Novel

Chapter 1: The First Test

Bab 1 membuka langsung dengan defisit konkret: Raka menerima Frame Mech Salvage No. 047 yang rusak parah dalam lotere penarikan, dengan timer 45 menit sebelum direcall. Ia langsung memasuki ujian praktis melawan tiga drone simulasi. Nara memberikan tekanan rival/mentor, Komandan Irawan menegakkan batas waktu dan pengawasan sistem. Raka mengaktifkan modul prototipe rahasia dari log frame rusak, menghasilkan gain terukur (respons +20%, prediksi serangan lebih cepat) dengan biaya langsung (inti semakin tidak stabil, kerusakan tambahan). Bab berakhir dengan kemenangan parsial yang terlihat namun provisional, membuka tekanan lebih besar dari faksi dan ujian berikutnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The First Test

Raka berdiri di tengah keramaian lantai dasar Kota Menara Mekanis, keringat dingin membasahi punggung seragamnya. Di tangannya tergenggam tablet tugas yang menyala merah: Frame Mech Salvage No. 047 — unit rusak yang baru saja keluar dari lotere penarikan. Layar menampilkan deretan kerusakan: servo kiri bocor, inti energi bocor daya 40%, dan log tempur yang rusak parah. Peringkatnya yang terendah sudah cukup buruk; sekarang ia hanya punya satu kesempatan sebelum frame ini direbut dan dipindahkan ke peserta lain.

“Ini ujianmu, Raka,” suara Komandan Irawan menggelegar dari podium pengawas di atas. “Waktu tersisa 45 menit sebelum arena ditutup hari ini. Frame ini satu-satunya yang tersisa. Gagal, dan kau tetap di dasar selamanya. Faksi atas sudah menunggu untuk menutup jalur pendakianmu.”

Sorak penonton di tribun bawah menara bergema, campuran ejekan dan rasa penasaran. Raka merasakan tatapan mereka seperti beban beton di bahu. Prodigy yang terjebak di peringkat terendah—itulah julukannya selama ini. Tapi hari ini, stigma itu harus dihadapi dengan aksi, bukan kata-kata.

Langkah tegas mendekat. Nara muncul dari koridor samping, jaket mekaniknya masih berbau oli segar. “Masih berani berdiri di sini dengan bangkai itu?” tanyanya dingin, suaranya cukup keras untuk didengar beberapa peserta terdekat. “Frame rusak seperti itu biasanya cuma bikin pilotnya mati konyol di menit pertama. Kau yakin ingin buang nyawa demi membuktikan sesuatu yang tak ada?”

Raka mengangkat dagu, jarinya menekan tombol konfirmasi di tablet. “Kelemahan ini yang akan kugunakan, bukan kuhindari. Kalau kau takut melihatnya, mundur saja.”

Nara tersenyum tipis, tapi matanya tetap tajam. “Bagus. Tapi ingat, faksi kuat tak suka ada yang naik terlalu cepat. Mereka sedang mengawasi. Satu kesalahan, dan kau bukan hanya gagal—kau hilang.” Ia berbalik, meninggalkan Raka dengan kata-kata yang menggantung seperti ancaman.

Komandan Irawan mengangkat tangan. Sirene arena berbunyi pendek. “Ujian dimulai! Lawan simulasi level dasar—tiga unit drone penyerang. Tunjukkan performa, atau frame ini langsung direcall!”

Raka melompat ke kokpit frame-nya. Bau logam karat dan oli bocor langsung menyergap. HUD menyala redup, servo kiri bergetar lemah. Ia menggerakkan lengan mekanik—respons lambat setengah detik. Defisitnya terasa nyata: kecepatan turun 35%, daya tembak hanya 60% dari standar.

Tiga drone meluncur dari dinding arena, laser simulasi menyala biru. Raka menghindar ke kiri—frame tersandung, hampir jatuh. Laser pertama menyengat sisi kanan, HUD berdering keras: Kerusakan tambahan 12%.

“Tidak boleh seperti ini,” gumamnya. Di balik layar utama, ia membuka log tersembunyi yang selama ini ia simpan rapat. Modul prototipe rahasia—sepotong kode lama dari data tempur tersembunyi—mulai berjalan. Energi bocor dari inti rusak tiba-tiba dialihkan ke servo yang rusak, menciptakan lonjakan sementara.

Frame bergetar hebat. Servo kiri yang tadinya lemah kini bergerak 20% lebih cepat. Raka melompat ke depan, tinju mekanik menghantam drone pertama tepat di inti. Ledakan simulasi meledak terang—satu drone hancur. Penonton bersorak kaget.

Dua drone tersisa menyerang bersamaan. Raka memutar tubuh, tapi kaki kanan frame tersangkut puing. Ia jatuh berlutut. Laser kedua menyambar dada—Kerusakan 18%. Alarm berdering. Modul prototipe mulai overload, panas menjalar ke kokpit.

Biaya langsung terasa: setiap lonjakan kekuatan membuat inti rusak semakin tidak stabil. Tapi Raka tak punya pilihan. Ia memaksa modul itu sekali lagi. Aliran data log rusak membanjiri sistem, mengubah pola serangan drone menjadi prediksi sederhana di HUD. Ia berguling, berdiri, lalu menembakkan senjata utama yang dayanya baru naik ke 78%.

Drone kedua meledak. Yang ketiga mundur sejenak, lalu menyerang dengan kecepatan penuh.

Raka berdiri tegak, napasnya tersengal di dalam kokpit yang panas. Frame-nya retak di beberapa titik, tapi gerakannya kini lebih tajam daripada sebelumnya. Sorak penonton berubah—bukan lagi ejekan, melainkan gumaman penasaran. “Peringkat terendah itu... masih hidup?”

Komandan Irawan menyipitkan mata dari podium. “Waktu tersisa 18 menit. Lanjutkan!”

Raka tahu ini baru permulaan. Modul prototipe telah memberinya keunggulan pertama yang terukur—respons 20% lebih baik, prediksi serangan lebih cepat—tapi inti frame kini berisiko meledak kapan saja. Dan di luar arena, ia melihat Nara berdiri di pinggir, ekspresinya berubah dari skeptis menjadi tertarik. Faksi kuat pasti sudah mulai memperhatikan.

Ia menggenggam kontrol lebih erat. Ujian pertama ini harus ia lalui, bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk membuka tangga berikutnya sebelum pintu menara tertutup selamanya.

Dan dia siap membayar harganya.

Raka menerima frame mech rusak dan harus bertarung di ujian pertama yang menentukan, membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar peringkat terendah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced