The Price of Advancement
Raka berdiri di tengah arena publik lantai tiga Kota Menara Mekanis, napasnya tersengal di balik kokpit Frame Salvage No. 047. Timer recall di pergelangan mech masih berdetak: 14 menit tersisa sebelum frame ini direcall paksa. Lima drone kelas menengah melingkar di udara, sirip-siripnya bergetar siap menyerang, sementara satu unit pengawal berat berdiri tegak di depan seperti benteng besi. Servo kiri yang disegel sealant murah sudah bergetar lemah, dan suhu inti sudah naik ke 87 persen.
"Mulai," suara Komandan Irawan menggelegar dari speaker arena.
Raka tidak menunggu. Ia mengaktifkan modul prototipe rahasia yang tersembunyi di log frame rusak. Layar HUD langsung berubah: respons naik 20 persen, garis prediksi serangan muncul hijau terang. Mech-nya meluncur maju dengan lincah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dua drone pertama menembakkan laser biru. Raka memiringkan badan, menghindar, lalu membalas dengan kanon lengan kanan. Ledakan pertama mengguncang tribun. Penonton di lantai tiga berteriak kaget.
Drone ketiga dan keempat menyerbu dari samping. Modul prototipe membaca pola mereka dua detik lebih cepat. Raka memutar mech-nya, menendang satu drone hingga hancur di dinding arena, lalu menembak yang lain tepat di inti. Percikan api menyembur. Skor di papan besar naik drastis: +340 poin dalam 47 detik.
Unit pengawal berat maju, palu energinya menyala merah. Raka merasakan getaran di servo kiri—sealant mulai retak. Ia memaksa mech melompat, menghindar hantaman yang menghancurkan lantai beton. Balasan Raka tepat sasaran: dua tembakan berturut-turut ke sambungan bahu pengawal. Logam berderit, unit itu terhuyung.
Sorak penonton semakin keras. Tapi Raka tak sempat menikmati. Suhu inti sudah menyentuh 94 persen. Lampu peringatan merah berkedip di kokpit.
Di pinggir arena, Nara berdiri dengan lengan disilangkan, seragam peringkat menengahnya rapi. Saat Raka menarik napas sejenak setelah menghancurkan drone kelima, Nara berjalan mendekat melalui jalur pengamat. "Bagus sekali, Raka," katanya pelan tapi tajam, cukup keras untuk didengar dewan di tribun. "Tapi kau pakai ‘keberuntungan’ yang sama setiap kali. Frame rusak itu akan membunuhmu sebelum kau naik ke lantai lima. Atau kau memang ingin mati di depan semua orang?"
Raka membuka visor kokpit sedikit, keringat menetes di pelipisnya. "Bukan keberuntungan, Nara. Ini data yang kau anggap sampah. Modul ini memberiku prediksi yang tak dimiliki orang lain. Tapi ya, harganya mahal." Ia menunjuk indikator suhu yang terus naik. "Kau lihat sendiri."
Nara tersenyum tipis, matanya menyipit. "Kalau begitu buktikan kau bisa mengendalikan harganya. Karena di atas sana, faksi-faksi besar tak suka ada yang naik terlalu cepat dengan ‘barang rongsokan’."
Sebelum Raka menjawab, suara Komandan Irawan memotong. "Raka. Suhu inti 96 persen. Matikan modul itu sekarang atau aku hentikan ujian ini."
Raka menatap langsung ke arah tribun pengawas. "Komandan, kalau aku matikan sekarang, lima belas detik lagi pengawal itu akan menghancurkan aku. Izinkan aku dorong dua puluh detik lagi. Hanya itu yang kubutuhkan."
Irawan diam sejenak. Seluruh arena menunggu. Akhirnya ia mengangguk singkat, tapi suaranya tetap dingin. "Dua puluh detik. Setelah itu, diskualifikasi otomatis."
Raka langsung menekan pedal. Modul prototipe berdenyut lebih kuat. Prediksi serangan membentuk garis merah di HUD. Ia melesat ke depan, menghindari ayunan palu pengawal dengan jarak hanya tiga puluh sentimeter. Lalu ia menembakkan seluruh muatan kanon ke celah yang sudah terbuka di bahu unit berat itu. Ledakan besar mengguncang arena. Unit pengawal roboh dengan lutut hancur.
Skor akhir muncul di papan: 1.870 poin. Peringkat Raka naik dari dasar ke posisi 87 di lantai tiga.
Penonton bertepuk tangan. Tapi sorak itu belum reda saat Komandan Irawan sudah berdiri di tengah arena, wajahnya keras. "Kemenangan parsial diterima. Tapi kerusakan servo kiri naik 12 persen lagi. Inti frame sekarang di ambang overload. Raka, kau punya waktu tujuh hari untuk stabilkan frame ini sebelum ujian lantai empat. Kalau gagal, frame Salvage No. 047 akan direcall dan kau turun kembali ke peringkat dasar."
Raka turun dari kokpit, kakinya masih gemetar karena getaran mech. Ia melihat Nara masih berdiri di pinggir, ekspresinya campur antara kagum dan peringatan.
Danu, rival dari faksi menengah yang baru saja kalah di sesi latihan paralel, berteriak dari tribun. "Itu cuma karena drone bodoh! Di lantai empat nanti, aku yang akan lawan kau langsung, Raka!"
Komandan Irawan menoleh ke arah Danu, lalu kembali ke Raka. "Faksi-faksi sudah memperhatikan. Mereka tak suka ada yang naik dengan cara ‘tidak biasa’. Naiklah lebih tinggi, atau mereka akan tutup jalurmu sebelum kau sampai di lantai sepuluh."
Raka menatap papan peringkat yang baru saja berubah. Nama-nama di atasnya masih jauh. Timer recall di pergelangan mechnya kini menunjukkan sisa waktu yang semakin pendek. Gain-nya terlihat jelas di skor, tapi biayanya juga nyata: servo kiri semakin lemah, inti semakin tidak stabil, dan sekarang ada target di punggungnya.
Ia menggenggam helmnya erat. Tangga kenaikan baru saja terbuka lebih lebar—dan semakin curam.
"Aku mengerti," jawab Raka pelan tapi tegas. "Tujuh hari. Aku akan buat frame ini siap. Dan aku akan naik lagi."
Di belakangnya, Nara menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Komandan Irawan hanya menatap tanpa ekspresi, tangannya sudah memegang tablet untuk laporan resmi.
Arena masih bergema sorak, tapi bagi Raka, suara itu sudah bercampur dengan detak timer yang tak pernah berhenti.