Kekalahan dalam Diam
Ruang dewan Wiryatama hari ini terasa seperti ruang interogasi yang disamarkan dengan kayu jati mahal. Di meja panjang itu, Dimas Wiryatama berdiri, napasnya memburu, sementara tangannya mencengkeram map audit cokelat—satu-satunya pelindung terakhirnya dari kehancuran total.
“Ini tidak sah!” Dimas menggebrak meja. Gelas kristal di atas taplak putih bergetar, menciptakan riak yang mencerminkan ketidakstabilan posisinya. “Angka-angka ini dimanipulasi. Arga tidak punya hak membawa dokumen internal ke forum kreditor.”
Arga Pratama duduk tenang di kursi yang seharusnya menjadi milik ketua dewan. Punggungnya tegak, tangannya terlipat di atas meja kayu tua yang menyimpan sejarah panjang keluarga. Ia tidak membalas teriakan itu. Ia hanya menatap Dimas dengan tatapan yang membuat sepupunya itu terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
“Kau sudah selesai berteriak, Dimas?” suara Arga rendah, dingin, dan mematikan. “Jika kau sudah selesai, duduklah. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan mengenai aliran dana renovasi dapur yang ternyata mengalir ke rekening pribadimu.”
Ratna Wiryatama, yang duduk di samping Dimas, mencoba bersuara. Wajahnya pucat, sisa-sisa wibawanya luruh setelah kolega elit keluarga berpaling darinya semalam. “Arga, ini urusan keluarga. Jangan dipermalukan di depan orang luar.”
“Urusan keluarga berakhir saat kalian memutuskan untuk menguras aset yang membiayai hidup kalian sendiri,” potong Arga. Ia melirik Siska, yang segera mengetuk layar tabletnya. Proyektor di depan ruangan menyala, menampilkan grafik aliran dana yang tidak bisa dibantah. Itu adalah bukti telanjang dari penggelapan sistematis yang dilakukan Dimas dan Ratna.
Dimas, didorong oleh kepanikan, kehilangan kendali. Ia meraih map audit di meja, mencoba menyobeknya dengan tangan gemetar. “Aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan namaku!”
“Lakukanlah,” tantang Arga tanpa beranjak dari kursinya. “CCTV di sudut ruangan itu sudah merekam setiap tindakanmu sejak kau masuk. Jika kau merusak bukti itu, kau hanya akan menambahkan pasal perusakan barang bukti dalam laporan kepolisian yang sedang disusun di luar.”
Dimas tertegun, tangannya menggantung di udara. Ia baru menyadari bahwa keamanan restoran—orang-orang yang dulu patuh padanya—kini berdiri di sisi Arga, menatapnya dengan pandangan dingin. Ia menoleh ke arah Hendra, pengacara keluarga yang selama ini menjadi tamengnya. Namun, Hendra hanya menunduk, menghindari tatapan Dimas, menyadari bahwa dokumen-dokumen yang ia simpan selama ini tidak lagi cukup untuk menutupi kebenaran.
“Kalian semua pengkhianat!” teriak Dimas, suaranya pecah. Ia mencoba mendorong meja, namun kakinya tersandung kursi sendiri, membuatnya jatuh dengan cara yang paling memalukan di depan para kreditor yang mencatat setiap gerak-geriknya.
Arga tetap tidak bergerak. Ia hanya mengisyaratkan petugas keamanan untuk mendekat. “Bawa dia keluar. Dia sudah tidak layak duduk di meja ini.”
Saat Dimas diseret keluar, ruangan itu menjadi sunyi. Kursi Dimas yang kosong tampak lebih mencolok daripada kehadirannya tadi. Arga memutar pandangannya, menatap sisa anggota dewan yang kini gemetar. Ia tidak butuh suara mereka; ia sudah memiliki kendali penuh atas utang dan masa depan restoran ini.
Arga menoleh ke arah Hendra. “Sekarang, Hendra. Mari kita bicara tentang dokumen-dokumen lama yang kau sembunyikan di brankas pribadimu. Atau kau ingin nasibmu sama dengan Dimas?”
Hendra menelan ludah. Ia tahu, sekali ia membuka mulut, seluruh versi resmi keluarga yang ia bangun selama bertahun-tahun akan runtuh. Dan Arga, dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya, menunggu jawaban itu dengan kesabaran seorang pemangsa.