Novel

Chapter 6: Chapter 6

Bab 6 membuka langsung dengan Raka menghadapi ultimatum Komandan Irawan di ruang komandan: stabilkan Frame Salvage No. 047 sebelum uji coba lantai empat besok pagi melawan Danu, atau frame direcall. Tekanan meningkat saat faksi kuat mempersulit akses suku cadang. Nara menguji mental Raka di ruang latihan dengan memperingatkan risiko modul prototipe yang mempercepat kerusakan inti. Di area perbaikan, Danu menantang terang-terangan sambil faksi menahan sealant penting. Komandan Irawan memberikan peringatan terakhir bahwa faksi bisa menutup seluruh jalur pendakian peserta rendah. Raka tetap berkomitmen maju, dan di akhir bab ia menemukan data rahasia tersembunyi di log frame yang menjanjikan protokol stabilisasi darurat—membuka leverage baru tepat sebelum ujian besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 6

Servo kiri Frame Salvage No. 047 bergetar pelan di ruang komandan, layar diagnostik menunjukkan suhu inti sudah menyentuh 87 derajat meski mesin sedang mati. Timer ultimatum di pojok layar berdenyut: 6 hari 22 jam 17 menit. Raka berdiri tegak di depan meja logam, keringat dingin menetes di pelipisnya.

Komandan Irawan mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya yang tebal, suaranya rendah tapi menusuk. “Besok pagi, lantai empat. Lima drone menengah plus unit pengawal berat. Dan Danu sudah mendaftar sebagai lawan langsungmu. Stabilkan frame malam ini, atau saya ajukan recall sebelum matahari terbit.”

Raka menelan ludah. “Komandan, suku cadang sealant darurat yang saya pesan kemarin ditolak. Faksi Biru bilang stok hanya untuk peringkat atas.”

Irawan menyipitkan mata. “Mereka mengawasi sejak skor 1.870 kemarin. Kamu naik terlalu cepat untuk orang yang bawa bangkai. Jika inti meledak di arena besok, bukan hanya mech kamu yang hilang—peringkatmu akan jatuh ke dasar lagi, dan aku yang akan kena tegur.” Ia mencondongkan tubuh. “Faksi besar tidak suka ada yang naik dengan cara kotor. Mereka bisa tutup akses seluruh lantai perbaikan kalau mau.”

Raka merasakan denyut di pergelangan tangan kirinya—modul prototipe rahasia masih terpasang, memberikan +20% respons yang membuat jarinya gatal ingin mencoba. Tapi setiap detik penggunaannya mempercepat bocornya inti. Ia mengangguk pelan, suaranya tegas meski dada sesak. “Saya akan hadapi besok. Dengan atau tanpa suku cadang baru.”

Irawan menghela napas panjang, tatapannya tidak melunak. “Kamu sudah berkomitmen di depan semua orang. Mundur sekarang berarti kamu mengaku kalah sebelum bertarung. Ingat, Raka—di Menara Mekanis ini, lantai lebih berharga daripada tahun-tahun hidupmu.”

Raka keluar dari ruangan dengan langkah berat. Koridor markas arena pembuktian terasa lebih sempit hari ini. Bau oli panas dan logam terbakar masih menempel di seragamnya. Ia langsung menuju ruang latihan lantai dua, tempat cahaya biru neon dari modul prototipe biasanya menenangkannya.

Pintu ruang latihan terbanting terbuka sebelum ia sempat menyentuh panel. Nara berdiri di ambang pintu, rambutnya yang biasa rapi kini sedikit acak-acakan, matanya menyala amarah.

“Berhenti main api, Raka,” katanya langsung, suaranya tajam. “Saya lihat data log latihanmu tadi malam. Kamu aktifkan modul itu lagi. Kerusakan servo kiri naik 12% dalam dua jam. Besok inti bisa tembus 110 derajat di tengah pertarungan.”

Raka meletakkan helm simulasi di meja, tangannya masih gemetar karena adrenalin. “Tanpa modul ini, responsku lambat tiga detik. Danu bukan lawan biasa—dia bawa frame kelas menengah penuh. Saya butuh prediksi serangan itu, Nara. Hanya itu yang membuat saya masih bisa bertahan.”

Nara melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya satu lengan. “Kamu pikir saya tidak tahu? Modul itu bukan hadiah, itu bom waktu. Kalau kamu meledak di arena besok, faksi akan bilang ‘lihat, pendatang rendah memang tidak layak’. Dan aku… aku yang akan kehilangan satu-satunya orang yang mulai membuat saya ragu dengan posisi aman saya di peringkat 42.” Suaranya merendah, hampir berbisik. “Jangan buat saya menyesal pernah memperingatkanmu.”

Raka menatap mata Nara yang biasanya dingin, kini ada sesuatu yang lebih dalam—kekhawatiran yang tidak ingin diakui. Ia merasakan tarikan di dada: Nara bukan sekadar rival, tapi juga satu-satunya orang yang benar-benar melihat potensi modul rusaknya. “Kalau saya mundur sekarang, Nara, maka semua yang sudah saya bayar dengan servo bocor ini sia-sia. Besok saya akan buktikan—modul ini bukan kelemahan, tapi keunggulan.”

Nara diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu, jangan mati bodoh. Dan ingat—kalau kamu jadi beban besok, saya tidak akan ragu menjauh.” Ia berbalik, tapi sebelum pintu tertutup, ia menambahkan tanpa menoleh, “Saya sudah lihat Danu di koridor tadi. Dia tersenyum seperti orang yang sudah menang.”

Raka berdiri sendirian di ruang latihan yang sepi, napasnya masih berat. Ia mengaktifkan simulasi ringan, hanya untuk merasakan aliran data modul. Layar menunjukkan respons naik 19,7%. Tapi suhu inti langsung melonjak 4 derajat dalam 30 detik. Biaya yang terukur, lagi-lagi.

Ia keluar menuju area perbaikan suku cadang di lantai tiga. Koridor ramai dengan mekanik dan peserta lain, tapi suasana berubah saat ia mendekati rak sealant darurat. Dua petugas faksi Biru berdiri menghalangi, lencana mereka berkilau di bawah lampu neon.

“Maaf, nomor 047,” kata salah satu dengan senyum tipis. “Stok khusus hari ini. Prioritas peringkat 50 ke atas.”

Raka merasakan darah naik ke kepalanya. “Saya hanya butuh satu unit sealant servo. Ini untuk ujian resmi besok.”

Sebelum petugas menjawab, suara tawa rendah terdengar dari belakang rak. Danu melangkah keluar, frame-nya yang mengkilap sudah terpasang sebagian di punggungnya seperti mantel perang. “Masih ngotot juga, si rendahan? Besok di lantai empat aku akan pastikan frame rusakmu ini tidak kembali ke garasi dalam keadaan utuh.”

Danu melemparkan sebuah paket kecil ke udara dan menangkapnya lagi—sealant yang seharusnya milik Raka. “Faksi kami sudah memastikan. Tidak ada jalan pintas untuk orang seperti kamu. Kalau mau naik, naik dengan cara yang benar—atau jangan naik sama sekali.”

Raka mengepalkan tangan hingga kuku menusuk telapak. Ia bisa merasakan tatapan mekanik lain yang ikut memperhatikan. “Besok aku akan hadapi kamu, Danu. Dengan mech ini. Dan aku akan buktikan bahwa bangkai ini masih bisa menggigit.”

Danu tertawa kecil. “Kita lihat saja. Jangan lupa catat skor akhirmu—kalau masih sempat.” Ia berbalik, diikuti dua petugas faksi yang langsung menutup akses rak.

Raka berjalan menjauh dengan langkah cepat, dada bergemuruh. Tekadnya bukan lagi membara—sudah menjadi baja. Tapi di balik itu, ia tahu: tanpa suku cadang, besok adalah pertaruhan nyawa mech-nya.

Di koridor utama menuju ruang komandan lagi, Komandan Irawan sudah menunggu, tangannya terlipat di belakang punggung. Wajahnya lebih gelap dari tadi.

“Raka,” panggilnya pelan tapi tegas. “Faksi kuat sudah mulai bergerak. Mereka tidak hanya menahan suku cadang—mereka sudah kirim petisi ke dewan untuk percepat recall semua frame salvage di bawah peringkat 80. Kalau kamu gagal besok, bukan cuma mech kamu yang hilang. Seluruh jalur pendakian untuk peserta rendah seperti kamu bisa ditutup selamanya.”

Raka berhenti di depannya, napasnya pendek. “Jadi ini ancaman terbuka sekarang?”

Irawan menggeleng pelan. “Ini kenyataan. Mereka takut satu keberhasilanmu akan membuka pintu bagi banyak orang. Dan aku… aku tidak bisa melindungimu di luar arena. Besok adalah medanmu sendiri.” Ia menatap Raka lama, suaranya merendah. “Jangan buat saya menyesal memberi kamu kesempatan ini.”

Raka mengangguk, rahangnya mengeras. “Saya mengerti, Komandan. Besok pagi, saya akan masuk arena dengan apa adanya. Dan saya akan keluar dengan skor yang membuat mereka berpikir dua kali sebelum menutup tangga.”

Ia berbalik, tapi sebelum melangkah jauh, tangannya tanpa sadar menyentuh panel kecil di pergelangan kiri. Modul prototipe berdenyut pelan, seolah memberi jawaban. Di balik layar diagnostik yang redup, sebuah baris data baru muncul—log tempur tersembunyi dari pemilik lama frame yang belum pernah terbaca penuh. Angka-angka aneh berkedip: protokol override level 7, koordinat resonansi inti, dan sebuah kata kunci yang membuat jantung Raka berdegup kencang: “Stabilisasi darurat prototipe—bisa dipaksa sekali sebelum ledakan.”

Raka menutup panel dengan cepat, napasnya tertahan. Data rahasia itu masih samar, tapi sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Besok bukan lagi hanya ujian. Itu adalah garis batas yang, jika ia lewati, akan membuat tangga Menara Mekanis terbuka lebih lebar—atau menelannya hidup-hidup.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced