Dapur yang Dingin
Asap di dapur utama Rumah Makan Pusaka Wiryatama tidak lagi membawa aroma kaldu yang sabar. Yang naik justru bau minyak murah dan lemak yang dipaksa matang sebelum waktunya. Di depan tungku tembaga yang menghitam, Pak Darma menatap panci sup yang warnanya pucat—sebuah penghinaan bagi resep yang telah menghidupi keluarga ini selama tiga generasi.
Dimas meledak di seberang meja kerja. Ponselnya bergetar tanpa henti; notifikasi ulasan pelanggan yang anjlok dan pesan tagihan dari pemasok yang menahan kiriman memenuhi layar. Wajahnya merah padam. "Bintang dua! Dalam semalam! Kalian masak apa? Pemberat kertas?"
Dimas melangkah mendekat, jarak mereka tinggal satu lengan. "Aku sudah potong biaya bahan baku. Aku sudah tekan semua ongkos. Kenapa rasanya malah seperti limbah kantin?"
Pak Darma mengangkat mata, tenang namun tajam. "Karena resep pusaka tidak hidup dari bahan murahan, Tuan Dimas. Keluarga ini besar karena dapur ini dijaga seperti altar. Kalau kau ganti tulang sapi dengan air rebusan sisa, jangan salahkan kuahnya jika mati rasa."
"Jangan ceramahi aku soal altar," potong Dimas. "Aku yang memegang operasional. Aku yang menutup defisit. Aku yang menghadapi kreditor. Kau cuma juru masak tua yang sentimental pada api."
"Kalau begitu, kenapa justru api yang menolakmu?" balas Pak Darma.
Arga Pratama melangkah masuk dari pintu belakang. Tidak ada teriakan, hanya pria dengan setelan gelap dan map kulit di tangan. Kehadirannya membuat udara di dapur berubah; seperti ada orang yang menarik kursi dari bawah meja, membuat semua orang sadar mereka berdiri di atas fondasi yang rapuh.
"Kau datang untuk menertawakan?" Dimas memutar badan, mencoba mengubah panik menjadi intimidasi. "Lihat saja. Ulasan turun, pemasok menahan barang, dan staf mulai ikut-ikutan berpikir mereka tahu apa yang terjadi."
Arga tidak menanggapi. Ia meletakkan map di meja kayu tua tempat kakek Wiryatama dulu membagi hasil. "Aku datang karena dapur ini belum mati. Tapi di tanganmu, besok hanya tinggal papan nama yang tersisa."
Arga membuka map. Di dalamnya ada salinan pembelian utang dan satu lembar kuasa. Pak Darma mengenali jenis kertas itu—kertas yang tidak dipamerkan, tapi mengubah arah hidup rumah makan. "Utang restoran ini sudah kupindahkan dari kreditor lama," ucap Arga tenang. "Orang yang menahan leher keluarga ini bukan lagi orang luar. Sekarang, aku yang memegangnya."
Dimas membeku. Ia melangkah maju, menekan ujung jari ke dokumen itu, lalu menarik tangannya seolah terbakar. "Ini tidak sah tanpa persetujuan manajemen!"
"Manajemen?" Arga mengangkat alis. "Setelah kau memindahkan dana renovasi ke rekening penampung dan membuat kreditor menagih ke lobi kantor?"
Nama itu jatuh seperti minyak panas. Pegawai dapur mendadak sibuk dengan talenan. Siska Paramita muncul dari ruang administrasi, membawa tablet dengan layar menyala. Wajahnya datar, namun matanya jelas telah memilih sisi.
"Pak Dimas," suara Siska memecah keheningan. "Jalur pembayaran renovasi yang Anda pakai untuk menutup operasional sudah terkunci. Semua transfernya ada. Semua nomor rekeningnya ada. Dan sekarang, bukti ini tidak bisa dihapus lagi."
Siska menggeser layar ke arah Arga, lalu ke arah nama yang paling ingin diselamatkan keluarga: Ratna Wiryatama. "Yang paling rapi justru paling gampang dilacak. Aliran uangnya disamarkan sebagai biaya renovasi, tapi ujungnya masuk ke rekening Ibu Ratna."
Dimas terdiam. Nama ibunya, perisai moral yang selama ini ia gunakan, kini berdiri di layar sebagai noda yang tak bisa dihapus.
Ratna Wiryatama masuk ke dapur dengan langkah yang masih menjaga wibawa, meski ia sudah mendengar kabar buruk itu sebelum tiba. Ia menatap meja, lalu wajah Dimas, lalu Arga. Tidak ada yang menyambutnya dengan hormat.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ratna, suaranya dingin.
Arga membalik satu lembar dokumen. "Menyelesaikan sesuatu yang seharusnya sejak lama ditata benar." Ia menatap Ratna, yang kini menyadari bahwa perempuan itu sudah kehilangan kendali atas Siska dan data yang ia pegang.
"Keluar dari manajemen," perintah Arga kepada Dimas. "Serahkan operasional ke Pak Darma dan tim distribusi baru. Jangan sentuh jalur uang. Besok, di rapat dewan, kau bisa duduk kalau masih punya kursi. Kalau tidak, audit ini akan kubuka ke publik. Termasuk jejak yang mengarah ke Ibu Ratna dan klausul 12.4 yang melarang perpindahan aset tanpa persetujuan mayoritas."
Ratna menegang. Ia tahu arti klausul itu: jaring yang terlalu lama disangka kain meja. Dimas menoleh ke ibunya, menunggu perintah, namun Ratna tidak memberi apa-apa. Ia baru menyadari bahwa nama besar tanpa likuiditas hanyalah dekorasi mahal.
Dua kolega lama keluarga muncul, mencari Arga. Mereka membawa buku catatan pembayaran, bukan lagi untuk Ratna, melainkan untuk memastikan suplai tetap berjalan di bawah kendali Arga. Arga menandatangani dokumen pengalihan utang dengan gerak singkat.
"Mulai malam ini, pembayaran lewat saya," kata Arga kepada para kreditor. "Bahan masuk, kualitas naik, nama kalian aman."
Pak Darma menyalakan kembali api kompor. Nyala biru muncul di bawah tungku tembaga. Arga berdiri di antara api dan meja kayu warisan, tenang seperti orang yang sudah lama tahu kapan waktunya memegang kendali. Di dapur yang dulu melahirkan nama besar keluarga, Arga baru saja membeli utang yang mereka kira sudah aman di tangan orang lain.