Simulasi Neraka
Lampu indikator di kokpit A-774 berkedip merah—bukan lagi peringatan sistem rutin, melainkan tanda bahaya kritis. Arka merasakan lantai ruang simulasi Akademi Pilar Langit bergetar hebat saat ia menyambungkan koneksi sarafnya. Baru lima menit ia masuk, tingkat kesulitan pada layar utama melompat dari level kadet ke Survival: Extreme.
"Ini sabotase," gumam Arka. Suara gesekan logam dari sendi bahu mech-nya yang tidak sinkron menjadi pengingat pahit bahwa sirkuit sekunder A-774 masih terluka akibat overclocking kemarin. Sensor jarak jauh menangkap lima sinyal panas yang mendekat. Ini bukan AI standar; pola pergerakan mereka terlalu presisi. Arka mencoba menghentikan simulasi, namun layar kontrol menampilkan kode enkripsi yang sangat familiar—gaya teknis kelas elit milik Elena.
"Baiklah, jika kalian ingin bermain kasar," desis Arka. Ia memutus pembatas daya pada sirkuit sekunder, mengabaikan peringatan suhu yang melampaui batas aman. Lima mech tipe Vanguard milik akademi muncul dari balik kabut virtual, mengunci posisinya. Estimasi kehancuran: 45 detik.
Di ruang observasi, Elena menyesap kopi hitamnya dengan tenang. Ia memantau efisiensi A-774 yang bergetar di angka 92 persen. "Hancurkan dia," perintahnya pada sistem. Ia tidak sekadar ingin Arka kalah; ia ingin A-774 menjadi rongsokan permanen agar Arka terusir sebelum audit dua jam lagi dimulai.
Namun, di dalam arena, Arka tidak meledak. Saat sebuah proyektil nyaris menghantam kokpit, Arka memutar balik arah dorong jet cadangannya. Ia melakukan manuver barrel roll yang nyaris merobek sayap kiri mech-nya, memaksa sistem overclock hingga batas kritis. Lonjakan data yang tidak masuk akal membanjiri konsol Elena. Arka tidak sedang bertahan; ia sedang mencuri data dari simulasi itu sendiri.
"Dia melakukan apa?" bisik Elena, senyum dinginnya perlahan memudar.
Arka memanfaatkan celah protokol komunikasi saat kelima Vanguard mengirimkan data pemantauan ke pusat komando. Jari-jarinya menari di atas konsol yang bergetar, meretas backdoor sistem pusat. Layar kokpitnya berubah menjadi deretan data mentah. Daftar hitam akademi terbuka di depannya. Di sana, di antara nama-nama kadet yang dibuang, ia melihat nama Jaka. Mentornya itu tidak pensiun karena usia, melainkan dikhianati oleh faksi yang sama dengan yang saat ini mencoba menghancurkannya.
Arka terengah-engah, sirkuitnya menjerit. Ia telah memiliki bukti, namun audit sistem tingkat tinggi kini mengunci koordinatnya secara langsung. Ia terjebak di tengah kepungan lima mesin pembunuh, dengan data yang bisa mengubah nasibnya terkunci di genggaman, dan waktu yang terus menipis menuju kehancuran total.