Novel

Chapter 2: The Visible Gain

Bab 2 langsung melanjutkan tekanan timer yang tersisa 18 menit di arena lantai dasar. Raka mengoptimalkan modul prototipe rahasia, mendapatkan gain terukur +20% respons dan prediksi serangan yang membuatnya menghancurkan drone terakhir dengan cepat. Namun, biaya langsung muncul: suhu inti melonjak kritis, servo kiri semakin bocor, dan kestabilan mech menurun setelah perbaikan darurat. Nara memberikan sindiran tajam yang sekaligus menguji mental, sementara Komandan Irawan menegaskan aturan ketat. Raka terpaksa memilih perbaikan minimal dengan risiko penurunan performa. Bab ditutup dengan pengumuman resmi ujian kedua di arena publik yang lebih berat, membuat gain-nya terasa provisional dan membuka tekanan sistem serta perhatian rival yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Visible Gain

Timer di pojok kaca kokpit hanya menunjukkan delapan belas menit tersisa. Raka menggenggam tuas kendali Frame Mech Salvage No. 047 lebih erat, telapak tangannya licin oleh keringat. Inti energi yang sudah bocor 40% kini berdenyut liar setelah modul prototipe rahasia diaktifkan. Setiap detik, getaran aneh merambat dari dada mech ke tulang punggungnya.

"Kalau inti ini meledak sekarang, semuanya selesai," gumamnya dalam hati. Tapi dia tidak punya pilihan. Dengan jari cepat, Raka menyesuaikan parameter inti dua tingkat lebih tinggi. Aliran energi langsung melonjak. Mech yang tadinya lambat seperti siput di lumpur kini bergerak lincah—respons meningkat nyata hampir dua puluh persen. Drone simulasi ketiga yang tersisa menukik dari samping; Raka sudah membaca pola serangannya dua detik lebih cepat. Pedang energi menyabet tepat di sambungan leher drone. Ledakan biru menyembur, puing-puing jatuh berhamburan.

Kemenangan parsial itu terasa manis hanya sesaat. Suhu inti langsung melompat ke zona merah. Alarm berdering keras di telinganya. Servo kiri yang sudah bocor semakin mengeluarkan desis tajam, cairan hidraulik menetes ke lantai arena lantai dasar Kota Menara Mekanis. Raka menarik napas pendek. Gain-nya sudah terlihat di papan skor—waktu reaksi dan akurasi naik drastis—tapi biayanya juga langsung terbayar: mech-nya kini berjalan di ujung pisau.

Dia memaksa mech berputar menghadap tribun pengawasan. Di sana, Komandan Irawan berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya datar tapi mata tak lepas dari layar monitor. Di sampingnya, Nara bersandar pada pagar, senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Bagus sekali, Raka," kata Nara saat Raka membuka saluran suara. Suaranya lembut tapi tajam seperti silet. "Responsmu naik, prediksi serangan lebih tajam. Tapi lihat servo kirimu—bocornya semakin parah. Kau pikir itu cukup untuk bertahan di lantai yang lebih tinggi? Atau kau hanya menunda ledakan yang lebih besar?"

Raka menggigit rahang. "Aku tidak meminta pendapatmu, Nara."

Komandan Irawan melangkah maju, suaranya menggelegar melalui speaker arena. "Aturan tetap berlaku. Jika frame-mu gagal total sebelum timer habis, Salvage No. 047 akan langsung direcall dan direasign ke kandidat lain. Kau punya waktu kurang dari lima belas menit untuk menyelesaikan ujian ini dengan stabil."

Kata-kata itu seperti beban tambahan di pundak Raka. Nara menyeringai lebih lebar. "Hebat kau bertahan lebih lama dari prediksi banyak orang. Tapi ingat, bertahan saja tidak cukup di Menara ini. Setiap lantai lebih mahal daripada tahun-tahun hidupmu. Kalau kau jatuh sekarang, tidak ada yang akan ingat namamu besok pagi."

Raka mematikan saluran tanpa jawaban. Tekanan sistem semakin nyata. Dia mengarahkan mech ke area servis cepat di pinggir arena. Teknisi arena hanya memberi waktu tiga menit—tidak lebih. Servo kiri masih mendesis, cairan terus merembes. Dengan tangan gemetar, Raka memasang segel darurat menggunakan sealant murah yang ada di kit darurat. Joystick langsung terasa lebih berat. Respons mech turun lagi, meski tidak separah sebelum modul dioptimalkan. Inti masih berdenyut tidak stabil, tapi setidaknya tidak langsung meledak.

"Ini biayanya," bisik Raka pada dirinya sendiri. Gain dua puluh persen respons sekarang dibayar dengan penurunan kestabilan dan kecepatan gerak secara keseluruhan. Tapi setidaknya frame-nya masih utuh. Untuk sekarang.

Dia kembali ke tengah arena tepat saat pengumuman resmi bergema. Komandan Irawan naik ke panggung utama, suaranya menggema ke seluruh penonton yang mulai berkumpul.

"Peserta Raka dengan Frame Salvage No. 047 telah menyelesaikan ujian simulasi pertama dengan selamat. Modul prototipe yang terdeteksi memberikan peningkatan respons signifikan. Namun..." Irawan berhenti sejenak, matanya menatap langsung ke kokpit Raka. "Kemajuan ini masih rapuh. Ujian kedua akan digelar di arena publik lantai tiga besok pagi. Parameter akan dinaikkan: melawan lima drone kelas menengah plus satu unit pengawal berat. Semua modifikasi akan diawasi langsung oleh dewan akademi. Satu kegagalan berarti diskualifikasi permanen."

Kerumunan penonton berbisik. Beberapa rival senior tersenyum dingin dari tribun. Nara hanya mengangguk pelan, tatapannya penuh tantangan.

Raka berdiri di tengah arena, mech-nya masih mengeluarkan uap tipis dari servo kiri yang baru disegel. Modul prototipe memberikan kekuatan baru yang nyata—ia bisa merasakannya di setiap gerakan. Tapi kini seluruh Menara tahu. Faksi-faksi kuat pasti sudah mulai memperhatikan. Timer untuk recall frame masih berdetak di belakang kepalanya, dan ujian berikutnya jauh lebih berat.

Kemajuan yang terlihat ini baru saja membuka tangga yang lebih curam. Dan Raka tahu, satu kesalahan saja, semuanya bisa runtuh sebelum ia sempat naik lebih tinggi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced