Novel

Chapter 1: Meja yang Tidak Pernah Dimiliki

Arga Pratama dipaksa melayani tamu di restoran pusaka keluarganya sebagai bentuk penghinaan publik. Dimas dan Ratna mencoba memaksanya menandatangani surat pengunduran diri dari dewan perusahaan. Arga menolak dengan tenang, menunjukkan bahwa ia memegang bukti audit yang bisa menghancurkan mereka, dan menyadari bahwa restoran tersebut sedang dikuras secara sistematis oleh Dimas.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Meja yang Tidak Pernah Dimiliki

Di Restoran Pusaka Wiryatama, Arga Pratama berdiri di balik meja utama dengan celemek hitam yang terasa seperti seragam narapidana. Di hadapannya, para tamu kehormatan keluarga Wiryatama sedang menikmati hidangan penutup. Arga memegang baki perak, menunggu aba-aba untuk mengisi ulang gelas kristal mereka. Di keluarga ini, martabat diukur dari seberapa jauh seseorang bisa diposisikan sebagai pelayan di depan relasi bisnis.

“Taruh di situ, Arga. Jangan sampai tumpah ke taplak sutra,” ujar Ratna, ibu tirinya, tanpa menoleh. Suaranya dingin, terukur, dan dirancang untuk mempermalukan Arga di depan para kolega. Ratna tidak pernah memanggilnya dengan sebutan yang lebih hangat dari sekadar nama, seolah-olah Arga hanyalah perabot yang sewaktu-waktu bisa dibuang.

Dimas, sepupunya yang duduk di kursi kepala, tertawa kecil. Ia menyesap anggur mahalnya, lalu menatap Arga dengan tatapan merendahkan. “Lihat, Pak Hendra. Arga memang paling berbakat kalau disuruh melakukan pekerjaan kasar. Mungkin memang di sanalah tempatnya, bukan di ruang dewan.”

Para tamu tertawa. Itu adalah tawa yang tajam, jenis tawa yang menghancurkan status sosial seseorang dalam hitungan detik. Arga tetap diam. Ia tidak membela diri, tidak memerah karena marah, dan tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung. Ia hanya meletakkan botol anggur dengan presisi yang nyaris mekanis, lalu mundur ke bayang-bayang.

Setelah para tamu beranjak, ruang privat itu berubah menjadi panggung eksekusi. Pintu kayu jati dikunci. Dimas menggeser sebuah map dokumen tebal ke tengah meja, tepat di depan Arga.

“Sederhana saja, Arga,” ujar Dimas, suaranya kini penuh dengan otoritas palsu. “Keluarga sudah sepakat. Kamu bukan lagi aset, melainkan beban. Rapat dewan besok hanyalah formalitas untuk mencabut hak aksesmu secara permanen. Tanda tangani surat pengunduran diri ini sekarang, atau kami akan memastikan namamu tercatat dengan aib di berita acara.”

Ratna menyesap tehnya, matanya menatap Arga dengan kebencian yang dingin. “Jangan persulit keadaan. Kamu masih punya kehormatan untuk pergi secara sukarela.”

Hendra Wibisono, pengacara keluarga, memegangi pulpen emasnya dengan gelisah. Ia tahu apa yang ada di dalam map itu, dan ia tahu apa yang Arga simpan di balik ketenangannya. Arga melangkah maju, tangannya menyentuh tepian map tersebut. Ia tidak menunjukkan kemarahan; ia justru membalik halaman dokumen itu dengan tenang, jemarinya berhenti pada klausul audit operasional yang terselip di bagian belakang.

“Kalian ingin saya pergi karena saya beban?” Arga bertanya, suaranya datar namun mematikan. “Atau karena kalian takut audit yang saya ajukan besok akan mengungkap ke mana aliran dana renovasi dapur ini sebenarnya pergi?”

Hendra tersedak ludahnya sendiri. Dimas tertegun, senyum sombongnya memudar. Arga tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah menuju dapur, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruang privat.

Di dapur, Pak Darma sedang memoles piring keramik kuno dengan tangan gemetar. Arga mendekat, matanya terkunci pada sebuah piring porselen yang baru saja diletakkan di atas meja saji. Ada retakan halus berbentuk huruf 'Y' di bagian dasar. Itu adalah cacat yang hampir tak terlihat, namun bagi Arga, itu adalah tanda bahaya yang nyata.

“Ini sudah retak, Pak Darma,” ujar Arga pelan. Pak Darma tersentak hingga kain lapnya jatuh. “Tuan Muda, ini... ini piring pusaka. Kalau Ibu Ratna tahu saya menyajikannya dalam kondisi begini, saya bisa dipecat.”

Arga menahan pergelangan tangan pria tua itu. “Bukan piringnya yang jadi masalah, Pak. Perhatikan neraca operasional bulan ini yang Bapak simpan di laci bawah meja. Biaya pemeliharaan yang harusnya dialokasikan ke dapur ini dialihkan ke mana? Dimas tidak hanya menghancurkan saya; dia sedang menguras fondasi restoran ini.”

Arga menatap piring retak itu. Ia menyadari bahwa restoran keluarga ini bukan lagi sekadar warisan, melainkan cangkang kosong yang sedang disedot habis-habisan. Saat tawa Dimas kembali terdengar dari ruang depan, Arga mengenali tanda pertama bahwa restoran keluarga sedang menutupi sesuatu yang jauh lebih besar—dan ia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk meruntuhkan semuanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced