Novel

Chapter 7: Chapter 7

Bab 7 mengawali dengan Raka menghadapi ultimatum keras dari Komandan Irawan yang mengancam jalur pendakiannya jika ia mundur dari ujian lantai empat. Di tengah waktu yang semakin menipis dan tekanan faksi kuat yang memblokir akses suku cadang penting, Raka menegaskan tekadnya untuk maju. Pertemuan dengan Nara di arena latihan mempertegas risiko penggunaan modul prototipe rahasia yang mempercepat kerusakan Frame Salvage No. 047, sekaligus memperumit hubungan rival-mentor mereka. Di ruang kontrol, Raka menemukan data rahasia tersembunyi: protokol override level 7, modul stabilisasi darurat yang bisa mengubah arah pertarungan tapi dengan risiko ledakan inti fatal. Leverage baru ini membuka peluang sekaligus jebakan, menyiapkan panggung untuk ujian besar esok hari dan memperdalam tekanan dari faksi-faksi kuat yang berusaha menutup jalur pendakian peserta rendah.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 7

Raka berdiri tegak di hadapan Komandan Irawan di ruang komandan, meski tekanan dari ultimatum yang belum lama terlontar masih menghujam tajam di dadanya. Timer di meja komandan berdetak tanpa ampun, menunjukkan hitungan mundur stabilisasi frame yang tersisa hanya lima menit. Suara Komandan Irawan tegas dan dingin. “Kau harus mundur dari ujian lantai empat. Tanpa dukungan faksi, peluangmu nyaris nol. Ini perintah.”

Raka menahan napas, tatapannya tak bergeming saat ia membalas, “Saya tidak akan mundur, Komandan. Saya yakin bisa melewati ini—meski risikonya besar.” Jari-jarinya mengepal tanpa sadar, darah muda membara dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Di sudut ruangan, Nara mengamati dengan mata penuh kecemasan, namun ada sedikit dukungan tersembunyi dalam pandangannya.

Komandan Irawan menatap tajam, lalu menyindir, “Keputusanmu akan menentukan nasib seluruh regu. Jangan sampai membebani kami.” Namun rintangan paling berat bukan hanya kata-kata itu—laporan baru yang masuk menunjukkan faksi kuat semakin agresif menutup jalur perbaikan untuk Frame Salvage No. 047.

Waktu menipis. Suku cadang sealant darurat yang sangat dibutuhkan kini diblokir. Faksi-faksi kuat, termasuk Faksi Biru, mengajukan petisi untuk mempercepat recall frame salvage yang peringkatnya di bawah 80—kondisi yang jelas mengancam posisi Raka. Tekanan ini bukan sekadar ancaman, melainkan penghalang nyata yang menguji keteguhan tekadnya.

Raka menarik napas dalam, menatap Komandan Irawan langsung di mata. “Saya tidak akan mundur, Komandan. Lantai empat adalah ujian saya, dan saya akan melewatinya—walau harus menanggung risiko sebesar apa pun.” Suaranya tegas, namun di balik itu, pikirannya berputar cepat mencari celah dan peluang.

Beberapa jam kemudian, di arena latihan lantai dua, Raka bertemu dengan Nara yang berdiri santai mengenakan baju zirah akademi hitam legam. Tatapan Nara tajam, penuh perhitungan.

“Jangan kira modul prototipemu akan terus menolongmu tanpa konsekuensi,” kata Nara dingin, suaranya menusuk seperti racun. “Aku tahu betul risikonya—kerusakan yang semakin parah, bahkan bisa mengorbankan nyawamu.”

Raka mengerutkan dahi, merasakan tangan kanannya bergetar menahan dorongan kuat dari dalam tubuhnya. “Aku sudah mempertimbangkan itu. Tapi aku tidak akan mundur. Modul ini satu-satunya jalan untuk melewati batasanku.”

Nara melangkah maju, senyum sinis terukir di wajahnya. “Kalau begitu, bersiaplah menghadapi konsekuensi yang tidak bisa kau tebak. Aku di sini bukan hanya untuk menguji kemampuanmu, tetapi juga mental dan keteguhan hatimu.” Tatapan mereka beradu, pertarungan tanpa pedang tapi penuh ancaman tersembunyi.

Raka menarik napas dalam, matanya tak bergeming. “Aku tahu risikonya, Nara. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang.” Jari-jarinya mengepal erat, ketegangan yang hampir meledak terasa nyata. “Modul prototipe itu satu-satunya cara membuktikan aku lebih dari sekadar angka rendah dalam akademi ini.”

Nara mengerutkan kening, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah. Aku akan mengawasi, tapi jangan harap aku akan memberi jalan mudah.”

Ketegangan di antara mereka menetapkan dinamika rival-mentor yang kompleks, menambah beban emosional sekaligus menegaskan bahwa jalur Raka tidak akan mudah.

Malamnya, di ruang kontrol dan diagnostik frame di lantai dasar Kota Menara Mekanis, Raka duduk terpaku di depan layar. Jam dinding berdetak tanpa ampun: tersisa 6 hari 22 jam 17 menit menuju ujian lantai empat. Kondisi Frame Salvage No. 047 semakin kritis—servo kiri bocor makin parah, suhu inti melonjak setiap kali modul prototipe diaktifkan.

Tekanan dari faksi kuat yang menahan suku cadang sealant darurat menambah beban berat. Namun bukan itu yang membuatnya berhenti sejenak. Matanya terpaku pada deretan kode log frame yang baru saja berhasil ia decrypt. Baris data tersembunyi, terbungkus enkripsi tingkat tinggi, mulai terurai di layarnya.

Protokol override level 7—sebuah modul stabilisasi darurat prototipe yang sebelumnya tak pernah ia ketahui ada di dalam frame ini. Satu kali pakai bisa menstabilkan inti energi dan servo secara instan, memberi keunggulan luar biasa di arena. Tapi risikonya fatal: ledakan inti yang bisa menghancurkan semua harapannya jika dipaksakan lebih dari sekali.

Raka menghela napas dalam. Ini adalah leverage yang selama ini ia cari—jalan keluar dari defisit yang mengekangnya. Tapi jebakan maut yang bisa mengakhiri kariernya kapan saja.

Jika ia gunakan terlalu cepat, frame bisa meledak dan semuanya berakhir sebelum ujian dimulai. Jika ia simpan, ia harus melawan Danu dengan frame yang rapuh dan risiko kerusakan terus meningkat.

Dia menatap layar, menyusun strategi baru. Data rahasia ini membuka peluang yang belum pernah ia miliki sebelumnya, tapi juga menambah taruhan yang harus ia bayar.

Di balik dinding ruang kontrol itu, ketegangan membara. Waktu terus berjalan, faksi kuat makin agresif menutup jalur perbaikan, dan lawan di ujian lantai empat, Danu, sudah menunggu dengan sikap permusuhan terbuka.

Raka tahu, pilihan yang diambilnya malam ini akan menentukan nasibnya—bukan hanya di arena, tapi juga dalam hirarki Kota Menara Mekanis yang kejam.

Dengan tangan sedikit bergetar, ia menyimpan data rahasia itu sebagai opsi terakhir, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan datang. Leverage baru ini adalah harapan sekaligus jebakan, membuka pintu ke peluang lebih tinggi tapi juga risiko yang tak terbayangkan.

Dan di luar sana, bayang-bayang faksi kuat semakin menutup ruang gerak.

Bab ini ditutup dengan Raka memegang leverage baru yang menjanjikan, memicu ketegangan dan harapan sekaligus membuka pertanyaan besar tentang masa depan jalur pendakiannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced