Novel

Chapter 9: Dokumen yang Menentukan

Arga menekan Hendra Wibisono untuk mengakui keterlibatannya dalam pemalsuan audit dan pengurasan aset keluarga. Hendra, yang terpojok oleh bukti-bukti konkret, akhirnya setuju menjadi saksi kunci bagi Arga dalam rapat dewan esok hari, yang secara efektif memutus perlindungan terakhir bagi Ratna dan Dimas.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Dokumen yang Menentukan

Belum dua puluh empat jam sejak Dimas diseret keluar dari ruang dewan, dan rumah makan Pusaka Wiryatama sudah berubah rasa. Bukan karena dapurnya sepi—api tetap menyala, kaldu tetap diaduk—melainkan karena semua orang tahu siapa yang sekarang memegang kunci. Hendra berdiri di ruang tengah dekat meja kayu tua warisan keluarga, map kulit di bawah ketiak kiri, kerah kemejanya terasa mencekik. Di depannya, kopi yang semula dibuat untuk tamu penting sudah membentuk selaput tipis di permukaan.

Arga duduk tanpa menempati kursi kepala. Map krem di tangannya diletakkan di atas meja, tepat di antara Hendra dan pintu dapur yang masih menghembuskan bau kaldu semalam. Ratna berdiri di ambang pintu, rapi namun lelah, seperti orang yang semalam dipaksa melihat namanya sendiri dicoret dari daftar kehormatan. Pak Darma melintas membawa piring kecil, melirik map itu, lalu mundur tanpa suara. Di rumah makan ini, diam adalah bahasa yang paling jujur.

"Kalau ini soal etika profesi, saya bisa jelaskan," kata Hendra. Suaranya rata, namun ujung jari kirinya mengetuk map kulit itu tanpa henti. "Saya bertindak atas dasar kuasa yang sah. Semua revisi yang masuk melalui saya—"

"Tidak perlu membela diri dengan istilah yang Anda pilih sendiri," potong Arga. Ia membuka map krem itu. Tidak ada gerakan berlebihan. "Saya cuma ingin Anda lihat halaman pertama."

Arga menggeser lembaran paling atas ke tengah meja. Akta pendirian. Lampiran perubahan komposisi kepemilikan. Garis merah tebal menandai klausul 12.4—larangan pemindahan aset tanpa persetujuan mayoritas. Hendra mengenali garis itu. Ia sendiri yang menebalnya pada salinan arsip, saat keluarga masih yakin semua kebohongan bisa diselesaikan dengan cap notaris.

"Anda tahu ini sejak awal," kata Arga. "Bahkan sebelum Dimas menyebutnya biaya renovasi dapur. Bahkan sebelum dana operasional diputar ke rekening lain. Anda tahu siapa pemilik asli yang membiayai meja ini, bangunan ini, dan semua utang yang sekarang Anda kira bisa digunakan untuk mengusir saya."

Ratna menatap Hendra, bukan Arga. Bagi Ratna, Hendra bukan sekadar pengacara; ia adalah tameng. "Saya hanya mengikuti instruksi keluarga," bela Hendra, suaranya bergetar. "Saya tidak pernah berniat—"

"Kakek Dimas menyuap Anda," ujar Arga, memotong tepat di tengah alasan yang hendak membesarkan diri. "Lewat jalur yang rapi. Honor tambahan. Janji jabatan. Dan satu janji yang lebih penting: kalau semua ini pecah, nama Anda akan tetap bersih."

Keringat dingin di tengkuk Hendra adalah jawaban yang cukup. Arga tidak sedang menebak; ia sedang membacakan angka pada label barang miliknya sendiri. Arga membuka lembar berikutnya: jejak audit. Kolom tanggal, nomor referensi, dan memo internal yang dicetak rapi. Hendra mengenali rasa asinnya sendiri—dia yang menyusun istilah agar uang yang keluar dari mesin kas kecil tidak tampak seperti pencurian.

"Anda ikut mengunci audit palsu," kata Arga. "Anda yang menyusun urutan berkas. Anda yang tahu mana yang harus disimpan di folder atas, mana yang harus dibakar kalau inspeksi datang."

"Saya tidak membakar apa pun," jawab Hendra, terlalu cepat.

Arga mengangkat pandangan. "Belum."

Ratna menarik napas pendek, ponselnya tergenggam erat. "Kalau ini untuk menjatuhkan Dimas, lakukan di dewan besok. Jangan bawa masa lalu ke meja ini. Keluarga ini sudah cukup malu."

"Malu bukan karena masa lalu," balas Arga. "Malu karena Anda memilih versi resmi yang salah."

Arga mencondongkan tubuh. "Besok pagi rapat dewan akan dibuka dengan audit. Kreditor sudah diundang. Bukan sebagai tamu keluarga, tapi sebagai saksi dari uang yang mereka kira hilang. Jika Anda menolak bekerja sama, nama Anda masuk pertama dalam daftar tersangka. Lalu Ratna. Lalu Dimas."

Hendra menatap map itu. Ia tahu jika kreditor melihat jalur uang yang disamarkan, rumah makan ini bukan hanya kehilangan muka, tapi kehilangan eksistensi. Ia meraih pena, tangannya gemetar saat menaruh tanda tangan di bawah baris yang disiapkan Arga. Tinta belum kering ketika ia sadar: ia bukan lagi orang yang menahan dokumen, dokumenlah yang kini menahannya.

Arga mengambil lembar itu, memeriksa sekali, lalu menyelipkannya kembali. "Besok, Anda bicara sebelum mereka sempat menutup pintu. Kalau Anda bohong satu kali saja, saya buka semua versi resmi itu satu per satu di depan mereka."

Arga berdiri, merapikan map, dan melangkah pergi. Hendra terpaku. Ia tahu, saat rapat dewan dimulai besok, Ratna akan terpaksa mengakui di depan semua orang bahwa putra yang mereka anggap beban kini memegang keputusan final. Arga tidak datang untuk mencari kebenaran; ia datang untuk memastikan bahwa ketika kebenaran itu dibuka, tak ada satu pun kursi yang masih bisa disembunyikan dari kehancuran.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced