Novel

Chapter 10: Pembalikan Status

Arga berhasil mengambil alih kursi utama dalam rapat dewan melalui pembongkaran bukti audit dan pengakuan paksa Hendra Wibisono. Ratna dan Dimas dipaksa mengakui kepemimpinan Arga di depan para kreditor. Arga kini memegang kendali penuh, namun sebuah pesan misterius mengisyaratkan adanya kekuatan yang lebih besar di balik layar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pembalikan Status

Pagi itu, di Rumah Makan Pusaka Wiryatama, Arga Pratama berdiri di depan pintu ruang dewan. Di ambang pintu, sebuah papan kayu bertuliskan RESERVASI KHUSUS disandarkan dengan angkuh ke kursi utama—kursi jati tua yang selama bertahun-tahun menjadi simbol otoritas yang haram ia sentuh. Dua petugas keamanan berdiri kaku di sisi pintu, namun tatapan mereka gelisah, terus melirik radio panggil di pinggang.

Di dalam, suara Ratna Wiryatama terdengar tajam, membelah keheningan ruangan. “Kursi itu sudah dipersiapkan untuk orang yang pantas memimpin. Arga tidak memiliki tempat di sini.”

Dimas Wiryatama menyahut dengan tawa kecil yang dipaksakan. “Jika dia masih merasa punya hak, biarkan dia menunggu di lobi bawah bersama para pemasok.”

Arga tidak membalas. Ia hanya menatap papan kayu itu, lalu beralih ke dua sosok yang berusaha memagari diri dari kehadirannya. Mereka mengira penghinaan pagi ini akan cukup untuk mengusirnya. Mereka tidak tahu bahwa daftar hadir telah ia ubah, akses keamanan telah ia kunci, dan para kreditor yang menunggu di ruang tunggu bukan datang untuk rapat keluarga, melainkan untuk eksekusi aset.

“Siapa yang memberi izin menaruh tanda itu?” tanya Arga, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang membuat udara di koridor terasa berat.

Ratna mengangkat dagu, matanya menyipit. “Aku. Sebagai penjaga nama besar Wiryatama.”

Arga mengeluarkan ponsel. Satu panggilan singkat. “Buka pintunya sekarang.”

Detik berikutnya, radio di pinggang petugas keamanan berderit. Wajah mereka pucat pasi setelah mendengar perintah dari pihak manajemen pusat yang kini tunduk pada Arga. Tanpa sepatah kata pun, mereka menyingkir, membiarkan pintu terbuka lebar.

Arga melangkah masuk, menyingkirkan papan kayu itu dengan ujung sepatunya hingga jatuh berdebam ke lantai. Ia menarik kursi utama. Kayu jati tua itu berderit, sebuah suara yang terdengar seperti pengesahan sejarah baru. Dimas bangkit berdiri karena refleks, namun Arga menatapnya dengan dingin hingga ia kembali duduk dengan canggung.

“Rapat dibuka,” ujar Arga. “Kita tidak akan membahas perasaan. Kita membahas kepemilikan, pemindahan aset ilegal, dan siapa yang akan menanggung utang ini.”

Ratna membeku. Ia baru menyadari bahwa ini bukan lagi rapat keluarga; ini adalah persidangan.

Arga membuka map hitam di hadapannya. “Ibu ingin bicara soal kehormatan? Mari kita mulai dari angka.”

Ia menyebar lembar audit di atas meja. Di sana terpampang aliran dana yang disamarkan sebagai biaya renovasi dapur, padahal mengalir ke rekening pribadi Dimas. Arga menggeser halaman berikutnya, menunjukkan bukti pemindahan stok dan aset alat masak ke perusahaan cangkang.

“Klausul 12.4 akta pendirian melarang pemindahan aset tanpa persetujuan mayoritas,” suara Arga datar namun mematikan. “Kalian melanggar itu tujuh bulan berturut-turut.”

Dimas mencoba melawan, “Itu interpretasi liar. Kamu hanya memegang kertas yang disusun untuk menjatuhkan kami.”

Arga menatapnya tanpa kedip. “Jelaskan tanda tanganmu di lampiran tiga. Jelaskan kenapa aliran dana pribadi masuk ke rekening kontraktor fiktif yang tidak pernah menginjakkan kaki di dapur ini.”

Ruangan itu sunyi. Salah satu kreditor, seorang manajer bank, mendorong kacamatanya. “Pak Dimas, kami diundang dengan asumsi ada restrukturisasi. Bukan penyamaran aset.”

Arga menoleh ke Hendra Wibisono yang duduk di ujung meja. Pengacara itu tampak hancur, namun ia tahu pilihannya hanya dua: penjara atau saksi. “Pak Hendra, bacakan halaman terakhir.”

Dengan tangan gemetar, Hendra membacakan pernyataan yang ia tandatangani semalam. “Persetujuan internal datang dari jaringan yang melibatkan Ratna Wiryatama dan mendiang Kakek Dimas, dengan pengawasan dokumen melalui saya.”

Ratna memejamkan mata. Ia tahu tamengnya telah runtuh. Arga kemudian menunjukkan bukti transaksi yang membuktikan bahwa dialah pendana utama yang selama ini menjaga restoran tetap beroperasi di balik layar.

“Selama ini kalian mengira saya beban,” Arga menatap mereka satu per satu. “Padahal, saya adalah orang yang membayar meja tempat kalian duduk.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada perdebatan. Para kreditor mulai menandatangani lembar konfirmasi yang menyetujui Arga sebagai pengendali operasional dan keuangan. Ratna, dengan sisa martabat yang tersisa, akhirnya terpaksa mengakui kekalahannya.

“Mulai hari ini… Arga Pratama memegang keputusan final operasional dan keuangan keluarga Wiryatama.”

Saat kalimat itu terucap, Arga merasa beban di pundaknya terangkat. Namun, tepat saat ia bangkit, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul dari nomor tak dikenal. Pesan itu singkat, namun membuat jantungnya berdegup kencang: "Permainan yang bagus, Arga. Tapi jangan lupa, ada pemain yang lebih besar yang sedang mengamati langkahmu."

Arga menatap layar itu. Kemenangan ini hanyalah awal dari perang yang jauh lebih luas.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced