Novel

Chapter 12: Chapter 12

Bab 12: Raka menghadapi ujian publik lantai empat di depan 50.000 penonton dengan Frame Salvage No. 047 yang rusak. Ia mengaktifkan modul prototipe rahasia, meraih kemenangan dengan gain terukur (+22% respons, +25% prediksi serangan) meski servo kiri hancur total setelah aktivasi protokol stabilisasi darurat. Komandan Irawan memberikan kesempatan terakhir dan membuka akses lantai lima. Nara bersaksi mendukung Raka. Kemenangan membuka tangga baru, tapi hanya menyisakan dua aktivasi modul sebelum keruntuhan total, sementara faksi kuat mulai bergerak.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 12

Raka berdiri di ruang persiapan lantai empat, napasnya pendek. Timer dinding menunjukkan 6 hari 21 jam tersisa sebelum ultimatum Komandan Irawan berakhir. Suhu inti Frame Salvage No. 047 sudah menyentuh 93 derajat Celsius, lampu peringatan merah berkedip tanpa henti di kokpit. Servo kiri menunjukkan kerusakan 42 persen—setiap gerakan kecil mengirim getaran tajam ke lengan kanannya. Dia menatap tombol protokol stabilisasi darurat, tapi tangannya tidak bergerak. Belum.

"Aku masih bisa bertaruh dengan ini," gumamnya, rahang mengeras.

Nara berdiri di sampingnya, lengan bersilang. "Faksi kuat sudah pasang taruhan melawanmu, Raka. Mereka siap menutup akses lantai lima begitu kau goyah. Komandan Irawan tak akan melindungimu kalau kau hanya memberi mereka alasan kecil."

Raka menoleh sekilas. "Mereka selalu mencari alasan. Hari ini aku beri mereka yang sebaliknya."

Lampu hijau arena menyala. Sirene pendek berbunyi. Raka melangkah masuk tanpa menoleh lagi, meninggalkan Nara yang diam dengan mata menyipit.

Arena publik lantai empat membentang luas di bawah sorotan lampu neon putih. Lebih dari 50.000 penonton—baik yang memadati tribun maupun menonton siaran langsung di seluruh Kota Menara Mekanis—membuat udara terasa bergetar. Monitor raksasa menampilkan wajah Komandan Irawan yang dingin.

"Ujian publik lantai empat dimulai," suara Irawan menggelegar melalui speaker. "Tiga drone kelas berat dan satu unit pengawal lapis baja. Batas waktu 45 menit. Lulus, atau frame-mu direcall hari ini juga."

Tiga drone meluncur deras dari pintu masuk, diikuti derakan berat unit pengawal yang muncul seperti bayangan besi. Raka langsung mengaktifkan modul prototipe rahasia. HUD menyala hijau tajam: prediksi serangan melonjak +25 persen, respons frame naik +22 persen. Tapi dalam tiga detik pertama, suhu inti naik empat derajat dan servo kiri tergerus tambahan 12 persen.

Drone pertama menukik lurus. Raka memutar tubuh mech dengan presisi yang baru ia rasakan, menghindar sambil melepaskan tembakan presisi ke rotor utama drone kedua. Ledakan kecil menyemburkan percikan api. Unit pengawal bergerak zig-zag tak terduga, tapi modul prototipe memberi Raka celah tepat—satu tembakan ke sambungan leher membuat pengawal roboh dengan asap tebal.

Penonton bersorak sekali, keras dan singkat. Raka tidak mendengarnya lama. Dua drone tersisa diselesaikan dalam rentetan gerakan cepat: tembakan demi tembakan didasari prediksi modul yang akurat. Ketika sirene kemenangan berbunyi, layar besar menampilkan tulisan tebal: LULUS UJIAN LANTAI EMPAT.

Skor akhir Raka terpampang jelas: 87 persen efisiensi—tertinggi di antara peserta rendah rank yang pernah mencapai lantai ini.

Komandan Irawan muncul lagi di monitor. "Raka dari peringkat terendah lulus. Satu jalur naik cepat dibuka hari ini. Tapi frame-mu harus distabilisasi sekarang, atau aku recall sendiri sebelum faksi kuat turun tangan."

Di ruang pasca-ujian yang pengap dengan bau ozon dan logam panas, Raka berdiri di depan meja pemeriksaan. Lengan kanannya masih bergetar. Nara berdiri di samping sebagai saksi resmi.

Irawan melangkah masuk, tatapannya tajam. "Kau menang dengan sah. Nara, kau membelanya?"

"Aku menyaksikan semuanya," jawab Nara tegas. "Dia memaksa sistem melampaui batasnya sendiri. Bukan curang."

Untuk sesaat, keraguan kecil melintas di wajah Irawan—satu denyut yang cukup bagi Raka melihat celah. Komandan itu menghela napas. "Baik. Satu kesempatan terakhir. Jika kau gagal mengendalikan frame ini di lantai berikutnya, aku tutup jalurnya sendiri."

Raka tidak menunggu. Ia menekan telapak tangan ke port lengan mech. "Protokol stabilisasi darurat—aktif."

Lampu merah berkedip cepat. Suhu inti langsung turun ke 67 derajat. Tapi servo kiri meledak dalam derit logam menyakitkan. Lengan mech itu mati total, tergantung lemas di sisi tubuh. Beban baru terasa berat di pundak Raka.

Dia tetap berdiri tegak, keringat mengalir di pelipis. "Masih bisa berdiri."

Irawan menatap servo yang hancur, lalu ke wajah Raka. Suaranya tak lagi sekeras tadi. "Kau lolos. Tapi ini bukan akhir."

Nara melangkah setengah langkah maju. "Saya saksi. Dia sudah membuktikan diri hari ini."

Dengan frame yang baru distabilisasi tapi kini cacat permanen, Raka naik ke balkon observasi lantai lima yang baru terbuka baginya. Angin sejuk dari ketinggian menyapu wajahnya. Layar raksasa di balkon menyala, menampilkan peringkat barunya yang melonjak tajam—dari dasar langsung ke posisi yang membuat beberapa nama faksi kuat berubah warna merah.

Tapi di sudut layar yang sama, data modul prototipe berkedip merah: Hanya dua aktivasi penuh tersisa sebelum keruntuhan total.

"Dua kesempatan lagi," bisik Raka, tangannya mengepal di pagar balkon.

Nara berdiri di sampingnya, dahi berkerut. "Setiap lantai yang kau buka akan membawa ancaman lebih besar. Faksi kuat sudah bergerak. Mereka tak akan diam melihat pendatang seperti kau naik terlalu cepat."

Raka menatap ke atas, ke menara yang menjulang tanpa ujung, lantai-lantai di atas masih gelap dan penuh bayangan. Kemenangan hari ini terasa manis, tapi sudah mulai dingin. Servo kiri yang hancur mengingatkannya pada biaya yang harus dibayar setiap kali ia memaksa batas.

Dia menggenggam pagar lebih erat. "Aku tak akan berhenti di sini."

Di kejauhan, lampu-lampu faksi kuat mulai berkedip lebih terang, seperti mata yang sedang mengawasi. Raka tahu, tangga yang baru terbuka ini bukan akhir perjalanan—melainkan awal dari pendakian yang jauh lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced