Hierarki yang Lebih Tinggi
Bau kaldu tulang yang mengepul dari mangkuk di meja kayu tua Restoran Pusaka Wiryatama terasa berbeda malam ini. Bukan lagi aroma tradisi, melainkan sisa dari sesuatu yang baru saja dibakar. Arga Pratama duduk di kursi utama, menatap layar ponsel yang menampilkan nomor tanpa nama—satu panggilan dari luar negeri yang tidak perlu diperkenalkan. Di seberangnya, Ratna Wiryatama masih duduk dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan sisa wibawa, meski matanya terus melirik map audit yang tergeletak di samping Arga.
“Kalau itu wartawan, bilang restoran belum komentar,” ucap Ratna datar, mencoba memulihkan otoritas yang telah runtuh di ruang dewan tadi siang.
Arga tidak menjawab. Ia mengangkat ponsel ke telinga. Suara di seberang sana tenang, dewasa, dan bersih dari keraguan. “Tuan Pratama. Saya tak suka menunggu. Besok pagi, datang ke pertemuan tertutup di Hotel Samudra. Jam delapan. Jangan bawa pengacara, hanya berkas yang Anda pegang.”
“Kalau begitu, Anda menghubungi orang yang tepat,” jawab Arga dengan nada yang lebih dingin dari udara malam Jakarta. Ia memutus panggilan sebelum lawan bicaranya bisa memberi perintah lebih lanjut. Pesan singkat menyusul: sebuah nama perusahaan induk yang selama ini hanya terdengar sebagai mitos di lantai-lantai tinggi gedung perkantoran Sudirman.
Arga beranjak menuju ruang kerja di samping dapur. Siska Paramita sudah menunggunya dengan tangan gemetar, memegang map abu-abu berisi catatan pembayaran yang selama ini disembunyikan Hendra. “Aku belum memutuskan, Mas Arga,” bisiknya. “Kalau ini keluar, aku ikut terseret.”
“Kalau kau tetap menahannya, kau terseret oleh orang yang salah,” balas Arga. Ia mengambil map itu. Di dalamnya, ia menemukan jejak transaksi yang bukan berasal dari keluarga Wiryatama, melainkan dari struktur pinjaman berjenjang yang dirancang untuk menguras aset restoran secara sistematis. Dimas bukan sekadar pencuri kecil; ia hanyalah pion dalam permainan yang jauh lebih besar.
Keesokan paginya, sebelum matahari sempat menyentuh lantai ruang makan, seorang pria bernama Damar Setyawan dari Sentana Grup muncul. Ia meletakkan map hitam di atas meja kayu tua itu. “Saya datang membawa opsi yang lebih hemat daripada perang terbuka,” ujar Damar sopan. “Merger pengamanan. Kendali operasional pindah ke struktur kami. Anda tetap punya nama, tapi kami yang mengatur arus kas.”
Ratna tersentak, wajahnya pucat. “Kami tidak pernah mengundang grup Anda.”
“Benar,” Damar menoleh pada Arga, mengabaikan Ratna sepenuhnya. “Tapi sejak rapat dewan kemarin, nama Wiryatama sudah menjadi komoditas di pasar. Kreditor Anda membaca headline lebih cepat daripada Anda membaca ketentuan.”
Arga menolak tanda tangan itu dengan senyum tipis yang tidak menyentuh mata. Ia tidak butuh merger; ia butuh identitas musuh yang sebenarnya. Setelah perantara itu pergi dengan wajah kaku, Arga kembali ke ruang kerja. Hendra Wibisono, yang sudah terpojok oleh bukti audit, akhirnya menyerahkan bundel dokumen terakhir yang selama ini ia sembunyikan di balik brankas pribadi.
Arga membuka dokumen itu. Di halaman paling bawah, tertulis nama Rendra Mahesa. Itu bukan sekadar nama taipan properti; itu adalah orang yang selama ini mendanai setiap langkah Dimas dan Ratna untuk menghancurkan legitimasi Arga. Arga menatap nama itu dan menyadari satu hal: selama ini ia merasa sedang bertarung dengan keluarganya, padahal ia sedang diawasi oleh predator yang lebih besar yang telah memetakan setiap langkahnya sejak awal.
Saat notifikasi media mulai masuk, menyorot kemenangan rapat dewan Arga, ia tahu perang ini baru saja dimulai. Ia tidak lagi bertarung untuk restoran; ia bertarung untuk memutus rantai yang mengikat keluarganya pada pemilik modal yang tak terlihat. Di meja yang dulu menolak dirinya, Arga kini memegang kendali untuk mengatur ulang siapa yang duduk, siapa yang membayar, dan siapa yang hanya boleh menyaksikan dari pinggir ruangan.