Novel

Chapter 5: Chapter 5

Dalam Bab 5, Raka menghadapi ultimatum ketat dari Komandan Irawan untuk menstabilkan mech rusaknya dalam waktu tujuh hari sebelum recall dan penurunan peringkat drastis. Peringatan dari Nara menguji tekadnya, memperingatkan risiko penggunaan modul prototipe rahasia yang mempercepat kerusakan frame. Faksi-faksi kuat mulai mempersulit akses suku cadang, sementara rival baru, Danu, menantang Raka secara terbuka. Meski menghadapi tekanan luar biasa, Raka berkomitmen penuh mengikuti uji coba arena lantai empat dengan mech rusak dan risiko tinggi. Bab ini menegaskan biaya kemajuan yang nyata dan memperkuat konflik antara Raka, sistem, dan rivalnya, membangun ketegangan menuju ujian yang lebih berat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Jam digital di dinding ruang pengawasan menyala merah menyala: 6 hari 23 jam 41 menit. Hitung mundur itu bukan sekadar angka, melainkan batas waktu terakhir bagi Raka untuk menstabilkan Frame Salvage No. 047 yang rusak parah. Jika gagal, recall otomatis akan menghapusnya dari daftar peserta, menjatuhkan peringkatnya ke jurang terdalam yang sulit dijangkau kembali.

Komandan Irawan berdiri tegak di depan panel kontrol, tatapannya tajam menembus Raka yang duduk kaku di kursi pengamat. "Raka, aku tidak akan mengulangi ini. Tujuh hari—bukan waktu yang panjang untuk memperbaiki servo bocor dan inti energi yang hampir meledak. Jika gagal, frame akan direcall, dan peringkatmu akan terjun bebas tanpa harapan."

Raka menghela napas dalam, suara bergetar tapi penuh tekad. "Aku tahu risikonya, Komandan. Tapi aku sudah berjanji akan maju ke ujian lantai empat besok. Meski frame belum stabil, aku akan bertarung dengan apa yang kumiliki."

Komandan Irawan mendekat, memperlihatkan layar monitor yang menampilkan data kerusakan frame. "Lihat ini. Setiap aktivasi modul prototipe rahasiamu mempercepat kerusakan inti dan servo. Faksi-faksi kuat mulai mengawasi, dan mereka sudah mempersulit aksesmu ke suku cadang. Mereka tidak mau pendatang seperti kamu naik cepat."

Di sudut ruangan, layar lain menampilkan pendaftaran resmi Danu—rival langsung Raka—yang siap menantang di ujian lantai empat besok. Tekanan itu nyata dan terus menekan.

Langkah Raka beralih ke koridor teknis lantai tiga, di mana Nara menunggunya dengan ekspresi serius. "Raka, kau tidak mengerti. Modul itu kunci loncatan kekuatanmu, tapi risiko kerusakannya sangat fatal. Jangan biarkan ambisimu membutakan akal sehat," kata Nara dengan nada tajam, matanya menatap langsung ke perangkat prototipe yang tersembunyi di tangan Raka.

"Aku sudah hitung risikonya. Kalau aku mundur sekarang, aku kalah sebelum bertarung," balas Raka, napasnya memburu. "Ini satu-satunya jalan untuk naik cepat."

Nara mengerutkan dahi, suaranya turun berat. "Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Ini soal hidup dan mati. Aku bisa membantumu, tapi kau harus dengar aku."

Konflik antara keduanya membara, rival yang sekaligus mentor, memaksa Raka memilih antara peluang berbahaya dan mundur dari medan yang membakar semangatnya.

Di area umum menara, Raka menghadapi tantangan lain: akses perbaikan suku cadang yang mulai tertutup rapat. Komandan Irawan memberi kabar berat, "Faksi Utara resmi melarang distribusi bagian kritis ke timmu. Kami tidak bisa melanggar perintah."

Danu muncul dengan senyum sinis, "Bagaimana rencanamu, Raka? Tanpa suku cadang, kau cuma omong kosong di sini." Suaranya menggema, menambah beban yang menekan dada Raka.

Dengan denyut nadi semakin cepat, Raka tahu satu-satunya jalan adalah mengandalkan modul prototipe yang berisiko. Ia berjalan ke ruang kerja sempit, memasang kabel-kabel kecil ke prototipe terbaru. Percikan energi biru menyala, menandai kesiapan untuk ujian berikutnya. Dari balik kaca tebal, bayangan Danu tersenyum sinis, dikelilingi pengawal faksi yang menghalangi bantuan teknis.

Keesokan harinya, di arena latihan lantai tiga, Raka berdiri tegak, menatap Komandan Irawan yang duduk dingin sebagai pengawas. "Saya akan ikut uji coba arena lantai empat besok," tegas Raka, suaranya menggema di ruang.

Komandan Irawan mengernyit, melihat kondisi frame yang masih bergemeretak. "Kau tahu risikonya. Mech-mu hampir tak bisa ditambal lagi. Sistem pengawasan akan ekstra ketat," katanya memperingatkan.

Nara menatap Raka dengan campuran kekhawatiran dan ketidakpercayaan. Raka mengangkat tangan, menekan tombol kecil di lengan frame-nya. "Aku sudah siapkan sesuatu. Modul prototipe rahasia yang bisa meningkatkan daya tempur, meski risiko tinggi," ucapnya tanpa ragu.

Kilatan energi aneh menyelimuti mech, suara mekanik mengerang berat. Komandan Irawan menatap dengan mata melebar. "Kalau kau nekat, jangan salahkan aku kalau ini berakhir fatal," peringatannya.

Raka menggigit bibir, panas menyebar dalam rangkaian frame-nya. Napas dalam ia tarik, tangan mengepal di kokpit sempit. "Aku tak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara membuktikan diri," katanya, mata tajam menatap layar yang mulai bergetar. Modul prototipe itu mulai bekerja, menguji batas kemampuan mech rusaknya.

Setiap detik berlalu menambah ketegangan, sebab konsekuensi dari keputusan berani ini segera terasa. Ujian lantai empat bukan sekadar tes kekuatan, tapi ujian hidup dan mati yang akan menguji apakah Raka mampu menahan tekanan yang kian meninggi.

Bab ini menutup dengan rasa urgensi yang mendalam—Raka menghadapi konsekuensi nyata dari keputusannya dan menguji batas kemampuan mech rusaknya di ujian yang jauh lebih berat. Pertaruhan bukan hanya soal peringkat, tapi tentang bertahan hidup dalam sistem yang kejam dan penuh intrik. Tekanan dari faksi kuat makin nyata, dan Komandan Irawan memperingatkan risiko besar yang mengintai di depan, membuka babak baru yang lebih sulit dan menegangkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced