Novel

Chapter 8: Chapter 8

Bab dimulai dengan Raka yang menghadapi ultimatum keras dari Komandan Irawan di ruang komandan, mengingatkan sisa waktu stabilisasi Frame Salvage No. 047 yang semakin menipis. Komandan menegaskan konsekuensi recall permanen jika Raka gagal, sementara faksi kuat semakin memperketat pengawasan dan memblokir akses suku cadang sealant darurat. Raka bertekad melanjutkan meski risiko kerusakan meningkat. Di arena latihan, Raka bertemu dengan Nara yang memberikan peringatan keras tentang risiko penggunaan modul prototipe rahasia. Nara menguji kemampuan Raka secara terbuka, menunjukkan sikap rival sekaligus mentor yang kompleks. Diskusi mereka mengungkap risiko percepatan kerusakan servo dan suhu inti yang bisa berujung pada kegagalan fatal jika tidak dikendalikan dengan cermat. Komandan Irawan memperketat pengawasan terhadap Raka menjelang ujian lantai empat. Faksi-faksi kuat, termasuk Faksi Biru, mulai mengajukan petisi percepat recall frame salvage berperingkat rendah dan menahan suku cadang penting. Raka menyadari bahwa selain risiko teknis, ia juga harus menghadapi tekanan politik dan sosial yang semakin berat, yang bisa menutup jalur pendakiannya. Menjelang ujian lantai empat, Raka memutuskan memaksa penggunaan protokol stabilisasi darurat prototipe yang tersembunyi dalam log frame rusak, dengan risiko ledakan inti fatal. Di saat bersamaan, rival baru, Danu, muncul dengan sikap permusuhan terbuka, mengancam jalur kenaikan Raka secara langsung. Nara mulai mengakui potensi Raka secara terbuka, namun rival baru ini memperlihatkan bahwa tantangan selanjutnya bukan hanya soal kekuatan, melainkan juga ketahanan mental dan politik.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 8

Ultimatum Komandan Irawan dan Tekanan Waktu

Raka berdiri tegap di depan meja Komandan Irawan, matanya menyala meskipun tubuhnya gemetar menahan tekanan. “Frame kamu masih belum stabil, Raka. Aku beri waktu dua jam lagi untuk perbaikan—kalau tidak, akses ke suku cadang akan kami blokir total,” suara Irawan berat, tanpa kompromi.

“Nara sudah mengajukan laporan, Komandan. Ini risiko besar,” tambah seorang perwira di samping Irawan, menatap Raka dengan nada meremehkan.

Raka menggenggam tangan yang berlumuran oli, menatap balik tajam. “Aku tidak akan mundur. Aku akan naik ke lantai empat hari ini, meski frame ini masih bermasalah. Jangan kira aku takut dengan blokade kalian.”

Irawan tersenyum dingin. “Kamu serius menantang keputusan faksi kuat? Ingat, aksesmu ke perbaikan terus menyusut. Kalau gagal, bukan cuma ujian yang hilang—kariermu juga.”

Detik-detik bergulir cepat. Tekanan waktu dan sumber daya menipis, jebakan semakin rapat. Raka tahu, pilihan sudah di depan mata.

Raka menatap tajam ke mata Irawan, napasnya terengah, tapi suaranya tetap tegas. “Aku tidak akan mundur. Frame ini mungkin rusak, tapi aku punya cara lain. Aku akan buktikan kalau kemampuan bukan hanya soal mesin sempurna.” Ia mengayunkan tangan ke arah layar monitor yang memancarkan data kerusakan frame. “Aku sudah hitung, ada celah di sistem pendingin yang bisa kugunakan untuk stabilisasi darurat. Mungkin tidak ideal, tapi cukup untuk bertahan hingga ujian selesai.”

Irawan mengangkat alis, ekspresinya berubah dari dingin menjadi penuh perhatian. “Kamu bermain dengan api, Raka. Satu kesalahan kecil saja, kamu bisa kehilangan semuanya lebih cepat dari yang kamu kira.”

Nara, yang berdiri di sudut ruangan, menahan napas. Blokade suku cadang semakin ketat, dan waktu terus menekan. Raka menghela napas panjang, matanya menyala dengan tekad membara. “Kalau aku harus jatuh, aku akan jatuh sambil berjuang, bukan karena takut.”

Irawan melangkah mundur, lalu mengangguk pelan. “Baik. Aku akan beri kamu kesempatan. Tapi ingat, ini terakhir kalinya.”

Pintu ruang komandan tertutup keras di belakang mereka, meninggalkan Raka dalam ke

kekosongan yang menggema di dalam hatinya. Waktu semakin menipis, dan setiap detik yang berlalu adalah jarum tajam yang menancap di dinding kesabarannya. Raka mengangkat pandangannya ke layar depan, menampilkan jumlah suku cadang yang tersisa—cukup untuk satu perbaikan minor, tidak lebih. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama," pikirnya. Dia mengetuk meja, suara keras yang memecah keheningan. "Komandan, aku akan maju ke lantai empat besok pagi. Frame ini akan aku paksa bergerak, meski harus dengan risiko terbesar sekalipun." Irawan memandangnya dengan tatapan dingin, lalu menyentakkan kepala. "Kau bodoh, Raka. Tapi aku menghargai keberanianmu. Ingat, jika kau gagal, bukan hanya dirimu yang hancur, tapi seluruh faksi kita." Raka mengangguk, menahan gelombang kecemasan yang mendesak. Waktu terus berputar, dan jebakan semakin rapat. Di balik pintu tertutup, suara langkah kaki dan bisikan intrik mulai bergema—pertaruhan telah dimulai.

Raka menunduk sejenak, menelan ludah, lalu mengangkat kepala dengan mata yang menyala penuh tekad. "Aku tidak akan mundur, Komandan. Frame ini mungkin rusak, tapi bukan alasan untuk menyerah. Aku akan maju ke ujian lantai empat, apapun risikonya." Irawan mengerutkan dahi, lalu membentangkan tangan ke arah layar holografik yang memproyeksikan deretan suku cadang langka. "Suku cadang itu diblokir sementara, hanya diberikan jika kau berhasil melewati ujian ketiga tanpa kerusakan fatal. Ini bukan hanya ujian kemampuanmu, tapi juga ujian kesetiaan dan strategi."

Nara berdiri di sudut ruangan, tatapannya tajam. "Waktu kita semakin menipis, Raka. Stabilitas Frame menurun drastis, dan setiap detik kamu memperlambat proses perbaikan, peluangmu semakin tipis." Suaranya dingin, menambah berat tekanan di ruangan itu.

Raka merasakan denyut jantungnya melonjak. Ultimatum dan blokade ini bukan hanya jebakan, tapi perang waktu yang kejam. Dia menggenggam tangan yang mulai merasakan getaran Frame, bertekad mengubah tekanan menjadi kekuatan. "Aku akan buktikan, aku lebih dari sekadar prodigi bodoh. Aku akan bert

Raka menyapu pandang ke arah Komandan Irawan, matanya membara penuh tekad. "Kalau kalian pikir aku akan mundur hanya karena batasan waktu dan suku cadang yang kalian blokir, kalian salah besar." Ia menginjak langkah maju, suara tegas tak tergoyahkan. "Frame ini rusak, tapi bukan berarti aku tak bisa berdiri. Aku akan naik ke lantai empat dengan apa yang aku punya, bahkan jika itu artinya aku harus memperbaikinya sendiri di sana."

Komandan Irawan menatapnya dalam, seakan menimbang nyali dan kebodohan dalam satu tarikan napas. "Kau tahu risikonya, Raka. Jika kau gagal, bukan hanya karirmu yang hancur, tapi juga nyawamu."

Raka mengangguk pelan, lalu menatap Nara yang berdiri di sudut ruangan, wajahnya penuh kecemasan namun ada secercah kekaguman. "Aku tak punya pilihan lain. Waktu terus berjalan, dan aku harus bergerak sekarang, sebelum jebakan ini menutup sepenuhnya."

Dengan itu, Raka berbalik dan melangkah keluar, setiap detik yang berlalu semakin menipiskan sumber daya namun menambah nyalinya untuk melawan takdir yang dijebak oleh waktu dan kekuasaan.

Pertemuan dan Peringatan Nara di Arena Latihan

Raka mengayunkan tangan kanannya, modul prototipe di pergelangan mulai menyala dengan cahaya biru menyilaukan. Di tengah arena latihan yang berdebu, Nara melangkah cepat, suaranya tajam menghentikan langkah Raka. “Berhenti! Kau tahu risikonya, modul itu belum stabil. Satu kesalahan, bisa membuatmu lumpuh—atau lebih buruk.” Raka menatap Nara, mata menyala penuh tekad. “Risiko itu yang harus kulalui. Aku tidak bisa terus diam di peringkat bawah.” Nara mendekat, nada suaranya berubah lebih serius. “Ini bukan persoalan peringkat, ini soal hidup dan mati. Aku tidak akan membiarkanmu bunuh diri demi ambisimu.” Namun, di balik kata-katanya, Nara tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada potensi Raka. “Tapi jika kau yakin, aku akan mengawasi. Jangan salah langkah.” Raka menelan ludah, beban peringatan itu semakin membebani—ujian sesungguhnya belum dimulai.

Raka mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Aku tahu risikonya, Nara. Tapi kalau aku mundur sekarang, semua usaha selama ini sia-sia." Nara menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Raka dengan tegas. "Jangan cuma modal nekat. Modul prototipe itu belum stabil. Ada kemungkinan sistemnya overload dan merusak saraf pusatmu." Sebuah peringatan bukan sekadar kata-kata, tapi ancaman nyata yang membuat jantung Raka berdegup kencang. Di kejauhan, Komandan Irawan mengawasi dengan tatapan tajam, seolah menunggu kesalahan sekecil apapun. "Kalau kau gagal, konsekuensinya bukan hanya nilai rendah. Kau bisa dikeluarkan dari akademi," Nara menambahkan tanpa memberi ruang untuk tawar-menawar. Raka menatap modul yang terpasang di lengannya, merasakan denyut energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan hanya kekuatan, tapi juga bahaya yang mengintai tiap detik. Tekanan semakin membuncah. Ujian ini bukan sekadar pertarungan, tapi pertaruhan nyawa.

Raka menghela napas panjang, menatap mata Nara yang tajam seperti pisau. "Aku paham risikonya, Nara. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Ini satu-satunya cara aku bisa melampaui batas." Nara mendelik, langkahnya mendekat hingga jarak mereka nyaris seujung jari. "Batas yang kau coba lewati itu bukan hanya soal kekuatan, tapi juga integritas dirimu. Modul prototipe itu belum stabil. Setiap kali kau aktifkan, ada kemungkinan sistem tubuhmu rusak permanen." Raka merasakan getaran halus dari modul di lengannya, seolah memperingatkannya. "Kalau kau mati di arena, siapa yang akan ingat perjuanganmu? Atau lebih buruk, kau menyeret nama akademi ke dalam skandal." Nara menarik nafas pelan, lalu menepuk bahu Raka dengan berat. "Aku tak hanya memandangmu sebagai murid, tapi juga pesaing. Ujian ini adalah titik balikmu. Jangan sampai aku harus jadi orang terakhir yang kau kecewakan." Raka menunduk sebentar, lalu mengangkat kepala dengan mata penuh tekad. Namun, suara detak jantungnya di telinga mengingatkannya, risiko yang tak bisa ia abaikan. Tekanan itu semakin nyata,

Tekanan itu semakin nyata, merayap ke setiap sudut pikirannya. Nara menatap Raka dengan mata yang tak lagi sekadar menasihati, tapi menantang. "Modul prototipe itu bukan main-main, Raka. Jika kamu gagal mengendalikan energinya, bukan hanya tubuhmu yang hancur, tapi reputasimu sebagai prodigi juga akan musnah." Tangannya melayang ke saku seragamnya, mengeluarkan sebuah perangkat kecil berkilau. "Ini adalah parameter pengawas. Aku pasang agar bisa memantau segala anomali dalam penggunaan modulmu selama ujian nanti." Raka mengerutkan kening, sadar kini dia tak hanya menghadapi risiko teknis, tapi juga pengawasan ketat dari mentor sekaligus rivalnya. "Kalau kamu berani melangkah melewati batas, aku akan tahu, dan konsekuensinya tidak akan ringan." Suara Nara menggema di ruang latihan yang hening, meninggalkan Raka dalam pusaran ketegangan yang membara, menantang batas kesanggupannya.

Raka menatap tajam ke arah Nara, napasnya memburu. “Aku tahu taruhannya—tapi jika aku berhenti sekarang, aku tidak akan pernah tahu seberapa jauh aku bisa melangkah.” Tangannya mengepal, modul prototipe bergetar samar di saku jaketnya, seolah menunggu perintah. Nara melangkah maju, matanya tak pernah lepas dari gerakan Raka. “Ini bukan soal keberanian, tapi kebijakan. Jangan sampai ambisimu membawamu ke jurang kegagalan yang tak bisa diperbaiki. Ujian ini bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga kontrol.” Sebuah senyum tipis muncul di wajah Raka, sinar tantangan menyala di matanya. “Kalau begitu, aku akan buktikan bahwa aku bisa menguasai kontrol itu... atau mati mencoba.” Nara berhenti sejenak, kemudian berkata dingin, “Jangan salahkan aku jika yang kau hadapi nanti bukan hanya kegagalan—tapi pengusiran dari akademi.” Ruang latihan hening, dan langkah kaki mereka beriringan menuju ujian yang menunggu—sebuah medan pertempuran tanpa ampun.

Pengawasan Ketat dan Ancaman Faksi Kuat

Komandan Irawan menatap tajam layar monitor di ruang kontrol lantai empat. "Raka, setiap langkahmu sekarang diawasi," suaranya dingin, menembus ruang yang dipenuhi kecemasan. Kamera-kamera pengawas berputar mengikuti setiap gerak pemuda itu, yang tengah berlatih di arena ujian. Di balik bayang-bayang, Faksi Biru menggerakkan pasukannya, menekan birokrasi untuk membekukan akses Raka ke modul latihan tingkat tinggi. Nara, yang berdiri di pojok ruangan, menatap dengan campuran kekhawatiran dan ambisi. Tiba-tiba, Raka menerima pesan rahasia dari kontak tak dikenal—data protokol override level 7 dan modul stabilisasi darurat, kunci potensial untuk melewati aturan ketat. Namun, jebakannya bisa berakibat fatal. Denyut jantungnya memburu saat dia menyadari, tekanan politik dan pengawasan teknis sekarang mengerucut menjadi satu: pilihan antara berani melangkah atau tersingkir dari arena.

Raka menatap layar ponselnya, jari-jarinya bergetar saat menekan tombol ‘unduh’. Data protokol itu bergerak masuk ke dalam memorinya, berkilau dengan potensi berbahaya. “Ini bukan hanya soal aturan, ini tentang hidup atau mati,” gumamnya pelan. Di sudut ruangan, bayangan Komandan Irawan muncul, tatapannya menusuk penuh waspada. “Raka, aku dengar ada yang aneh. Kau terlalu mencolok,” suaranya dingin, penuh ancaman terselubung.

Di luar, Faksi Biru mulai bergerak, mengirim pesan ke semua anggota—blokade terhadap Raka hampir pasti. Tapi di balik kerusuhan itu, ada suara kecil dalam hatinya yang memanggil: kesempatan langka untuk melangkah lebih jauh, meski berisiko jatuh lebih dalam. Dengan napas tertahan, Raka menutup aplikasi itu dan mengunci pintu kamar. Tekanan itu membelit, menekan setiap bagian dirinya—harus pilih, maju dengan risiko, atau mundur dan dilupakan. Waktu terus berdetak.

Raka menatap layar kecil di tangan, detik demi detik berlalu seperti ledakan yang siap meledak. Data protokol override level 7 tertera jelas, berkilau dengan kode-kode rahasia yang tak dimaksudkan untuk mata biasa. Modul stabilisasi darurat berdiri sebagai kunci—sebuah alat yang bisa menembus batas pengawasan Komandan Irawan, membuka celah kecil di antara aturan yang kaku. Namun, resikonya? Sekali tertangkap, bukan hanya karier yang hancur, tapi nyawa akademi bisa berantakan.

“Ini bukan hanya soal naik pangkat,” gumam Raka, menekan jari di layar, merasakan getaran dari dua sisi: desakan faksi-faksi kuat yang mulai menggerogotinya dan tatapan tajam Irawan yang semakin mengekang.

Di luar, suara langkah kaki berat semakin mendekat. Pengawasan Komandan semakin ketat, dan setiap pilihan Raka menjadi taruhan nyawa. Dia menghela napas, jari terangkat setengah, memutuskan—atau mungkin menyerah pada risiko yang menunggu di ujung malam. Tekanan itu mengencang, tak terelakkan.

Raka merapatkan kerah jubahnya, matanya menyapu layar kecil di pergelangan tangan. Data rahasia itu—protokol override level 7—tersimpan dalam satu file tersembunyi, lengkap dengan modul stabilisasi darurat yang selama ini hanya legenda. Jika berhasil diaktifkan, bukan hanya bisa meloloskan dirinya dari pengawasan ketat, tapi juga memberi lonjakan kekuatan yang membuatnya setara dengan peringkat tiga besar. Namun, jebakan itu mengintai. Satu langkah salah, dan sistem keamanan akademi akan langsung mengunci posisinya, menghancurkan peluang kariernya selamanya.

“Tuan Raka,” suara Komandan Irawan memecah kesunyian, tajam dan dingin. “Saya tahu kau mencoba sesuatu yang tak seharusnya. Jangan sampai langkahmu ini menjadi akhir dari segalanya.”

Raka menatap balik, napasnya memburu. Di ruang sempit itu, politik dan teknologi membelitnya tanpa ampun. Jalan keluar yang ia cari kini menjadi taruhan hidup mati. Tekanan itu memuncak. Waktu hampir habis.

Raka mengalihkan pandangan ke layar kecil di tangannya, mempercepat pemindai data rahasia protokol override level 7 yang baru saja ia temukan. Jika berhasil mengaktifkan modul stabilisasi darurat ini, ia bisa melewati pengawasan ketat Komandan Irawan sekaligus faksi-faksi yang membayangi langkahnya. Namun, risiko kegagalan berarti pembatalan permanen akses ke ujian lantai empat, bahkan bisa berujung pada pengusiran dari akademi.

“Ini satu-satunya jalan,” bisiknya dalam hati, jari-jarinya menari di atas panel kontrol. Detik kemudian, layar menyala merah, tanda sistem mendeteksi intervensi tak sah. Suara peringatan menggema, memberitahukan bahwa keamanan akademi diinjeksi oleh gangguan asing.

Langkah kaki mendadak terdengar di lorong. Raka menahan napas, menatap pintu yang mulai terbuka. “Aku tidak punya pilihan. Ini pertaruhan hidupku.” Ia melangkah maju, memasuki zona bahaya yang menentukan nasibnya selamanya.

Keputusan Berisiko dan Munculnya Rival Baru

Raka menatap layar log frame yang berdenyut merah—indikasi protokol stabilisasi darurat tersembunyi aktif. Jantungnya berdetak cepat, napas memburu. “Ini satu-satunya cara,” gumamnya, jari terhenti di tombol override level 7. Suara Komandan Irawan terngiang dari speaker ruangan: “Jangan coba-coba, Raka. Risiko terlalu besar.” Tapi lawan di hadapannya, Nara, sudah melangkah maju dengan senyum tipis penuh tantangan. “Kamu benar-benar akan mempertaruhkan segalanya? Aku tak takut.”

Jari Raka menekan tombol itu. Aliran energi liar menggelegak di dalam tubuhnya, membuat penglihatan berputar. Sistem hampir runtuh. Namun, aura kekuatan baru mulai terpancar—menggetarkan lantai ujian. Nara terdiam sejenak, matanya menyipit, mengakui potensi yang selama ini dia remehkan. Sebuah sosok baru muncul dari balik bayangan, mata tajam mengamati dengan penuh maksud. Jalur Raka menuju puncak makin terancam, dan pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

Raka menekan jari ke panel log frame, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Override level 7… aktifkan sekarang!” suaranya nyaris bergetar, tapi tekadnya tak tergoyahkan. Listrik biru membelah udara, melingkari tubuhnya. Sistem stabilisasi darurat mulai berkerja, namun energi liar yang tak terkendali membuat lantai retak di bawah kaki mereka.

“Gila! Kau benar-benar mau mempertaruhkan segalanya?” Nara melangkah maju, suara penuh peringatan sekaligus kekaguman.

Tiba-tiba, dari balik bayangan, sosok baru itu melangkah keluar—Seorang komandan muda dengan tatapan dingin, Komandan Irawan. “Raka, kau terlalu cepat melangkah. Protokol itu bisa menghancurkan bukan hanya dirimu, tapi seluruh ujian ini.”

Raka menatap tajam, otaknya berputar mencari celah. “Lebih baik hancur dengan perjuangan daripada menyerah begitu saja.”

Nara mengangguk pelan, ekspresinya berubah—ada rasa hormat yang mulai tumbuh. Namun, bayangan Komandan Irawan yang mengawasi membuat suasana semakin mencekam. Jalur Raka menuju punc

“Nara, aku aktifkan protokol override level 7 sekarang!” suara Raka menggema, penuh tekad. Jari-jarinya menari di layar holografik, menembus batas sistem stabilisasi. Lampu ruangan berkedip tak menentu, energi di sekelilingnya bergetar liar.

“Raka, ini gila! Kau sadar ini bisa menyebabkan crash total?” Nara berusaha menahan dengan tangan gemetar, tapi Raka sudah terlanjur memulai.

Seketika, tubuh Raka diselimuti aura biru berpendar, kekuatan protokol meresap ke dalam sarafnya. Detik-detik berlalu bagaikan ledakan kecil—ujian berubah menjadi medan perang antara keberanian dan kehancuran.

Dari sudut ruangan, Komandan Irawan menatap dingin, senyum tipis mengembang. Di belakangnya, sosok baru muncul—seorang peserta dengan mata tajam penuh ambisi, menatap Raka tanpa berkedip.

Nara menarik napas dalam, suaranya nyaris berbisik, “Mungkin dia benar… tapi jalannya belum selesai.” Ketegangan membuncah, masa depan Raka menggantung di ujung pedang.

Raka menekan tombol override level 7 dengan tangan gemetar, energi protokol keluaran core-nya meledak dalam gelombang cahaya yang hampir membakar retakan lantai. Tubuhnya bergetar hebat, nyawa dan kekuatan seolah bertarung di dalam satu detik yang tak berujung. “Ini satu-satunya cara,” gumamnya, mata menyala dengan tekad yang membara.

Komandan Irawan melangkah maju, suaranya tajam, “Berani, tapi bodoh. Jangan harap kau lolos tanpa konsekuensi.” Namun, tatapannya berubah sedikit, ada rasa hormat yang mulai tumbuh walaupun tersembunyi. Nara menatap Raka dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran, “Aku melihat… potensi besar dalam dirimu. Tapi hati-hati, rival baru itu bukan sekadar bayang-bayang.”

Sosok tajam di balik Komandan menatap langsung ke Raka, senyumnya dingin penuh tantangan. “Kali ini, aku yang menentukan siapa yang layak naik.” Ruangan bergetar, ketegangan mencapai puncak. Jalur Raka tidak lagi hanya soal kekuatan—ini tentang bertahan hidup dalam badai dendam dan intrik

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced