Kursi yang Harus Dikosongkan
Cahaya lampu kristal di ruang dewan Wiryatama jatuh tepat pada Arga Pratama, namun pria itu tidak sedikit pun bergeming. Di meja jati panjang yang menjadi saksi bisu kejayaan keluarga selama tiga generasi, Arga sengaja memilih kursi paling ujung—posisi yang biasanya disediakan untuk notulen magang atau asisten rendahan.
“Sepertinya Arga sadar di mana tempatnya yang sebenarnya,” suara Dimas memecah kesunyian, penuh dengan nada merendahkan yang terukur. Ia duduk di kursi utama, menyilangkan kaki dengan angkuh. Di sampingnya, Ratna Wiryatama menatap Arga dengan tatapan sedingin es, seolah-olah Arga adalah noda yang harus segera dibersihkan dari dokumen sejarah keluarga.
Arga hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan sebuah map kulit tua di atas meja, tepat di depan kursinya yang sempit. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ketenangan yang membuat atmosfer ruang dewan mendadak terasa mencekam. “Silakan dimulai, Dimas,” ujar Arga tenang. “Aku sudah tidak sabar melihat bagaimana kalian akan membenarkan agenda hari ini.”
Ratna mendengus, memutar cincin emas di jarinya. “Agendanya sederhana, Arga. Mengingat kontribusimu yang nihil dan aib yang kau bawa pada reputasi restoran pusaka kita, dewan memutuskan untuk mencoret namamu secara permanen dari daftar pemegang saham. Ini adalah formalitas untuk menjaga martabat Wiryatama.”
Dimas menekan tombol interkom, mengunci pintu ruang dewan. Suara dentuman pintu yang tertutup rapat bergema seperti vonis. Di hadapannya, tumpukan map merah menanti tanda tangan. Dua anggota dewan—paman jauh yang tadi malam masih menjilat Dimas di restoran—tampak sudah siap dengan pena di tangan, menunggu aba-aba untuk mengesahkan pengusiran tersebut.
“Karena audit operasional menunjukkan beban keluarga tidak lagi bisa dipertahankan, kita masuk agenda darurat,” Dimas memulai dengan suara datar. “Usul pertama: mencabut hak bicara Arga Pratama dalam rapat ini, lalu menyiapkan surat pengusiran internal agar tidak ada lagi kebocoran keputusan.”
“Satu suara lagi,” bisik Hendra, pengacara keluarga, yang matanya terus melirik jam dinding. “Begitu kuorum tercapai, keputusan pengosongan kursi Arga bisa langsung disahkan.”
Arga menyandarkan punggung. Ia membiarkan mereka menikmati kesombongan itu. Ia membiarkan Dimas percaya bahwa kemenangan sudah di tangan. Saat Dimas memberikan isyarat kepada Hendra untuk menyiapkan palu ketuk, Arga akhirnya berdiri. Gerakannya pelan, namun seluruh ruangan tiba-tiba terdiam.
“Tunggu,” suara Arga memotong udara. Ia membuka map kulit hitam di pangkuannya, mengeluarkan selembar akta tua yang kertasnya sudah menguning namun stempelnya masih tegas. “Sebelum palu itu jatuh, ada satu hal yang lupa kalian periksa dalam akta pendirian perusahaan ini.”
Ratna tertawa sinis. “Klausul lama? Arga, kita tidak sedang membahas sejarah.”
“Klausul 12.4,” potong Arga dingin. Ia membacakan isi dokumen itu dengan suara yang tenang namun menusuk. “Klausul ini secara eksplisit menyatakan bahwa setiap renovasi atau alokasi dana di atas lima ratus juta rupiah wajib melalui persetujuan tertulis dari pemilik modal utama. Dan di sini, tertulis jelas siapa pemiliknya.”
Arga memutar dokumen itu, membiarkan para kreditor dan anggota dewan melihat nama yang tertera di sana. Bukan nama keluarga Wiryatama secara kolektif, melainkan nama Arga Pratama sebagai penjamin utang utama perusahaan.
Keheningan menyergap ruangan itu. Wajah-wajah yang tadi yakin dan penuh ejekan mendadak berubah pucat. Dimas berdiri dengan napas yang mulai tak teratur, tangannya gemetar saat mencoba meraih dokumen di tangan Arga.
“Ini tidak masuk akal,” desis Dimas. “Kau mencuri akses ini dari sistem internal. Ini ilegal!”
Arga menatap Dimas tepat di mata, senyumnya kini menghilang, digantikan oleh tatapan predator yang selama ini ia sembunyikan. “Ilegal, Dimas? Atau justru selama ini kau yang secara sistematis menguras dana restoran dan menyamarkannya sebagai biaya renovasi dapur? Aku punya jejak transaksi lengkap, dan kreditor di ruangan ini baru saja menyadari bahwa selama ini mereka berurusan dengan orang yang salah.”
Arga mengetukkan jarinya di atas meja, memutus akses dana operasional perusahaan secara instan. Kursi yang hendak mereka cabut ternyata justru milik tangan yang membiayai meja itu. Di saat Dimas mencoba merapikan narasi, Arga telah memutus jalur napas finansial mereka, membuat orang-orang yang paling keras bicara tiba-tiba kehilangan ruang gerak.