Bayangan di Balik Dewan
Ruang dewan Wiryatama masih berbau kopi dingin dan kertas yang baru disalin ketika Arga mengambil alih layar di ujung meja. Kursi yang tadi hendak diseret untuk mengosongkan tempat duduknya kini kembali berdiri rapi, tetapi bukan lagi milik siapa pun yang suka mengangkat suara paling keras. Dimas masih berdiri di sisi meja, jasnya tak lagi tampak mahal; kerah kemejanya melipat di satu sisi, seolah tubuhnya tak sempat mengejar wajahnya sendiri.
Arga tidak bergerak tergesa. Di depannya hanya ada map tipis dan satu ponsel yang layarnya belum padam. Ia menatap Dimas sebentar, lalu bicara seperti orang membacakan sesuatu yang sudah lama ditandatangani tanpa dipahami.
“Kau menyebut buku besar ini salah baca,” katanya. “Padahal yang salah cuma kebiasaanmu menyebut tagihan dapur sebagai renovasi.”
Dimas mengeluarkan tawa pendek yang tidak jadi. “Kau pikir aku akan jatuh karena selembar kertas tua? Semua orang di ruangan ini tahu kau hidup dari nama keluarga. Kau hanya menunggu giliran bicara.”
Arga menggeser satu lembar ke tengah meja. Bukan foto, bukan ancaman, hanya daftar transfer yang rapi: tanggal, nominal, rekening penampung, lalu keterangan proyek yang dipaksakan agar terdengar wajar. Biaya saluran asap. Perbaikan lantai dapur. Pengadaan stainless baru. Semua istilah itu tampak bersih sampai mata orang cukup lama tinggal di angka yang sama.
“Lihat baik-baik,” ujar Arga. “Jejaknya sama dari bulan ke bulan. Nominalnya dipotong agar tidak memancing audit internal, lalu dinaikkan lagi di pos lain. Kau menguras restoran sedikit demi sedikit, lalu pura-pura sibuk menjaga nama baiknya.”
Seorang kreditor di seberang meja mencondongkan tubuh. Cincin emasnya mengenai kaca meja dengan bunyi kecil. Yang lain tidak bicara, tetapi punggung mereka berubah lebih tegak. Di ruang seperti ini, orang tidak butuh teriak untuk tahu siapa yang mulai berbahaya. Cukup melihat siapa yang membuat mereka menghitung ulang risiko.
Ratna, yang duduk rapat di sisi Dimas, menahan napas lebih lama dari seharusnya. Ketika akhirnya bicara, suaranya turun setengah nada, dibuat selembut mungkin agar terdengar seperti nasihat, bukan permohonan.
“Arga, jangan buka semua di sini. Kita masih keluarga. Ini bisa diselesaikan tanpa mempermalukan siapa pun di depan mereka.”
Arga menoleh padanya. Tidak ada kemarahan di wajahnya, justru sesuatu yang lebih tajam: penolakan yang sudah selesai dipertimbangkan.
“Keluarga ini sudah lama mempermalukan dirinya sendiri,” katanya. “Hari ini cuma kebetulan ada saksi yang lebih mahal.”
Ratna menahan bibirnya agar tidak bergetar. Dimas memiringkan dagu, mencoba mengambil kembali udara ruangan dengan cara yang biasa ia pakai: suara lebih keras dari isi kepala.
“Cukup,” katanya. “Aku yang memegang operasional. Kalau ada kekurangan dana minggu ini, ajukan saja kontrak baru. Jangan buat sandiwara untuk memeras kami.”
Kalimat itu adalah pintu yang dibuka sendiri olehnya.
Arga menekan satu nama di ponselnya. Layar besar di dinding ruang dewan menyala, lalu menampilkan notifikasi yang dikirim ke semua akun otorisasi utama.
Penangguhan seluruh akses pendanaan atas nama Dimas Wiryatama, berlaku segera.
Di bawahnya menyusul baris kedua.
Verifikasi ulang seluruh fasilitas korporat oleh penjamin utama.
Tidak ada musik, tidak ada efek. Hanya bunyi kecil dari sistem yang memperbarui status, dan itu cukup untuk membuat ruangan terasa seperti bagian bawah meja ditarik pelan-pelan.
“Mulai sekarang,” kata Arga, “tidak ada satu rupiah pun yang lewat dari jalur yang kau pegang tanpa persetujuanku.”
Dimas menatap layar dengan mata yang tidak segera mau percaya. “Kau tidak bisa memutus itu.”
“Aku sudah melakukannya.”
Arga bicara datar, seperti sedang mengoreksi angka yang salah ditulis staf magang. “Kau hanya belum selesai membaca notifikasinya.”
Salah satu kreditor memiringkan kepala. Yang lain menatap Dimas seolah baru melihat kebiasaannya dengan cahaya yang berbeda. Bukan soal marah; orang-orang seperti itu jarang marah duluan. Mereka lebih suka mengukur apakah seseorang masih bisa membayar, atau sudah mulai berbohong dengan cara yang mahal.
Pintu ruang dewan diketuk sekali, sopan, lalu terbuka. Seorang staf administrasi masuk dengan map biru di dada. Ia berjalan langsung ke sisi Arga, menaruh map itu tanpa menatap Dimas. Tangannya sempat gemetar saat jari-jarinya lepas dari tepi folder.
Di dalam map itu ada pembaruan kontrak internal. Tanda tangan yang bersih. Paraf. Stempel yang selama ini tidak dianggap penting karena orang-orang mengira dapur dan gudang hanya urusan belakang.
Arga membuka map itu, melirik satu halaman, lalu menutupnya kembali.
“Mulai sore ini,” katanya, “kendali operasional pindah. Pak Darma di dapur, Siska di keuangan, dan tim distribusi baru akan menerima instruksi langsung dari saya. Bukan dari meja ini.”
Dimas mendadak menoleh cepat, seperti baru sadar ada pintu lain yang tidak ia kunci. “Kau mengatur mereka di belakang punggungku?”
Arga mengangkat pandangannya. “Mereka bekerja di tempat yang kau kira cuma latar. Kau yang terlalu sibuk memakai nama keluarga untuk menutupi orang-orang yang menjalankan isinya.”
Ponsel Dimas bergetar. Lalu sekali lagi. Dan sekali lagi, lebih cepat.
Nama pemasok. Gudang. Rumah makan. Nomor yang ia kenal dari bulan-bulan ketika semua tagihan bisa ditahan sebentar karena ada dana yang mengalir entah dari mana.
Sekarang aliran itu berhenti.
Arga sudah memindahkan jalur pasokan ke jaringan lain yang ia siapkan lama, diam-diam, tanpa perlu pamer pada orang yang setiap hari mengira dirinya pusat ruangan. Dimas melihat layar ponselnya seperti orang menatap pintu darurat yang tiba-tiba terkunci dari luar.
“Itu nomorku,” katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya menipis. “Kau bicara dengan pemasokku di belakang punggungku?”
“Mereka bukan milikmu.” Arga menyandarkan satu tangan ke meja. “Mereka cuma lelah menunggu orang yang suka membakar uang lalu menghilang saat tagihan datang.”
Kali ini Ratna tidak langsung bicara. Jari-jarinya menekan pinggiran kursi sampai buku-buku tangannya memutih. Ia tahu perhitungan seperti ini lebih mematikan daripada bentakan. Ketika fasilitas diputus, orang tidak bisa pura-pura sedang menang.
“Arga,” katanya akhirnya, kali ini tanpa lapisan manis, “cukup sampai di sini. Jangan tutup semua jalur sekaligus. Kita masih bisa atur pembagiannya.”
Arga menatapnya beberapa detik. Di hadapannya, wajah Ratna bukan lagi wajah ibu keluarga yang menjaga marwah; itu wajah seseorang yang baru sadar alat tekanannya tidak lagi bekerja.
“Batas itu sudah lama kalian langgar,” jawab Arga. “Kalian hanya baru sadar ketika yang kalian anggap tak terbatas mulai ditarik balik.”
Dimas mendorong kursinya ke belakang. Bunyi geseknya melintasi lantai marmer, tajam dan memalukan.
“Kalau kau tutup semua sumber, restoran itu ikut mati,” katanya. “Kau pikir para pemasok akan diam?”
Arga menggeleng kecil. “Itu justru masalahmu. Kau selalu kira ancaman paling keras adalah bunyi paling penting. Padahal yang menutup lehermu hari ini bukan suara. Pembukuan.”
Ia menggeser map kedua ke depan. Bukan untuk memamerkan, melainkan seperti orang menaruh pisau di meja makan dan membiarkan yang lain melihat sisi tajamnya.
“Besok,” kata Arga, dan kali ini ia sengaja menyebut waktu itu dengan jelas, “rapat dewan tetap jalan. Agenda bukan lagi soal mengusir saya. Agenda besok untuk menilai siapa yang selama ini menguras perusahaan lewat dapur, lewat renovasi palsu, dan lewat tagihan yang disembunyikan.”
Di dinding, layar tetap menyala dengan status pembekuan dana. Satu baris notifikasi baru masuk, lalu berhenti. Bahkan sistem seolah menunggu keputusan ruangan ini untuk menyatakan siapa yang masih punya hak bicara.
Siska, di ruang keuangan yang tak ikut masuk rapat, membuka dasbor transaksi untuk memverifikasi penarikan terakhir. Layar menampilkan satu nama yang selama ini sengaja dibuat terlalu besar untuk disentuh. Satu jejak transfer yang tidak bisa dihapus tanpa meninggalkan bekas lebih buruk.
Ia menatapnya lama. Wajahnya tidak berubah, tetapi bahunya turun sedikit, tanda bahwa ia baru melihat bagian dari masalah yang selama ini hanya tercium.
Nama itu bukan Dimas.
Itu nama yang paling ingin diselamatkan keluarga dari aib.
Siska tidak menutup layar. Ia justru menyalin berkasnya ke folder terpisah, lalu menandai jalurnya dengan satu catatan pendek yang hanya ia sendiri bisa baca. Di bawah pencatatan itu, satu fakta menjadi lebih jelas daripada yang lain: bila jejak ini dibuka, keluarga tidak sedang kehilangan wajah. Mereka akan kehilangan penyangga yang selama ini membuat kebusukan mereka tampak sah.
Kembali di ruang dewan, Arga menerima pesan masuk. Ia tidak mengubah ekspresi saat membacanya, tetapi pikirannya berhenti sejenak pada satu hal: ada seseorang di atas Dimas yang kini mulai memperhatikan dengan serius.
Untuk saat ini, itu sudah cukup.
Dimas berdiri di tengah ruangan seperti orang yang baru sadar kursi-kursi di sekelilingnya bukan lagi miliknya. Akses dananya putus. Pemasoknya berpaling. Kreditor mencatat. Ratna kehilangan bahasa yang biasanya dipakai untuk memerintah tanpa terlihat memerintah. Dan Arga, tetap duduk di kursi yang tadi hendak dikosongkan, sudah memindahkan papan permainan ke arah yang lain.
Besok, Dewan Wiryatama tidak akan membahas siapa yang pantas dihormati.
Besok, mereka akan membahas siapa yang layak diseret ke bawah.