Novel

Chapter 12: Pemilik Meja yang Sebenarnya

Arga Pratama mengonsolidasikan kekuasaannya dengan membongkar bukti audit dan keterlibatan Rendra Mahesa di depan para kreditor, secara permanen menyingkirkan Dimas dan Ratna dari kendali keluarga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pemilik Meja yang Sebenarnya

Arga Pratama tidak menoleh saat pintu dapur restoran berderit. Ia sedang menimbang berat bubuk rempah di telapak tangannya, sebuah ritual presisi yang telah ia lakukan sejak sebelum keluarga Wiryatama menganggapnya sebagai beban. Di luar dapur, di ruang makan utama yang dulu menjadi pusat kekuasaan keluarga, suara kursi yang digeser terdengar seperti gesekan pedang.

Ratna Wiryatama berdiri di ambang pintu, napasnya pendek. Wajahnya yang biasanya dipoles dengan wibawa kini tampak pucat, kehilangan kendali atas narasi yang ia bangun selama bertahun-tahun. Di belakangnya, Dimas berdiri dengan bahu merosot, jas mahalnya tampak longgar seolah ia baru saja kehilangan berat badan dalam semalam.

"Rapat kreditor akan dimulai, Arga," suara Ratna bergetar, mencoba mempertahankan otoritas yang sudah hancur. "Jangan mempermalukan keluarga lebih jauh dengan bersembunyi di sini."

Arga meletakkan sendok perak di atas meja marmer. Ia menatap Pak Darma, yang berdiri di sudut dengan kepala tertunduk, menjaga api tetap menyala. Arga mengambil map kulit hitam dari meja kerja—map yang berisi jejak audit yang menghubungkan setiap sen yang dikuras Dimas ke rekening bayangan Rendra Mahesa.

"Keluarga sudah lama tidak ada di meja itu, Ratna," jawab Arga tenang. "Yang ada di sana hanyalah sekumpulan orang yang menjual warisan demi sisa-sisa keuntungan dari taipan yang bahkan tidak menganggap kalian mitra."

Arga melangkah melewati mereka. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena keraguan, melainkan karena bobot dari kebenaran yang ia bawa. Saat ia memasuki ruang makan, suasana mendadak hening. Perwakilan Sentana Grup, yang selama ini menekan keluarga untuk merger paksa, menatap Arga dengan mata menyipit. Mereka mengharapkan seorang pesuruh, namun yang mereka temukan adalah seseorang yang memegang kendali penuh atas aset yang mereka incar.

Arga meletakkan map itu di tengah meja kayu pusaka. Ia tidak berteriak. Ia tidak melakukan drama. Ia hanya membuka dokumen tersebut, membiarkan angka-angka audit berbicara lebih keras daripada ancaman apa pun.

"Klausul 12.4," Arga berkata, suaranya membelah ruangan. "Setiap pemindahan aset tanpa persetujuan mayoritas pemegang saham adalah tindakan kriminal. Dan saya, sebagai pendana utama yang memegang hak veto atas operasional restoran ini, tidak pernah memberikan persetujuan."

Dimas mencoba memotong, wajahnya memerah. "Itu dokumen palsu!"

Arga menatapnya, dingin dan tajam. "Hendra Wibisono sudah menandatangani pengakuan di bawah sumpah. Dia ada di luar, menunggu untuk menyerahkan bukti transfer ke rekening Rendra Mahesa kepada pihak berwajib. Jika kamu ingin berdebat, lakukan di depan penyidik."

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Dimas terduduk, kekuatannya menguap. Ratna memejamkan mata, menyadari bahwa citra yang ia jaga selama puluhan tahun telah runtuh dalam hitungan menit. Para kreditor mulai berbisik, mata mereka beralih dari Dimas ke Arga—seorang pria yang baru saja mengubah peta kekuasaan keluarga Wiryatama.

Arga tidak lagi mencari pengakuan. Ia duduk di kursi utama, kursi yang selama ini dilarang untuknya. Ia menatap jendela besar yang menghadap ke cakrawala Jakarta. Di luar sana, Rendra Mahesa mungkin sedang mengamati, namun Arga tahu satu hal: papan catur ini sekarang miliknya.

Ia telah memenangkan meja ini, namun perang yang lebih besar baru saja dimulai. Di meja yang dulu menolak dirinya, Arga akhirnya mengatur ulang siapa yang duduk, siapa yang membayar, dan siapa yang hanya boleh menyaksikan dari pinggir ruangan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced