Pembuktian di Arena Publik
Lampu sorot Arena 'Pilar Langit' menyapu hanggar, menyinari A-774 yang masih mengepulkan asap dari sendi hidroliknya. Arka menggenggam tuas kendali dengan jemari yang basah oleh keringat. Di layar holografik, hitung mundur audit sistem akademi menunjukkan angka 01:58:30. Dua jam lagi, teknisi akademi akan membedah unitnya. Jika mereka menemukan jejak modul Overdrive, bukan hanya mech-nya yang disita, tetapi ia sendiri akan didepak dengan tuduhan sabotase.
"Kadet Arka, posisi 14. Lawan: Bram, peringkat 42," suara sistem bergema dingin. Bram melangkah maju dengan Vanguard-S yang berkilau, dilengkapi pelindung bahu berlapis komposit. Tribun penonton dipenuhi bisik-bisik meremehkan. Di barisan paling depan, Elena berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menyipit, menatap Arka seolah-olah ia adalah noda yang harus segera dibersihkan.
"Jangan buat aku membuang waktu, sampah," ejek Bram melalui kanal publik. Ia melesat, melepaskan rentetan tembakan plasma yang mematikan. Arka tidak punya ruang untuk bertahan secara konvensional. Ia menekan tombol Overdrive. Suhu kokpit melonjak drastis. Indikator efisiensi melompat dari 42% ke 88%. Dunia melambat. Data tempur mengalir deras, memproyeksikan pola gerakan Bram sebagai garis merah yang menembus ruang hampa. Arka menggerakkan A-774 bukan dengan tenaga kasar, melainkan dengan efisiensi presisi—menghindari tembakan Bram hanya dengan selisih milimeter sebelum membalas dengan hantaman telak tepat di engsel bahu Vanguard-S. Bram terhuyung, sistemnya mati total. Arena hening sejenak, sebelum sorak-sorai pecah.
Namun, kemenangan itu terasa hambar. Begitu Arka melompat keluar dari kokpit, tim audit akademi dengan seragam abu-abu yang steril sudah menunggunya di pintu hanggar. "Sistem A-774, segera matikan seluruh protokol aktif," perintah sang ketua tim, tablet diagnostik sudah tersambung ke port utama mech. Arka merasakan jantungnya berdegup kencang. Jika mereka memindai inti sekarang, data Overdrive akan terdeteksi sebagai modifikasi ilegal.
Jaka, sang mentor yang berdiri di sudut bayang-bayang, memberikan isyarat cepat—sebuah gerakan tangan yang berarti 'buang panas'. Arka berlari kembali ke konsol darurat. "Sistem, inisiasi pembersihan log tempur melalui overclocking unit pendingin!" teriak Arka. "Peringatan: Suhu inti akan melonjak hingga 95 persen. Risiko kerusakan permanen pada sirkuit sekunder," jawab suara mekanis. "Lakukan!"
Ledakan panas menyembur dari ventilasi A-774, memenuhi hanggar dengan uap pekat. Tim audit mundur, terbatuk-batuk. Dalam kekacauan uap itu, Arka berhasil memindahkan modul inti ke partisi tersembunyi tepat saat teknisi menyambungkan kabel diagnostik. Hasil pemindaian muncul di layar: 'Tidak Konklusif'.
Arka melangkah keluar, napasnya tersengal. Bau ozon dan sisa pelumas panas masih menyengat. Di koridor observasi, Elena sudah menunggu. Ia tidak lagi menatap Arka dengan seringai meremehkan. Matanya menyipit, menganalisis setiap detail gerakan Arka dengan ketajaman predator. "Itu bukan sinkronisasi standar, Arka," suara dingin Elena memotong kebisingan penonton yang mulai bubar. "A-774 adalah rongsokan yang seharusnya ditarik paksa dua hari lagi. Tidak ada teknisi yang bisa membuat mesin tua bekerja seperti itu dalam semalam."
Arka menyeka keringat di dahinya, menyembunyikan sensor biometriknya yang masih merekam detak jantung di atas normal. "Ini hanya hasil dari kalibrasi ulang sistem pendingin, Elena. Mungkin kau terlalu terbiasa dengan mech elit yang dimanjakan oleh teknisi akademi, jadi kau lupa bahwa mesin tua pun bisa bekerja jika dirawat dengan benar."
Elena melangkah mendekat, sepatu botnya beradu dengan lantai logam dengan ritme yang mengancam. Ia tidak menjawab, namun tatapannya kini bukan lagi meremehkan, melainkan penuh curiga. Arka tahu, ia baru saja memenangkan duel, namun ia baru saja membuka pintu bagi ancaman yang jauh lebih besar: pengawasan ketat dari faksi elit yang merasa posisinya terancam.