Novel

Chapter 11: Chapter 11

Di bab ini, Raka menghadapi tekanan ultimatum yang semakin berat dari Komandan Irawan dan Nara menjelang ujian publik lantai empat yang disiarkan ke 50.000 penonton. Ia berhasil meningkatkan performa Frame Salvage No. 047 melalui latihan intensif dengan protokol override level 7, meski dengan risiko kerusakan dan suhu inti yang meningkat. Di sisi lain, Komandan Irawan bergulat dengan dilema menjaga aturan sistem sambil mempertimbangkan perubahan kebijakan jika Raka berhasil. Bab ditutup dengan Raka yang siap melangkah ke arena ujian publik, menggunakan protokol stabilisasi darurat sebagai taruhan terakhir, mempertaruhkan segalanya demi pembuktian dan kenaikan peringkat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 11

Ruang briefing di lantai dasar Kota Menara Mekanis terasa lebih pengap malam itu. Raka berdiri di depan meja baja, mata tertuju pada layar proyeksi yang menampilkan kondisi Frame Salvage No. 047. Suhu inti mencapai 89 derajat Celsius, servo kiri yang bocor kini menunjukkan kerusakan 37%. Timer di dinding menyala merah: 6 hari 21 jam 47 menit tersisa sebelum recall resmi.

Komandan Irawan duduk dengan sikap dingin di kursi tinggi, seragamnya rapi tanpa lipatan. Suaranya datar namun penuh tekanan saat berkata, “Besok, 50.000 pasang mata akan menyaksikanmu di arena lantai empat. Lawanmu: lima drone kelas menengah dan satu unit pengawal berat. Ini bukan sekadar ujian—kalau inti meledak di tengah siaran, bukan hanya rankingmu yang hilang. Seluruh program salvage bisa ditutup.” Jari-jari Irawan mengetuk layar sekali—tanda dilema yang sulit diungkapkan.

Di sudut ruangan, Nara berdiri dengan tangan disilangkan, wajahnya dingin namun tatapannya tak lepas dari Raka. "Kamu sudah dapat +22% respons dan +25% prediksi serangan dari protokol override level 7," katanya pelan namun tajam. "Tapi servo kiri semakin parah, dan suhu inti yang melonjak itu jelas bahaya. Jika kamu pakai modul stabilisasi darurat sekali saja, risiko ledakan naik ke 28%. Ingat, ini bukan latihan lagi." Raka menelan ludah, beban yang terasa semakin berat. "Danu sudah menunggu di pinggir arena, berharap melihatmu gagal. Dia tidak akan memberi celah." Nara melangkah mendekat, nada suaranya mengiris, "Gain yang kamu miliki belum cukup, Raka. Besok adalah pertaruhan hidup atau mati untuk karier dan masa depanmu."

Setelah briefing yang menegangkan, Raka bergegas menuju arena latihan di lantai dua. Lampu merah berkedip cepat, menandakan sesi terakhir yang membakar batas kesabarannya. Keringat membasahi pelipisnya meski udara dingin menyelimuti kokpit Frame Salvage No. 047. Servo kiri berderit pelan, tanda kerusakan meningkat setelah latihan sebelumnya.

"Override level 7. Sekarang," perintah Nara dari balik kaca pengawas, matanya tak pernah lepas mengamati gerak-gerik Raka. "Kalau kamu ragu, ini mungkin terakhir kalimu." Raka menarik napas dalam dan mengaktifkan protokol override. Layar HUD seketika menyala, menampilkan angka-angka yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat: Respons frame +22%, Prediksi serangan +25%.

Gelombang data dari modul prototipe rahasia mengalir deras, meningkatkan kecepatan dan ketepatan geraknya. Namun, suhu inti melonjak drastis, lampu peringatan merah menyala nyaring. Drone simulasi meluncur dari dinding, menyerang dengan cepat dan presisi. Raka menggerakkan mechnya dengan lihai, mengantisipasi setiap serangan, menembak dengan akurat. Setiap kemenangan terasa nyata, setiap detik kemajuan membawa risiko.

"Bagus," suara Nara terdengar, namun nada dinginnya tidak berubah. "Tapi jangan berhenti sekarang. Tekan lebih keras, keluarkan semua yang kamu punya." Raka tahu setiap aktivasi modul mempercepat kerusakan servo kiri sebesar 12% dan menaikkan suhu inti 4 derajat dalam 30 detik. Risiko ledakan kini meningkat menjadi 14%, tapi ia harus menekan batas itu.

Sesi latihan berakhir dengan tubuh mech yang lebih rapuh, tapi dengan data terukur yang memberinya harapan. Raka memandang layar, menyadari bahwa kemajuan ini datang dengan harga mahal—harga yang mungkin tak bisa ia bayar jika gagal.

Sementara itu, di lantai atas Kota Menara Mekanis, Komandan Irawan duduk di ruang rahasianya, menatap holografik yang menampilkan data Raka dan tekanan waktu yang terus berjalan: 6 hari 22 jam 3 menit tersisa untuk stabilisasi Frame Salvage No. 047. Suara Nara yang masuk melalui komunikasi menyampaikan kekhawatiran tajam, "Kerusakan servo kiri dan suhu inti yang tinggi bisa jadi bencana saat ujian publik besok. Faksi-faksi kuat makin memperketat pengawasan. Jika Raka gagal, jalur pendakian akan ditutup lebih cepat."

Irawan menghela napas panjang, bergulat dengan dilema pribadi. Menjaga aturan sistem yang ketat atau memberi ruang bagi potensi luar biasa seperti Raka? Tekanan dari para petinggi faksi kuat makin menekan. "Kalau Raka menang di lantai empat, kita harus mempertimbangkan perubahan kebijakan," gumamnya. "Tapi membuka celah bagi anomali seperti dia bisa merusak keseimbangan yang selama ini dijaga."

Sinyal komunikasi berikutnya datang dari perwakilan faksi kuat yang suaranya disamarkan, memperingatkan, "Komandan, sistem ini adalah tulang punggung Kota Menara. Jangan biarkan kemenangan sementara menggoda perubahan yang bisa merusak tatanan." Irawan mengangguk pelan, sadar bahwa keputusan besok akan menentukan masa depan menara dan nasib Raka.

Detik-detik menuju ujian publik lantai empat semakin mendekat. Raka berdiri di koridor menuju arena, jantungnya berdegup seirama dengan hitungan mundur di layar besar: tiga puluh detik. Bayangan Komandan Irawan dan tatapan dingin Nara menghantui pikirannya.

Ini bukan sekadar ujian biasa. Ini pertaruhan hidup dan mati di hadapan 50.000 penonton yang menunggu dengan napas tertahan. Tangan kanannya menggenggam erat protokol stabilisasi darurat—kartu terakhir yang bisa menggandakan kekuatan, tapi membawa risiko sistem meledak.

Nara pernah memperingatkannya, “Kalau kau pakai itu sekali, kau nggak akan bisa kembali normal.” Namun Raka tahu, tanpa itu, peluangnya tipis. Dengan tekad membara, ia menekan tombol aktivasi. Getaran dingin merambat menyusup ke sarafnya, membangkitkan adrenalin dan ketegangan.

Pintu arena terbuka dengan gemuruh sorak sorai penonton. Lampu sorot menyorot tajam ke arah Raka, yang menatap ke depan tanpa ragu. Komandan Irawan berdiri di sisi arena, matanya tajam menilai, sementara Nara di tribun, menatap dengan dingin dan penuh arti.

Jantung Raka berdetak kencang. Semua risiko, semua tekanan, semua harapan—semua tertumpu pada satu momen ini. Ia melangkah maju, siap mempertaruhkan segalanya demi membuktikan bahwa kemajuan yang telah diraihnya bukan kebetulan, melainkan jalan menuju tangga yang lebih tinggi di Kota Menara Mekanis.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced