Novel

Chapter 10: Chapter 10

Bab 10 dibuka dengan timer ultimatum yang menekan. Raka menghadapi konfrontasi langsung dengan Komandan Irawan, lalu sesi latihan intensif dengan Nara yang menghasilkan gain terukur (+22% respons, +25% prediksi serangan) dengan biaya kerusakan servo kiri dan suhu inti yang naik cepat. Di ruang briefing, Komandan Irawan menunjukkan dilema internal antara aturan sistem dan potensi Raka, sementara Danu menambah tekanan permusuhan. Bab ditutup dengan hook menuju ujian publik lantai empat yang akan disiarkan ke seluruh menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Timer di panel lengan Raka menunjukkan sisa waktu tepat enam hari, dua puluh dua jam, dan tujuh belas menit. Komandan Irawan berdiri tegak di balik meja baja ruang komando lantai atas Kota Menara Mekanis, cahaya neon biru holografik menyinari garis wajahnya yang keras seperti baja.

“Frame Salvage No. 047 sudah melewati batas toleransi,” kata Irawan langsung, suaranya datar tapi tajam. “Dua jam lagi kalau inti tidak distabilisasi, skorsing permanen. Faksi Biru sudah ajukan petisi percepat recall. Mereka tidak mau ada penyusup seperti kau mengganggu tangga mereka.”

Raka mengepalkan tangan hingga buku jari memutih. Bau sealant murah dari servo kiri frame-nya masih menyengat di hidung. “Saya akan masuk ujian lantai empat besok, Komandan. Dengan frame ini.”

Irawan menyipit. “Danu sudah menunggu di sana. Bukan drone simulasi. Ia akan mematahkanmu di depan lima puluh ribu pasang mata.”

Raka mengangguk sekali, berbalik, dan keluar ruangan. Setiap langkah mengirim getaran kecil ke servo kiri—pengingat bahwa setiap detik aktivasi modul prototipe akan menambah 12% kerusakan dan 4 derajat suhu inti.

Di arena latihan lantai menengah, udara panas bercampur bau oli menyambutnya. Nara sudah berdiri di tengah ring, lengan disilangkan, matanya tajam dengan campuran peringatan dan perhitungan.

“Kalau mau buktikan diri besok, tunjukkan sekarang,” kata Nara sambil melempar remote simulasi. “Aktifkan modul prototipe sepenuhnya. Tapi ingat—suhu inti naik terlalu cepat, frame-mu bisa meledak sebelum Danu menyentuhmu.”

Raka naik ke kokpit Frame Salvage No. 047. Layar menyala merah: Servo Kiri – Kerusakan 37%. Ia menarik napas, lalu mengaktifkan protokol override level 7 yang tersembunyi di log tempur rusak.

Respons frame melonjak 22%. Gerakan menjadi tajam, presisi. Nara meluncur maju dengan frame latihan kelas menengahnya. Tiga tembakan energi datang beruntun—modul memprediksi sempurna. Raka menghindar, membalas tendangan rotor yang mendarat keras di pelindung Nara.

Papan skor langsung berubah: +18% Efisiensi Respons.

Alarm berbunyi. Suhu inti naik 4 derajat dalam tiga puluh detik. Asap tipis mengepul dari sambungan servo kiri. Raka merasakan getaran hebat di lengan kirinya.

“Kendalikan!” teriak Nara melalui speaker.

Raka menggertakkan gigi. Ia memaksa frame berputar, menghindari serangan balasan, lalu menembakkan dua rudal simulasi yang tepat mengenai target. Skor naik lagi: Prediksi Serangan +25%. Beberapa cadet di tribun observasi berbisik kaget—performa tak terduga dari pemilik frame rusak.

Dua menit kemudian, suhu inti sudah 89 derajat. Layar berkedip: Risiko Ledakan Inti 14%. Raka mematikan modul dengan paksa. Frame langsung melambat, servo kiri berderit nyaring.

Nara mendekat dan membuka visor. “Kau naik 22% dalam dua menit, Raka. Tapi besok Danu tidak akan beri jeda. Faksi kuat sedang menonton setiap detik.” Suaranya merendah. “Kalau kau mati di arena, aku yang rugi taruhan terbesar tahun ini.”

Raka turun dari kokpit, keringat membasahi punggung. “Saya punya protokol stabilisasi darurat sekali pakai di log. Itu harus cukup.”

Nara menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. “Besok kita lihat apakah kau bisa mengendalikan tangga atau malah hancur bersamanya.”

Mereka berjalan ke ruang briefing lantai empat. Komandan Irawan sudah menunggu, dikelilingi layar data dan dua perwira muda. Danu berdiri di sudut, menyeringai sinis dengan lengan disilangkan.

Irawan menatap Raka dan Nara bergantian. “Ujian besok disiarkan ke seluruh menara. Lima puluh ribu pasang mata akan lihat apakah anak bawah tangga ini layak naik atau hanya ledakan kecil yang terlupakan.” Ia menunjuk layar utama: Stabilisasi Inti – 41%. “Aturan jelas. Tidak ada pengecualian.”

Salah satu perwira menyela, “Faksi Biru menahan semua sealant darurat. Kalau frame meledak, mereka akan bilang ini kesalahan sistem yang membiarkan sampah naik terlalu cepat.”

Irawan diam sejenak. Matanya tertuju pada data rahasia baru di log Raka—protokol override level 7 dan modul stabilisasi darurat prototipe. Sesuatu berubah di wajahnya yang keras.

“Peraturan dibuat untuk menjaga tangga tetap stabil,” gumam Irawan pelan, hampir pada diri sendiri. “Tapi kalau kita memaksakan aturan sekarang… kita mungkin membunuh potensi yang bisa mengubah seluruh menara.” Ia mengusap dagu, tatapannya tertuju tajam pada Raka. “Besok kau bertarung di depan umum. Kalau selamat dan menang, aku akan pertimbangkan usulan perubahan kebijakan—satu celah kecil untuk kasus seperti ini. Tapi kalau gagal… tidak ada lagi pembicaraan pengecualian.”

Danu tertawa pendek. “Semoga frame rusakmu tidak meledak di depan kamera, rendahan.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap timer yang terus berdetak: 6 hari 22 jam 3 menit. Di luar jendela, lampu-lampu Kota Menara Mekanis berkelap-kelip, ribuan lantai lebih tinggi menunggu seperti tangga yang tak pernah berhenti naik.

Besok, seluruh menara akan menyaksikan. Satu langkah salah, dan semuanya berakhir dalam ledakan api. Satu langkah benar, dan tangga di depannya akan terbuka lebih lebar—dengan harga yang jauh lebih mahal lagi.

Raka mengepalkan tangan. Ia sudah siap mempertaruhkan segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced