Novel

Chapter 4: Chapter 4

Bab 4 dibuka langsung dengan tekanan ultimatum tujuh hari (sudah tersisa enam hari 23 jam) setelah kemenangan parsial di lantai tiga. Raka menghadapi Komandan Irawan yang menegaskan konsekuensi recall, Nara yang memperingatkan sekaligus menguji, serta Danu yang menantang langsung di ujian lantai empat. Konflik inti memanas melalui dialog dan pilihan tegas Raka untuk tetap maju. Bab diakhiri dengan komitmen Raka untuk uji coba arena besok, mempertegas tekanan faksi dan biaya yang semakin nyata dari modul prototipe.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 4

Raka berdiri di depan panel kontrol ruang observasi lantai tiga, napasnya pendek. Layar holografis menampilkan hitungan mundur tujuh hari yang menyala merah: 6 hari 23 jam 41 menit. Servo kiri Frame Salvage No. 047 sudah naik kerusakannya 12 persen setelah ujian kemarin. Suhu inti sempat menyentuh 96 persen. Setiap detik yang lewat berarti peluang recall semakin dekat.

Komandan Irawan berdiri tegak di hadapannya, seragam hitamnya tanpa kerut. "Stabilkan inti dan servo dalam tujuh hari, Raka. Kalau gagal, frame ini direcall otomatis. Peringkatmu jatuh ke dasar. Kesempatan ke lantai empat hilang." Suaranya datar, tapi tegas seperti perintah militer. "Modul prototipe rahasiamu itu memberi +20% respons dan prediksi serangan, tapi setiap kali aktif, inti semakin bocor. Ini bukan lagi ujian simulasi. Ini taruhan nyata di Kota Menara Mekanis."

Di sudut ruangan, Nara bersandar pada dinding logam dengan lengan disilangkan. Senyum tipisnya tidak mencapai mata. "Tujuh hari untuk frame sekarat? Danu sudah menunggu di lantai empat. Dia peringkat 45, sponsor faksi kuat. Kalau kau naik dengan cara licik seperti kemarin, mereka tidak akan diam saja. Setiap lantai di menara ini bernilai lebih dari tahun-tahun hidupmu. Naik satu tingkat, musuh bertambah tiga kali lipat."

Raka mengepalkan tangan. Skor 1.870 poin dan peringkat 87 yang baru saja diraih terasa seperti pinjaman berbunga tinggi. Modul prototipe yang memberinya kemenangan parsial kemarin kini terasa seperti bom waktu di dada mech-nya. Tapi mundur berarti kembali ke lantai dasar, ke lotere salvage yang sama. "Saya terima tantangannya," katanya tegas. "Saya akan stabilkan frame ini sebelum waktu habis."

Nara mengangkat alis. "Kata-kata bagus. Tapi di menara ini, stabil bukan berarti aman. Itu hanya berarti kau masih bisa bertarung satu kali lagi."

Komandan Irawan mematikan layar dengan satu ketukan. "Waktu mulai sekarang. Jangan buang detik untuk omong kosong."

Raka keluar dari ruang kontrol dengan langkah cepat. Lorong lantai tiga terasa lebih sempit: dinding baja berlapis sensor neon hijau, udara berbau oli panas dan ozon. Setiap lift vertikal yang melintas bukan sekadar alat angkut—ia adalah tangga yang semakin curam. Lantai satu untuk yang tak punya apa-apa. Lantai tiga untuk yang mulai dilihat. Lantai empat? Wilayah di mana faksi-faksi kuat mengawasi setiap naik-turun peringkat seperti elang melihat mangsa.

Nara mengikuti tanpa diundang. Mereka masuk ke lift bersama. Tiba-tiba lift berhenti di koridor transisi. Danu—tubuh besar, seragam cerah faksi merah—menghalangi pintu. Senyumnya lebar, tapi matanya dingin.

"Lihat siapa yang naik peringkat dengan frame bocor," kata Danu sambil menyeringai. "Skor 1.870 kemarin bikin orang bicara di kantin. Tapi lantai empat bukan tempat untuk pemulung salvage. Servo kirimu itu cuma disegel sealant murah. Aku kasih waktu lima menit saja sebelum roboh di arena. Mau coba?"

Raka menatap langsung. "Saya tidak butuh keberuntungan. Saya punya cara sendiri. Dan cara itu sudah buktikan di lantai tiga." Ia ingat bagaimana modul prototipe memberi prediksi serangan yang tepat, meski inti panas membara. Itu gain nyata—tapi biayanya sudah terukur di layar diagnostik.

Nara menyela pelan, suaranya tenang tapi tajam. "Danu benar satu hal. Faksi-faksi besar tidak suka ada peringkat rendah naik terlalu cepat. Mereka sudah mulai bertanya-tanya soal frame No. 047-mu. Kalau kau naik ke lantai empat, tekanan bukan cuma dari arena. Bisa dari luar juga."

Lift berdengung naik. Pintu terbuka ke koridor lantai empat yang lebih luas, panel holografik menampilkan papan peringkat real-time. Nama Raka masih terlihat kecil di antara ratusan peserta ber-sponsor. Di sini, setiap nama sudah punya koneksi, setiap mech sudah di-upgrade pabrik. Peringkat 87 di lantai tiga terasa seperti nol besar di lantai ini.

Mereka masuk ke ruang briefing ujian. Komandan Irawan sudah menunggu di depan meja proyeksi, Danu duduk santai dengan kaki terentang. Nara mengambil posisi di samping Raka, sikapnya dingin tapi matanya penuh perhitungan.

"Ujian lantai empat adalah ujian bertahan dan adaptasi," kata Komandan Irawan tanpa basa-basi. Proyeksi menampilkan simulasi arena: medan yang berubah-ubah, drone kelas menengah plus dua unit pengawal berat, ditambah gangguan elektromagnetik dari faksi pengawas. "Raka, kau punya enam hari tersisa untuk stabilkan frame. Kalau inti meledak di tengah ujian, bukan hanya kau yang gagal—sistem akan cap kamu sebagai risiko tinggi. Peringkat turun permanen."

Danu tertawa pendek. "Aku sudah daftar sebagai lawan langsungmu di sesi uji coba besok. Kalau kau kalah, peringkatmu balik ke jurang. Mudah, kan?"

Nara menatap Raka. "Kau sudah buktikan sesuatu di lantai tiga. Tapi bukti itu rapuh. Faksi kuat mengawasi. Mereka bisa memperlambat perbaikanmu, atau bahkan mempersulit akses suku cadang. Kalau kau mau selamat, kau harus lebih pintar dari sekadar modul rahasia itu. Dan aku... tidak akan menahan diri di arena."

Raka merasakan dada sesak, tapi bukan karena takut—karena pilihan yang kini semakin sempit. Ultimatum tujuh hari, tantangan Danu, peringatan Nara, dan bayang-bayang faksi yang mulai bergerak. Frame Salvage No. 047 dengan modul prototipe-nya adalah satu-satunya senjata, tapi juga bom yang berdetak lebih kencang setiap kali dipakai.

Ia mengangguk pelan, suaranya tegas. "Saya tidak mundur. Besok saya akan uji coba frame ini di arena lantai empat. Stabil atau tidak, saya akan buktikan bahwa keunggulan rusak ini bisa bawa saya lebih tinggi—sebelum faksi-faksi menutup pintu dan inti benar-benar meledak di depan semua orang."

Komandan Irawan menyipitkan mata. Nara diam sejenak, lalu mengangguk tipis dengan ekspresi yang sulit dibaca. Danu hanya menyeringai lebar, penuh tantangan.

Udara di ruangan terasa lebih berat. Konflik antara Raka, Nara, dan Komandan Irawan kini terbuka lebar. Tujuh hari—atau enam hari tersisa—bukan lagi soal bertahan. Ini soal membakar segala yang dimiliki demi naik satu tingkat lagi, sebelum tangga menara benar-benar tertutup selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced