Novel

Chapter 2: Agenda Darurat yang Terbuka

Arga menolak tekanan pengunduran diri dari Hendra dengan mengungkap pengetahuan tentang klausul hukum yang dilanggar Dimas. Ia mengamankan bukti audit dari Siska dan menemukan bahwa pendanaan keluarga sebenarnya berasal dari jaringan yang ia kendalikan sendiri, menyiapkan panggung untuk pembalikan di rapat dewan besok.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Agenda Darurat yang Terbuka

Ruang kerja pribadi Wiryatama di lantai atas restoran pusaka itu terasa mencekik. Bau kayu jati tua yang dipoles lilin bercampur dengan aroma dupa yang menyengat, kontras dengan dinginnya pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Hendra Wibisono duduk di seberang meja, merapikan tumpukan kertas dengan gerakan yang terlalu tenang. Di atas meja, sebuah dokumen pengunduran diri dari dewan direksi keluarga sudah terbuka, menunggu tanda tangan Arga.

"Ini hanya formalitas, Arga," suara Hendra pelan, nyaris berbisik. "Dewan merasa kehadiranmu tidak lagi memberikan nilai strategis. Mengundurkan diri secara sukarela akan menjaga martabatmu. Setidaknya, kau masih bisa mempertahankan dividen bulananmu."

Arga tidak menyentuh pulpen yang disodorkan. Ia justru bersandar, menatap lurus ke arah Hendra. Di balik ketenangan wajahnya, Arga tengah memutar ulang audit internal yang ia ambil dari server malam sebelumnya. Angka-angka itu tidak berbohong; defisit yang disembunyikan Dimas di balik renovasi dapur restoran adalah lubang hitam yang siap menelan seluruh aset keluarga.

"Dividen?" Arga mengulang kata itu dengan nada datar. "Hendra, kau sudah menjadi pengacara keluarga selama dua dekade. Apakah kau benar-benar percaya bahwa klausul 12.4 dalam akta pendirian perusahaan ini mengizinkan Dimas memindahkan aset operasional ke akun pribadi tanpa persetujuan pemegang saham mayoritas?"

Hendra tertegun. Tangannya yang memegang pulpen sedikit gemetar. "Itu tuduhan serius, Arga. Jangan bermain dengan api."

"Aku tidak sedang bermain, Hendra. Aku sedang membaca kontrak yang kau sendiri tanda tangani sebagai saksi," jawab Arga dingin. Ia bangkit, meninggalkan ruangan tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Hendra yang kini menatap dokumen tersebut seolah-olah itu adalah surat hukuman mati.

Lorong belakang restoran sempit, panas, dan bau minyak lama. Arga baru tiga langkah melewati pintu ayun ketika Dimas mencegatnya, diapit oleh dua orang satpam. "Masih berkeliaran?" suara Dimas terdengar tenang, namun matanya bergetar. "Kupikir setelah dipermalukan tadi, kau tahu tempatmu. Besok jangan datang ke rapat dewan. Kita sudah cukup menanggung malu."

Arga menatap tangan Dimas yang sengaja diletakkan di kusen pintu, mencoba menegaskan dominasi fisik. "Kalau aku tidak datang, siapa yang akan menjelaskan kenapa tagihan pemasok naik dua kali lipat dalam enam minggu?"

Wajah Dimas memucat. Ia memberi isyarat kepada satpam. "Awasi dia 24 jam. Jangan biarkan dia mendekati ruang server atau arsip hukum."

Arga mengabaikan ancaman itu dan melangkah menuju gudang penyimpanan. Di sana, Siska, akuntan internal keluarga, sudah menunggunya dengan tangan gemetar. "Saya dipaksa, Arga," bisiknya tanpa diminta. "Dimas memerintahkan saya memanipulasi buku besar. Ada aliran dana ilegal yang disembunyikan di balik biaya renovasi."

"Berikan salinannya," perintah Arga. Siska menyerahkan sebuah flashdisk kecil. Arga tahu, dengan bukti ini, posisi Dimas di rapat dewan besok bukan lagi soal memimpin, melainkan bertahan dari tuntutan pidana.

Kembali ke kamar tidurnya yang sunyi, Arga menerima pesan terakhir di ponselnya. Sebuah dokumen rahasia terlampir. Saat ia membukanya, napasnya tertahan. Bukan sekadar angka yang dimanipulasi, ini adalah jejak transaksi yang membuktikan bahwa seluruh pendanaan keluarga selama ini bukan berasal dari operasional restoran, melainkan dari pendana bayangan yang ia kenal. Arga bukan sekadar anggota keluarga yang dianggap beban; ia adalah pemilik sah dari ekosistem keuangan yang selama ini menghidupi mereka semua. Sebelum surat pengunduran diri itu sempat ia buang, Arga menyadari bahwa di ruang dewan besok, ia tidak akan datang sebagai pemohon, melainkan sebagai pemilik yang datang untuk menagih haknya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced