Novel

Chapter 7: Aliansi yang Retak

Ratna Wiryatama mengalami keruntuhan status sosial secara publik di restoran pusaka keluarga. Arga muncul bukan sebagai beban, melainkan sebagai pengendali utang yang memikat para kolega elit, meninggalkan Ratna dalam isolasi total dan ancaman bukti audit yang akan dipaparkan di rapat dewan esok hari.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Aliansi yang Retak

Restoran Pusaka Wiryatama tidak lagi terasa seperti rumah. Udara di dalam ruang VIP yang biasanya beraroma rempah dan kemewahan, malam ini terasa tipis, nyaris hambar. Ratna Wiryatama duduk di ujung meja kayu jati yang telah menjadi saksi bisu kejayaan keluarganya selama tiga generasi. Jemarinya yang terhias cincin berlian mengetuk permukaan kayu itu dengan ritme yang tidak stabil.

Di depannya, tiga kursi kosong menatapnya dengan mengejek. Direktur Utama Suryani Grup dan pasangan dari konsorsium properti yang dijanjikan hadir malam ini justru mengirimkan pesan singkat: Maaf, ada perubahan agenda. Ratna membaca pesan itu berulang kali, mencari celah untuk menyangkal kenyataan. Di meja sebelah, Bu Lestari dari galeri seni yang dulu paling vokal memuji kelezatan masakan Wiryatama kini memalingkan wajah. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, menghindari kontak mata seolah Ratna adalah wabah yang bisa menularkan kebangkrutan.

“Silakan dicicipi,” suara Ratna terdengar parau. Pelayan restoran, yang biasanya sigap menyajikan hidangan pembuka, justru berdiri kaku di sudut ruangan, matanya menatap lantai. Pak Darma, kepala dapur yang biasanya menjadi pilar loyalitas keluarga, kini berdiri di dekat pintu masuk dengan tangan terlipat, menolak untuk mendekat. Ratna menyadari dengan ngeri bahwa dapur bukan lagi miliknya. Staf yang ia gaji selama puluhan tahun kini melayani perintah yang berbeda.

Suara langkah kaki yang tenang dan terukur memecah keheningan. Arga Pratama melangkah masuk. Ia tidak mengenakan setelan kaku seperti Dimas, melainkan kemeja gelap yang tampak jauh lebih mahal dalam kesederhanaannya. Di belakangnya, Siska Paramita berjalan membawa map kulit yang menyimpan bukti-bukti audit yang akan menghancurkan fondasi keluarga malam ini.

“Acara privat, Arga,” desis Ratna, wajahnya memucat namun matanya menyala dengan sisa-sisa arogansi. “Kamu tidak punya urusan di sini.”

Arga tidak berhenti. Ia justru berjalan menuju meja para kolega elit yang tadi mengabaikan Ratna. Dengan gerakan halus, ia menyapa mereka—bukan sebagai kerabat yang menumpang hidup, melainkan sebagai pemilik utang yang memegang kendali atas aset mereka.

“Saya mengerti jadwal Anda padat,” ucap Arga dengan nada yang membuat para kolega itu berhenti menatap ponsel dan mulai mendengarkan. “Namun, saya rasa Anda perlu tahu bahwa struktur pendanaan restoran ini telah mengalami perubahan besar. Saya di sini bukan untuk jamuan, melainkan untuk memastikan bahwa investasi Anda tidak ikut tenggelam bersama manajemen lama.”

Satu per satu, para kolega elit itu berdiri. Mereka tidak lagi melirik Ratna. Mereka justru mengerumuni Arga, menanyakan stabilitas keuangan yang selama ini disembunyikan oleh Dimas. Ratna berdiri mematung di tengah ruangan, menyaksikan dunianya runtuh. Ia mencoba memotong pembicaraan, namun suaranya tenggelam oleh urgensi bisnis yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh pria yang selama ini mereka anggap beban.

Arga kemudian mendekati Ratna, memberikan sebuah map cokelat tipis. Tidak ada teriakan, tidak ada penghinaan kasar. Hanya kebenaran yang dingin. “Ini bukan ancaman, Ibu. Ini laporan yang seharusnya ada di buku besar tahunan. Aliran dana renovasi dapur yang mengalir ke rekening pribadi Dimas dan biaya gaya hidup Ibu yang tidak tercatat. Besok di ruang dewan, bukti ini akan dipaparkan.”

Ratna gemetar, jemarinya mencengkeram tepi meja. “Keluarga kita punya nama besar, Arga! Kamu tidak bisa menghancurkan Wiryatama begitu saja!”

Arga tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang membuat Ratna merasa lebih kecil dari sebelumnya. “Nama Wiryatama hanyalah dekorasi, Ibu. Dan dekorasi tidak bisa membayar utang.”

Saat Arga berbalik pergi, para kolega yang dulu menunduk pada Ratna justru berebut untuk menjabat tangan Arga. Ratna terpuruk di kursinya, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya. Nama besar, legitimasi, dan kendali—semuanya lenyap. Besok, di ruang dewan, Dimas akan menghadapi badai yang tidak bisa lagi mereka redam. Ia tersungkur, sadar bahwa besok di ruang dewan, ia tidak lagi memiliki perlindungan, sementara Dimas akan segera menyadari bahwa rencana liciknya telah menjadi jerat bagi dirinya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced