

Daya cadangan turun drastis saat modul seri-Tiga dipaksa membuka pola yang lebih dalam. Raka merasakan sentakan di pinggul frame, tanda sistem mengeluh, tapi ia justru mempersempit gerak. Drone kedua memutar ke kiri, dan frame Raka sudah ada di sudut matinya sebelum sensor lawan sempat menyusul. Tembakan kedua. Hancur.

0,18 detik.

Angka itu terpampang besar di layar arena. Tribun mendadak sunyi. Di sisi sponsor, dua penghubung sekte saling pandang, lalu salah satunya mengangkat tangan ke terminal kecil, meminta salinan data. Bukti publik. Inilah yang dihitung di kota ini; bukan klaim, melainkan angka yang mengunci mulut orang lain.

Drone ketiga datang dari atas dengan pola silang. Raka memutar frame, menahan beban di lutut kanan, lalu menurunkan lengan kiri. Drone itu lolos tipis, menyapu pelindung bahunya hingga mengeluarkan bunyi logam serak. Panel daya berkedip kuning: 4%.

Ia membiarkan drone ketiga melewati garis aman, lalu memutar frame serendah mungkin hingga pelindung bahu menyentuh lantai, memotong sudut pandang lawan. Drone itu menabrak temannya sendiri. Pecah. Ketika alarm sesi berbunyi, layar mengunci hasil: 0,18 detik rata-rata sinkronisasi. Lulus.

Raka melepaskan napas, sensasi kosong menggantikan adrenalin. Begitu kanopi terbuka, ia turun dengan telapak tangan bergetar. Di dinding panel, sertifikat akses tercetak: aktif sampai proving ground ditutup malam ini.

Jendra Kharis menunggunya di ujung lorong servis. Seragamnya rapi tanpa lipatan, wajahnya tenang. “0,18 detik. Menarik. Tapi jangan salah paham, aku tidak datang untuk mengakui apa pun. Aku datang karena sesi berikutnya harus jelas. Kalau kau mau naik, naiklah di depan semua orang.”

Jendra mengangkat kartu aksesnya. Notifikasi muncul di panel jadwal: Daftar untuk sesi uji pembanding.

Halim turun dari menara, berhenti di antara mereka. Ia mengulurkan tablet berisi hasil uji resmi ke arah Raka. “Simpan ini. Mulai hari ini, kalau orang mau bicara soal kemampuanmu, biar mereka bicara ke sistem dulu.” Ia menatap Raka tajam. “Statusmu lulus uji publik pertama, tapi sertifikat ini hanya berlaku sampai proving ground ditutup. Setelah itu, semua jadwal dibuka ulang. Sponsor sudah mulai melihat angka-angkamu. Mereka akan minta hasil yang lebih mahal, atau mereka akan mendorongmu keluar.”

Jendra tersenyum tipis. “Kau dengar itu? Buktimu belum cukup untuk membuatmu nyaman.”

Raka tidak menjawab. Ia berjalan menuju area belakang, tempat Sari Wulan menunggu di kios salvase-nya. Raka meletakkan modul log tempur di meja.

“Asli,” kata Sari setelah memindai data itu. Ia menekan layar, dan angka harga suku cadang melonjak. Sel pendingin seri-L: 2,1x tarif pasar.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya Raka.

“Seseorang yang tidak suka melihat orang bawah punya angka bagus,” jawab Sari. “Logmu bocor. Pasar tahu frame-mu masih bisa hidup, dan faksi-faksi mulai menutup jalur sebelum kau sempat memanfaatkannya.”

Raka menatap daftar harga. Semua yang ia butuhkan agar frame-nya tidak mati di sesi berikutnya tiba-tiba menjadi sangat mahal. Kemenangan tadi memberinya bukti, tapi juga membuka celah baru. Orang-orang sudah mulai menghitung nilainya, dan mereka akan mematoknya sebelum ia sempat membeli jalannya sendiri.

Di kejauhan, terminal jadwal berbunyi. Notifikasi baru muncul: Jendra Kharis mendaftarkan diri untuk sesi uji pembanding berikutnya.

Raka menutup telapak tangannya di atas modul log tempur. Kalau ia ingin naik, ia harus melakukannya sebelum proving ground ditutup—sebelum jalur ditarik, sebelum sponsor menutup pintu, dan sebelum Jendra memaksanya jatuh. Kemenangan kecil tidak akan cukup lagi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced