The Visible Gain
Papan status di gerbang Proving Ground berkedip merah. Nama Raka Aditya berada di urutan terbawah daftar cadangan, tepat di ambang batas penghapusan. Di sekelilingnya, para kadet elit dari faksi sponsor menatap dengan seringai meremehkan; bagi mereka, Raka hanyalah gangguan teknis yang seharusnya sudah disingkirkan oleh sistem sejak pagi.
“Waktumu habis, Kadet,” ujar petugas registrasi tanpa mengalihkan pandangan dari panel data. “Frame-mu memiliki catatan historis kegagalan sinkronisasi. Kami tidak akan membuang slot uji untuk mesin yang akan mogok di tikungan pertama.”
Instruktur Halim muncul dari balik lorong, langkahnya yang berat meninggalkan jejak oli di lantai bersih akademi. Ia menatap Raka, lalu beralih ke layar verifikasi. “Dia punya data mentah yang valid,” gumam Halim, suaranya kering. “Biarkan dia masuk. Jika dia gagal, namanya akan dihapus permanen dari daftar akademi. Itu cukup adil, bukan?”
Petugas itu mendengus, namun segera menekan tombol verifikasi. Sebuah denting logam terdengar—tanda slot Raka dikunci. Statusnya berubah dari 'Cadangan' menjadi 'Uji Darurat', namun dengan penanda merah yang mencolok: Risiko Tinggi. Raka tidak membuang waktu. Ia tahu kemenangan ini hanyalah napas sesaat sebelum badai berikutnya menghantam.
Sepuluh menit kemudian, Raka sudah berdiri di depan kios salvase Sari Wulan. Bau ozon dan logam panas menyengat hidungnya. Sari tidak berbasa-basi; ia meletakkan sebuah paket pendingin dan sel cadangan di atas meja, harganya tertera dengan angka yang membuat saldo kredit Raka nyaris nol.
“Sinkronisasimu naik, Raka,” kata Sari dingin. “Modul rusak itu bekerja lebih keras dari yang seharusnya, dan itu memakan daya cadanganmu. Kalau kau ingin selamat di lintasan nanti, kau butuh komponen ini. Harganya naik karena sekarang kau bukan lagi sekadar kadet gagal, kau adalah aset yang sedang diamati.”
Raka menukar sisa kredit dan hak akses komisinya tanpa ragu. Ia tahu ini adalah taruhan hidup-mati. Begitu komponen terpasang, ia merasakan getaran halus di kerangka mechnya—sebuah gain yang nyata, terukur, dan mematikan jika ia tidak bisa membuktikan nilainya di depan publik.
Saat memasuki lintasan uji, tekanan mental langsung menghantam. Jendra Kharis berdiri di tribun, suaranya menggelegar melalui kanal umum. “Frame rongsok itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Lihat saja, dia bahkan tidak akan bisa melewati tikungan pertama.”
Raka mengabaikan ejekan itu. Di balik helm, ia memfokuskan pandangan pada target bergerak di depannya. Saat hitungan mundur mencapai nol, ia memacu frame-nya. Modul rusak yang ia modifikasi bereaksi—responsnya mencapai 0,18 detik, jauh melampaui standar kadet kelas menengah. Ia memotong tikungan dengan presisi yang membuat hening tribun mendadak pecah oleh bisikan waspada.
Namun, kemenangan itu memiliki harga. Saat ia melintasi garis finis, indikator daya di dada frame-nya jatuh ke zona merah tipis. Modul itu membakar energi lebih cepat dari perhitungan sebelumnya. Kerangkanya bergetar hebat, nyaris terkunci di tengah lintasan, sementara papan peringkat publik mulai menayangkan namanya di posisi sepuluh besar.
Di ruang verifikasi, petugas mencap sertifikatnya dengan wajah masam. “Hasil sah. Tapi ingat, aksesmu hanya berlaku sampai Proving Ground ditutup dalam empat jam.”
Sebelum Raka sempat menarik napas, Jendra Kharis melangkah maju, mendaftarkan diri untuk sesi berikutnya. Tantangan itu jelas: Jendra tidak akan membiarkan Raka menikmati posisinya di papan peringkat lebih lama. Jalur pendakian baru saja terbuka, namun kunci pengaman mulai menutup dengan sangat cepat.